bab 31 memperbaiki

1.7K 172 2
                                        

Keesokan paginya

Pagi itu sinar matahari menerobos masuk melewati sela-sela tirai kamar tamu membangunkan daniel yang masih tampak lelah. Ia menghela napas panjang dan membuangnya perlahan, beranjak dari kasur nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membuang rasa kantuknya dengan mencuci muka

Setelah itu pergilah daniel ke dapur. Ia menyiapkan segala bahan makanan untuk membuat bubur kesukaan indah

Sementara itu didalam kamar indah terbangun oleh suara berisik dari peralatan yang daniel gunakan di dapur

Indah menarik napas dalam, mengucek-ngucek matanya, lalu melirik ke arah jam di meja samping tempat tidur

''Mas Daniel ngapain pagi-pagi'' Gumaman Indah terdengar samar saat ia berusaha bangkit dari kasur, berniat mengecek apa yang sedang dikerjakan Daniel. Namun, ketika pintu kamar sudah terbuka, ia mengurungkan niatnya. Dengan setengah hati, ia memutuskan untuk acuh dan kembali ke tempat tidur, berusaha mengabaikan suara-suara dari dapur."

Kembali lagi pada Daniel yang sibuk merias bubur yang ia buat untuk Indah, memastikan setiap detailnya sempurna dengan potongan ayam suwir, bawang goreng, dan daun seledri yang ditata rapi. Tak lupa ia membuatkan susu ibu hamil untuk indah juga

Setelah semuanya terlihat memuaskan bagi Daniel, ia dengan hati-hati membawa nampan berisi bubur itu ke kamar, berniat memberikannya pada Indah dengan senyum penuh harap

Tok

Tok

Tok

''Ndah, Saya boleh masuk?'' daniel yang tampak ragu

''Masuk aja'' jawab indah yang membuat daniel semakin senang

''Saya buatkan bubur kesukaan kamu, Ndah, dan susu ibu hamil juga" ucap Daniel sambil tersenyum, berharap Indah suka dengan apa yang sudah disiapkannya

Dengan hati-hati daniel meletakkan nampan tadi diatas nakas. Daniel mengambil mangkuk bubur itu dengan niat menyuapi Indah, sambil tersenyum lembut menatapnya

''Ngapain?'' tanya indah

''Saya suapin'' jawab daniel

''Engga aku bisa sendiri'' jawab indah lalu mencoba untuk mengambil sendok nya dari tangan daniel

Namun dengan cepat daniel menjauhkan sendok nya

''Tidak usah keras kepala, saya saja yang suapin'' daniel yang kini menatap Indah serius, dengan terpaksa indah menuruti nya dan Daniel tersenyum lebar, merasa seolah-olah menang

Lalu, Daniel dengan hati-hati menyuapkan bubur ke mulut Indah, sambil terus tersenyum. Indah hanya bisa menghela napas pelan, tapi ia merasa bahagia karena perhatian Daniel yang begitu besar padanya. "Makasih, Mas," ucapnya pelan karena merasa malu, dan Daniel hanya mengangguk, masih dengan senyum puas di wajahnya

Daniel mengambil mangkuk bubur dan gelas susu kosong dari nakas, lalu bangkit berniat turun ke bawah untuk mencucinya. Saat ia sampai di depan pintu, suara lembut Indah menghentikan langkahnya

"Makasih ya Mas, Maaf soal kemarin" ucapnya pelan

Daniel tidak menjawab. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya tanpa sedikit pun melirik ke arah Indah. Ia melanjutkan langkahnya, membiarkan indah sendiri didalam kamar

Entah apa yang terjadi pada Daniel saat ini. Ia mencuci mangkuk bekas bubur tadi sambil tersenyum malu. Kata-kata Indah yang baru saja terucap terus terngiang di kepalanya, sederhana, tapi mampu membuat hatinya melayang tinggi

Senyumnya terus merekah tanpa bisa ia kendalikan. Tangannya yang sibuk mencuci mulai melambat, pikirannya kembali memutar momen singkat di depan pintu tadi. Ia mengingat jelas bagaimana suara Indah terdengar begitu lembut, dan caranya mengucapkan "maaf" seolah membawa perasaan yang tak biasa

Daniel menggeleng pelan, mencoba menyadarkan dirinya sendiri. "Astaga, ada apa dengan saya" gumamnya sambil terkekeh kecil, merasa geli dengan reaksi berlebihan yang ia rasakan. Namun meski sudah berusaha meredakan debar jantungnya, senyum itu tetap tak mau hilang dari wajahnya. Sungguh perasaan yang aneh

Di dalam kamar, Indah duduk bersandar di tepi ranjang dengan tatapan kosong yang tertuju pada tv yang tidak menyala. Suasana hening, hanya terdengar detak jam yang terasa lebih lambat dari biasanya. Tangannya yang masih memegang selimut perlahan meremas kain itu, seolah mencoba meredakan debaran di dadanya sendiri

Ia mengembuskan napas pelan, matanya sedikit menyipit seolah menyesali keberanian spontan yang tadi keluar dari mulutnya. "Kenapa sih aku ngomong gitu?" bisiknya pada diri sendiri, merasa jijik pada caranya berterima kasih

Pipi Indah mulai memanas saat ia mengingat kembali senyum kecil Daniel meski ia tak menatap langsung, senyum itu terasa cukup jelas. Dan justru karena itu, rasa malu semakin menggulung pikirannya. Ia memeluk lutut, menyandarkan dagu di atasnya, lalu membiarkan dirinya tersenyum kecil di balik segala kegelisahan yang menggantung dihatinya

Setelah menyelesaikan dengan cuciannya, Daniel berjalan perlahan menuju ruang keluarga. Ia melihat ke luar jendela, menikmati sisa pagi yang mulai hangat. Ia menyalakan TV agar tidak bosan

Sementara itu, Indah memutuskan untuk turun. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih santai, mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa segalanya baik-baik saja. Saat sampai di bawah, matanya langsung tertuju pada sosok Daniel yang duduk bersandar di sofa, sibuk memainkan saluran TV yang entah ia tonton atau tidak

Tanpa banyak bicara, Indah berjalan menuju dapur, menuangkan air dingin ke dalam gelas, lalu membawanya ke ruang keluarga. Ia duduk di sisi Daniel, tapi ada sedikit jarak yang di antara mereka, ruang kosong yang seolah menjadi benteng kecil. Indah sedikut meminum airnya, canggung dengan situasi yang entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sesekali, matanya mencuri pandang ke arah Daniel, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya ke layar TV.

"Mau ganti channel?" kata Daniel tiba-tiba, memecah suasana dengan nada santai

Indah menoleh, sedikit terkejut. "Em boleh"

"Nih, kamu pindahin sendiri aja, Cari channel yang kamu suka" ucap Daniel dengan tersenyum memberikan remote nya pada indah

Indah mengambil remote nya dari tangan daniel, matanya berbinar "Aku nonton drakor gapapa kan mas?"

Daniel menoleh, tersenyum sambil menatap Indah "Boleh, tapi ada syaratnya" ucapnya dengan nada menggoda

Indah mengerutkan kening, bingung dengan apa yang dimaksud "Apa?" tanyanya

Daniel menepuk-nepuk bahunya, memberi isyarat agar Indah bersandar. "Ini syaratnya" ujarnya dengan santai

Indah sempat terdiam, lalu matanya menangkap isyarat itu. Setelah sedikit ragu, ia tersenyum, lalu perlahan bersandar di bahu Daniel, merasa tenang dengan kedekatan itu

Setelah menemukan drama favoritnya, Indah pun kini merasa nyaman berada di sandaran Daniel

"Mas" panggil Indah pelan, sedikit ragu

Daniel hanya menjawab dengan deheman

"Maafin aku yang kemarin ya, Mas" ucap Indah, masih merasa bersalah atas kejadian sebelumnya

Daniel menghela napas pelan "Gak usah minta maaf, seharusnya saya yang minta maaf karena gak bisa ngertiin kamu" jawabnya dengan suara rendah

Indah terdiam sejenak, lalu mendengar suara Daniel lagi "Maafin saya ya, Ndah"

Indah menunduk sedikit, hatinya berdebar. Namun, sebelum bisa berkata-kata, Daniel melanjutkan dengan suara yang lebih lembut "Saya sayang kamu, Indah."

Kata-kata itu membuat jantung Indah berdebar kencang, namun ia mencoba menahannya dan kembali fokus pada drama di layar, meski senyum kecil tak bisa ia sembunyikan




Lanjut besok, sama double up juga kok
Bye....

Married to a Young WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang