14

340 36 21
                                        

Gara-gara Sasya, Tama harus mencuci mukanya. Sipelaku terus tersenyum disebelahnya sedang mencuci tangan dan kakinya juga.

Di tengah suara gemricik air kran, Juan datang mendekat pada Sasya dan Tama, ditangannya terdapat satu kantong kresek donat yang hanya bisa dibeli di kota.

"Sya.. Tadi Pak Fajar kesini bawa ini.."

"Loh kok ga ketemu aku?" Kata Sasya, tangan dan kaki nya sudah kembali bersih.

"Buru-buru, katanya cuma lewat mau nengok Lyvia. Cuma titip makanan aja buat kamu..."

Lyvia sendiri sama seperti Sasya, mahasiswi yang tergabung dalam binaan Pak Fajar. Desa yang ditempati Lyvia memang tak jauh dari Desa yang ditinggali Sasya.

"Curang banget deh Pak Fajar, Lyvia ditengok terus, kok aku engga..."

"Kan ada Aku.."

Memang benar, setelah Juan membantu Sasya disini, Pak Fajar tidak lagi mengunjungi Sasya, semua laporan pengabdian Sasya laporkan pada Juan. Sebenarnya hal ini jadi lebih mudah untuk Sasya. Juan juga sering membantu nya untuk membuatkan laporan.

Walau pengabdian ini tidak termasuk agenda belajar—mengajar, tapi tetap saja program ini dijadikan sebagai ajang unjuk diri. Keterampilan dan kerja mandiri mahasiswa dalam menetapkan ilmu akan tetap dipertaruhkan disini.

Ntah harus dianggap kemudahan atau olok—olok karna untuk menyelesaikan permasalahan di desa ini, Sasya masih membutuhkan bantuan dari Juan.

Sasya awalnya benar-benar tidak enak kalau Juan harus diberatkan oleh tugasnya. Tapi setelah Juan mengatakan kalau dia juga ingin mencari inspirasi untuk menemukan judul skripsinya. Dan juga dia ditawarkan nilai yang baik oleh Pak Fajar jika berhasil membantu mensukseskan program Sasya.

Sasya rasa dia dan Juan saling menguntungkan satu sama lain.

Tama menggulung celana nya, dia perhatikan air kran yang mulai memenuhi ember kecil dibawah nya.

Hatinya mulai memanas, rasanya tak cukup air pada ember untuk meredakan rasa terbakarnya. Dengan kesal dia bawa air pada ember itu.

Sasya dan Juan masih berbincang tak jauh dari nya, ntah bisikan dari mana, dengan sadar dia berpura-pura terjatuh.

Sasya benar-benar kaget, dengan reflek menghindar. "Tama?!"

"Aduh!!" Kata Tama, tubuhnya menelungkup menghadap tanah, air pada ember itu berceceran membasahi tanah dan Juan.

Juan yang masih berdiri hanya bisa memejamkan matanya, tubuhnya benar-benar basah kuyup. Sialan pikirnya, dia kepalkan tangannya, dia yakin Tama melakukannya dengan sengaja.

"Kamu gapapa?" Kata Sasya, wajahnya terlihat panik, dia bangunkan Tama dengan uluran tangannya, membersihkan celana dan baju Tama yang akhirnya benar-benar kotor oleh tanah.

Tama menggeleng wajahnya dibuat meringis, padahal dalam hatinya dia tertawa melihat Juan yang basah kuyup.

"Ekhem... "

Suara deheman dari Juan mengehentikan aktifitas Sasya pada Tama. Dia baru sadar kalau Juan basah kuyup.

"Ka Juan..." Kata Sasya, dahinya mengerut dia benar-benar tidak enak, mau bagaimanapun Juan ini tetaplah kaka tingkat yang harus dia hormati.

"Aku ambilin handuk dulu ya Ka.." Kata Sasya yang dijawab anggukan oleh Juan.

Sepeninggalan Sasya, Tama menatap remeh pada Juan. Saat Juan balik menatapnya seketika wajahnya berubah seolah merasa bersalah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 18, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GARIS RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang