13

168 29 18
                                        

"Mohon maaf Pak, saya tidak bisa.."

"Apa susahnya? Toh semua ini juga untuk kemajuan Desa ini.."

"Kemajuan bagaimana? Kalau masyarakat tak dilibatkan? Dalam proposal ini saja sudah jelas, bahwa pekerja semua datang dari luar".

Tama yang hendak pergi ke pantry tak sengaja mendengar percakapan Ayahnya dengan seseorang yang tak dia kenal.

Ruangan Kepala Desa terpisah dari meja-meja kader yang lain, ruangannya berada di ujung.

Buru-buru Tama melanjutkan geraknya, dari ujung mata dalam diamnya, dia perhatikan gerak gerik seseorang itu. Suara tergesa dan penuh amarah bisa dia rasakan.

Seharian Tama akan habiskan waktunya di kantor Desa. Pemilihan umum Kepala Daerah akan segera dilaksanakan, banyak hal yang harus dia persiapkan.

Suara sendok yang beradu dengan cangkir berisi kopi panas membawa pikiran Tama semakin jauh, apa yang sedang terjadi pikirnya, apa selama ini dia hanya anak bau kencur yang tak tau apa-apa?

Ntah keberanian dari mana, satu cangkir kopi panas yang seharusnya untuk diri sendiri tapi dia bawa ke ruangan Ayahnya.

"Wihh.. Ada apa ini, bikinin Bapak Kopi.." Kata Pak Dawan sumringah. Tama hanya tersenyum menimpalinya.

Satu sesap kopi panas mampu menyegarkan seisi ruang dalam otak Pak Dawan, dia lirik anak semata wayangnya itu.

"Kenapa?" Kata Pak Dawan, kali ini lebih serius. "Ada yang mau kamu bicarakan?" Katanya lagi.

Tama menggeleng. Dia sandarkan kepalanya pada kursi. Tatapannya dia taruh pada tanaman-tanaman hijau yang bisa dilihat dibalik kaca ruangan Pak Dawan.

"Pak... " Tiba-tiba pikirannya mengingat ucapan Sasya kemarin sore, dia mungkin tak mengerti apa-apa, tapi perasaanya berkata kalau semuanya ada hubungannya dengan seseorang yang baru saja menemui Ayahnya.

"Bapak percaya sama Tama kan?"

Pak Dawan yang sibuk dengan lembaran surat kerja jadi melepaskan kacamata bacanya.

"Tentu. Kalau bapak ga percaya kamu, bapak ga akan jadiin kamu sekretaris Desa.."

Tama tersenyum lagi. Hubungan Ayah dan Anak laki-laki selalu saja memliki cerita tersendiri, walau mungkin seorang Ayah akan lebih keras pada anak laki-laki tapi percayalah itu semua dilakukan demi masa depan anaknya.

Pak Dawan sendiri selalu mengajarkan Tama tentang bagaimana menjadi laki-laki. Bahwa laki-laki harus bertanggung jawab, bahwa laki-laki harus bekerja sepanjang umurnya.

Tapi Pak Dawan selalu menekankan pada Tama. Bahwa laki-laki bisa salah, bahwa laki-laki tak harus selalu kuat.

"Apa bapak ada masalah?"

Diluar dugaan, Pak Dawan pikir Tama akan bercerita tentang keresahannya, tapi anak tunggal nya ini memang benar-benar sangat paham kondisi orang tuanya.

Percuma saja pikirnya menyembunyikan pada Tama. Anaknya sudah cukup dewasa dan berperan penting juga dalam Desa. Dengan tarikan nafas Pak Dawan kembali mengingat dan menceritakan pada Tama apa yang sedang terjadi.

Tiga bulan lalu, Kepala Desa dari Desa sebelah menawarkan kerjasama untuk membangun Desa. Pak Basri namanya dia sudah menjabat sebagai Kepala Desa tiga periode berturut-turut.

Katanya, ada investor yang akan membangun Desa ini besar-besaran.

Mendengar kabar baik tentu Pak Dawan menyambutnya dengan suka cita. Awalnya dia pikir ini akan menjadi lapangan pekerjaan untuk warga Desa.

GARIS RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang