12

157 40 8
                                        

Hari berganti minggu hingga bertemu bulan-bulan yang mampu dia lewati. Tak terasa pikirnya enam bulan sudah dia lalui. Suka—duka dia telan sendiri sampai perut terasa kembung.

Panen pertamanya gagal, dia benar-benar merasa bersalah, banyak harapan yang ditaruh dipundaknya. Dia sudah berusaha dan sangat optimis akan panen itu, tapi diluar ekspektasi nya, padi malah tak berhasil tumbuh. Ntah dia yang tidak cermat dalam mengolah tanah, atau salah memberi pupuk atau ada faktor lain, sampai saat ini dia pun tak mengerti kenapa panen nya bisa gagal.

Dia tidak ingin putus asa. Dia coba lagi sampai semuanya membuahkan hasil yang manis.

Langit masih gelap, pagi buta dia sudah berada di sawah. Mengenakan kaos lengan panjang yang dia padu padankan dengan jaket bomber berwarna hitam.

Jalanan di ladang cukup sulit dilalui, hujan semalam membuat tanah menjadi licin. Beruntung dia menggunakan sepatu boots.

Lampu sorot yang dibawa mampu menampilkan tangkai tanaman padi yang meruduk.

Dia kembali bergerak dari ujung ladang ke ladang lainnya, langkahnya terhenti,
dia samakan tubuhnya dengan tinggi padi, senyumnya melebar saat dirasa butir-butir gabah mengeras. Warna padi pun sudah 95% berwarna kuning keemasan, padi siap dipanen.

Ditengah rasa optimis nya akan panen kali ini tiba-tiba matanya menangkap sosok yang sedang berada di tengah-tengah ladangnya. Seseorang itu seperti menyebarkan sesuatu dari kantong kresek yang dibawa.

"Hey!! Sedang apa kamu?!" Suara Sasya berteriak, langkahnya tergesa menghampiri.

Seseorang itu benar-benar mencurigakan. yang sadar akan hadirnya Sasya, terlihat terburu-buru pergi berlari hingga hilang ditelan gelap nya sawah.

Sasya berdecak sendiri, mau tak —mau dia membiarkan sosok itu pergi. Tak mungkin jika dia harus mengerjarnya sendiri, nyalinya tidak setinggi itu.

Kantong kresek yang diketahui milik seseorang itu tertinggal. Dengan perasaan was-was dia buka.

"Ihh—" Sontak dia buang kantong kresek itu.

"Apa itu??" Tanyanya sendiri.

Hampir tersungkur karna kaget, satu kantong kresek berisi penuh serangga membuatnya merinding. Serangga kecil yang memiliki sayap menumpuk menjadi satu kesatuan benar-benar membuat tubuhnya seketika gatal.

"Sasyaa...."

Dia yang dipanggil sontak menoleh menerima uluran tangan dari Juan untuk bangun dari posisinya yang hampir duduk di tanah basah.

"Makasih ka.." Kata Sasya.

Sudah tiga bulan Juan berada di desa ini bersama Sasya. Proyek Sasya belum membuahkan hasil, membuat pihak kampus meminta Juan untuk membantu Sasya.

Hal ini sebenarnya membuat Sasya malu, dibanding teman-temannya yang lain, dia benar-benar tertinggal. Dia cukup terbantu akan hadirnya Juan disini.

Kantong kresek hitam itu Juan ambil. Sasya masih bergidik sendiri jika memingat bentuk serangga yang berada didalam kantong kresek.

"Serangga Wareng.." Kata Juan masih
memperhatikan kantong kresek.

"Ha?"

"Ini hama padi.." Kata Juan lagi, "Siapa yang taruh ini?"

Sasya menggeleng "Aku gatau ka, tadi dia kabur.." Jawab Sasya

"Ini bahaya banget, dia bisa merusak padi.. "

Serangga berwarna hijau dengan beberapa corak hitam pada ujung sayapnya memang sangat membahayakan untuk padi. Serangga itu akan menyebarkan virus penyebab tungro. Salah satu penyakit yang membahayakan kesehatan padi.

GARIS RASATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang