12

154 25 20
                                        

"Woahh, ini rumahnya besar banget!", Syarla mendongkak matanya mengedar memperhatikan interior ruangan yang akan ia dan kedua temannya huni itu, kontrakan yang dua kali lipat besarnya dari pada kontrakan terdahulunya.

"Ini sih bukan kontrakan ini mah rumah sewa!!".


"Gede banget". Anggis ikut berkomentar keduanya sibuk kesana kemari memperhatikan tiap tiap ruangan yang mereka lihat.


Rumah dengan dua tingkat itu, sengaja Rony banyar full untuk 5 tahun, lelaki itu mengusahakan semua finansialnya untuk mencukupi ketiga gadis aneh yang sialnya ia tanggung jawabi itu, sebenarnya bisa saja lelaki itu memilih tidak peduli, namun ketiganya terjerat hal hal yang melanggar hukum karena dirinya, andai saja ia tak memberikan file dokumen kotor para petinggi negara yang di terbitkan oleh Nabila hingga beritanya booming dan viral di mana mana, ia pasti tidak akan repot repot membiayai gadis itu serta dua gadis lain yang kemungkinan akan terseret lebih jauh karena menolong Nabila dari penculikan kemarin.


"Ini beneran kita tinggal disini kak, besar banget rumahnya, buat tiga orang kebesaran deh kayaknya". Nabila tersenyum tak enak, bagaimanapun ia merasa segan dengan semua pemberian ini, baginya ini terlalu jauh dari ekspektasi nya sendiri.


"Gak, ini cukup buat kalian bertiga, nanti gue sama Paul kan pasti bakal sering sering juga kesini, sekalian ada banyak orang yang harus gue kenalin ke lu, rumah ini lebih dari cukup buat kita semua". Rony tersenyum tubuhnya menyender di ujung ruangan dengan kedua tangan yang bersidekap di depan perut, matanya memandang lembut Nabila yang berdiri tak jauh darinya.


Disampingnya Paul berdiri datar, kedua tangannya ia masukan kesaku celana, sejenak lelaki itu mengedarkan pandangannya menilai, lalu menghembuskan nafas pelan, lalu tanpa mengucapkan apapun lelaki itu berlalu keluar tanpa disadari oleh siapapun, mungkin kecuali Rony.


Rony melihat itu, di balik ekor matanyanya yang tajam, ia diam diam memperhatikan gerak gerik Paul yang sedari tadi diam.


"Nab, ada yang harus gue omongin boleh?".


Syarla dan Anggis saling melirik, lalu mengangguk, keduanya tersenyum canggung, "Kalian ngobrol aja dulu, kita mau liat kamar kamar dulu sekalian beres beres barang". Syarla berucap riang seolah sengaja menciptakan jarak agar mereka berdua bisa berbicara lebih leluasa.


"Iya Nab, enjoy aja!". Seru Anggis, tanpa ia sadari Nabila mengusahakan matanya melotot lebar tanda bahwa ia protes.


Hening, kedua gadis itu sudah berlalu pergi menyisakan Nabila dan Rony yang hanya diam, Rony lalu tanpa bersuara melangkah, memberi perintah seolah Nabila harus mengikuti kemana ia melangkah, gadis itu menurut, namun masih mendecak sebal, karena kedua teman barunya baru saja mencuci tangan dengan bersih tanpa dia, buktinya lihat saja ia di tinggalkan berdua dengan orang yang sekarang harus ia waspadai.



Tap, berdiri di halaman belakang Rony diam, Nabila hanya memperhatikan sejenak beberapa tanaman hias yang berada disana, ia mengangguk lucu, merasa puas dengan pemandangan asri yang ia saksikan saat ini.


"Ron, sebenarnya siapa Salma?, apa hubungannya lu sama Salma?". Tanpa basa basi, terdengar frontal tanpa nada formal yang biasanya gadis itu susun, Nabila menodongkan pertanyaannya, matanya kali ini terlihat berkilat tajam, seolah sedang menyelidik siapa sebenarnya lelaki di depannya itu.


Senyum, Rony hanya tersenyum sekilas, telinganya terasa berdenging sesaat, asing dengan panggilan Nabila, yang begitu terdengar berbeda, "Gue-lu heh?". Bisik Rony lirih, sorot matanya masih sama masih memandang lembut seolah ia sedang memperlakukan seseorang dengan sangat istimewanya.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 18, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Raksa Frasa.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang