Nabila menutup pintu kontrakannya, ia menatap empat orang yang kini tengah duduk serius di kursi tamu miliknya, gadis itu perlahan mendekat dan ikut duduk di space kosong dekat Rony.
"Jadi gimana, Salma masih gak bisa di hubungin Nab?". tanya Paul, keempat orang itu yang merupakan Rony, Paul, Anggis dan Syarla.
Dengan perintah Rony, Anggis dan Syarla yang tadinya hendak pulang mau tak mau harus ikut mereka bertiga, dengan dalih Paul akan mengatasi kendaraan para gadis yang terbilang oleh mantan teman baik mereka itu.
"Wait, tunggu tunggu!, siapa Salma, kenapa kita ikut kesini, katanya tadi mau ngurusin kasus tilang motor pink kesayangan gue!". Anggis berteriak lantang, matanya melotot tak mengerti separuh kerasa tertipu dan separuh kecewa, karena motornya gagal kembali ia selamatkan.
Rony diam, ia acuh tak acuh, memandang datar interior ruang tamu kontrakan Nabila yang minimalis, "benar benar minimalis yang sangat mini". Batin Rony mengomentari.
"Kita diskusi dulu, nanti motor kamu saya urus, sekarang tolong sedikit koperatif dan bantu kami sebentar". Paul berucap baku, nadanya tegas, namun pandangannya menatap malas dua wanita yang kemarin baru ia temui, jika penculikan Nabila benar benar terlihat dengan negara, mau tak mau ia harus turun tangan untuk lebih teliti lagi kali ini, sebelum hati nuraninya lah yangenentukan antara kewajibannya sebagai aparat, atau kewajibannya sebagai rakyat yang berbicara.
"Salma gak mungkin bisa di hubungi".
Diam, semua orang diam saat satu kalimat itu terdengar telak dan misterius di telinganya, keempatnya menoleh kearah pemilik suara, menatap Rony penuh pandangan bingung, ingin tahu dan pandangan lain yang tak bisa di jelaskan.
Rony mengangkat tangannya setinggi dada, kala Paul hendak membuka suara, "Gue tau betul dia, sekeras apapun lu cari tau siapa itu Salma, Instasi di belakangnya gak bakal diam untuk biarin lu tau siapa dia". Rony menopang kedua tangannya, menatap keempat orang lainnya dengan tatapan balasan yang datar, tak lagi sehangat dan sekonyol tadi, hanya benar benar datar seolah terkunci dan orang lain tak benar benar tau isi otaknya yang sebenarnya dalam tatapan itu.
"Siapa Salma?". To the point Paul bertanya, matanya menatap nyalang Rony kala sebuah intalasi yang tak ia ketahui di bawa bawa oleh pemuda itu.
"Dulu dia pernah jadi temen gue, sebelum dia berkhianat". Ujar Rony, tangannya mengepal erat, katanya menatap lurus tembok ruangan seolah memflash back apa saja yang pernah ia lalui di masa lalu.
"Okay, kalo begitu gue rubah pertanyaan gue, siapa lu?". Vokal, nada datar yang sama Paul pertanyakan, tak lagi ada bahasa formal yang terselip, seolah keduanya adalah teman lama yang baru berjumpa, melupakan tiga gadis dalam ruangan yang hanya diam dan menyimak pembicaraan keduanya.
Tersenyum, Rony menatap Paul dingin, "Lu akan tau siapa gue?, setelah lu ketahui siapa Salma". Tegas, tak ada kata lagi, suasana diam dan hening, Paul pun tak lagi membuka suaranya, membuat ruangan sedikit mencekam.
"Ekhm, maaf sebelumnya, minum dulu minum dulu, cuaca panas hari ini". Syarla membuat gesture tangan kiri berkipas kipas, sementara tangan kanannya mengambil segelas minuman dingin yang di hidangkan oleh Nabila.
"Eh iya minum minum, makanannya jangan lupa di makan". Canggung Nabila menawarkan, ia tak enak hati dengan suasana ini, bagaimanapun ini salahnya dan semuanya terlihat karenanya, atau memang dari awal seharusnya saja ia tak melanjutkan cita citanya untuk menjadi jurnalis saja, jika akhirnya ternyata membahayakan untuknya dan orang di sekitarnya.
"Nab, kostan lu luas ya, padahal gue kira sempit awalnya". Anggis mencoba berbasa basi santai matanya menatap Nabila penuh harap, supaya bisa menyambut topik yang ia alihkan.
"Iya minimalis banget suka deh". Timpal Syarla mengomentari.
Nabila tersenyum, baru saja ia ingin menyambut keduanya tiba tiba suara berat lainnya masuk dalam telinga "iya minimalis banget bener bener mini". Komentar Rony, wajahnya kembali tengil, seolah lupa bahwa ia baru saja membuat teka teki misterius tadi.
"Besok besok jangan disini lagi, pindah gih, kalian juga, gue cariin kontrakan yang lebih gede lagi". Pinta Rony, seolah ia baru saja mengatakan hal hal enteng untuk ketiga gadis ini.
"Lho ngapain, ini juga cukup, lagian ngapain repot repot kak, Nab udah betah disini". Ujar Nabila, ia buru buru menyela, sebelum Rony dan semua perintahnya mutlak harus ia lakukan.
Anggis dan Syarla juga saling memandang keduanya tergiur dengan tawaran kontrakan itu sebenarnya, mereka berduakan anak rantau, kota dan kemegahannya terlalu memberatkan biaya dari mereka yang berasal jauh dari desa, sama seperti Nabila, kostan keduanya juga seperti ini, bedanya kostan satu di tempati oleh keduanya, bisa dibayangkan seheboh apa keduanya setiap hari berdempet dempetan membagi ruang, belum lagi pinky kesayangan Anggis itu masih tertahan, hilang sudah harta berharga keduanya, apalagi cicilannya nya belum lunas.
Kedua gadis itu saling memandang, lalu menatap Rony yang juga melihat tingkah laku keduanya yang seolah tergiur, " Em, Nab, lu ngerasa bosen gak tinggal sendiri, kayaknya seru deh kalo kita bertiga tinggal barengan". Syarla menatap penuh harap sembari menyatukan kedua tangannya tersenyum canggung.
Nabila diam, ia memandang Paul dan Rony bergantian, menimang nimbang ajakan dan tawaran konyol Rony yang terdengar candaan di telinganya, "serius, emang harus ya pindah?, gue sih seneng seneng aja punya temen baru, tapi kok kesannya kaya buru buru". Ucap Nabila mengutarakan keresahan hatinya ia menatap orang orang itu, lalu mendesah kasar "haft".
"Tawaran Rony masuk akal, tempat ini emang gak aman lagi, Nabila hampir jadi korban penculikan di sekitar wilayah sini, gak menutup kemungkinan orang orang itu bakal kesini lagi dan berbuat hal yang gak bisa kita pikirkan". Paul menatap keresahan Nabila dengan santai, namun nalurinya membenarkan opini Rony yang terdengar asal.
"Ya, ini yang sebenernya ingin gue ungkapin dari awal, Nabila dan kedua gadis ini gak aman, ketiga orang tadi akan kembali keatasaanya dan melaporkan kegagalananya, gak menutup kemungkinan mereka bakal kembali dan dua gadis ini terlibat". Diam, semuanya seolah baru tersadarkan, Rony dua kali mukul telak keheningan di ruang tamu ini, ketiga gadis itu membenarkan dengan perasaan was was, namun Paul, lelaki itu satu satunya yang menatap dingin sekaligus penuh tanya tentang siapa Rony sebenarnya?.
"Ya, ini bener bener bahaya yang datang ngikutin, Syar, pingky gue belum lepas datang lagi masalah lain!". Histeris Anggis penuh drama, ia menatap Nabila dan Syarla penuh harap semoga keduanya mengiyakan tawaran Rony setidaknya ia mendapat tiga keuntungan jika menerima tawaran lelaki itu, pertama ia akan pindah kost lebih luas dan punya dua orang teman, lalu kedua ia tak harus pusing memikirkan pengeluaran biaya kost atau kontrakan, karena Rony yang akan menanggung penuh semuanya, dan ketiga pinky kesayangannya sudah di janjikan akan bebas, ya ia yakin polisi jangkung yang menilangnya itu pasti akan membebaskan pingkynya.
"Hah". Nabila mendesah berat lalu menatap yang lainnya, "oke kali ini lagi lagi gue setuju sama keputusan masuk akal ini kak".
"Kapan kita bertiga bisa pindah?". Tanya Nabila.
______________________
HALLOOOOWWW!!!!
APA KABAR SEMUANYAAAA,
SETELAH HAMPIR SATU TAHUN INI, AUTHOR KEMBALIIIIII....
Masih ada yang nungguin cerita ini??, mohon maaf untuk yang nungguin cerita ini hampir satu tahun. Dan terima kasih untuk terus nunggu cerita ini untuk author teruskan.
SEMUANYAAAA!!!! HAPPY READING!!🧡🧡🧡
