epilog

1.4K 131 1
                                        

Dua Puluh Tahun Kemudian

Senja menuruni langit dengan warna keemasan yang lembut. Di balkon rumah tua yang kini penuh kenangan, Leo dan Erine berdiri berdampingan, menatap langit yang memerah. Angin sore menyentuh pipi mereka, membawa aroma bunga dan harapan baru.

''Besok kita nikah...'' gumam Erine pelan, seperti belum percaya.

Leo menoleh, menggenggam tangan Erine dengan lembut. ''Yang aku nggak nyangka... bisa nemuin kamu. Di dunia segede ini, ternyata cukup satu pertemuan buat seluruh arah hidupku berubah''

Erine tertawa pelan. ''Kamu tuh... romantisnya nggak nahan''

Leo memandang matanya dalam. ''Aku cuma jujur. Aku nggak sabar bangun pagi dan lihat kamu duluan. Bukan seminggu. Tapi seumur hidup''

Diam. Hanya detak jantung yang terdengar dalam sunyi senja.

''Janji ya?'' bisik Erine. ''Nggak akan berhenti bikin aku merasa dicintai?''

''Janji'' jawab Leo. ''Sampai rambut kita ubanan. Bahkan kalau nanti kita lupa nama masing-masing... perasaan ini nggak bakal lupa''

~*****~

Keesokan harinya, taman belakang berubah jadi surga kecil. Lampu-lampu gantung berkelap-kelip di atas meja makan, bunga putih menjuntai dari setiap sudut, dan musik akustik mengalun pelan di udara sore. Hari itu, Leo dan Erine menikah.

Indah, berdiri di samping suaminya, tak kuasa menahan senyum dan air mata. Dalam genggaman tangan yang dulu lelah menjaga Riby di ruang inkubator, kini ada ketenangan. Anak-anaknya tumbuh, dan mereka memilih cinta dengan cara mereka sendiri.

Riby naik ke panggung dengan gaun sederhana dan senyum yang penuh kebanggaan.

''Kak Leo itu bukan cuma kakak buatku. Dia sahabat pertama yang ngajarin aku gimana caranya kuat. Hari ini dia nikah sama perempuan luar biasa, dan aku yakin mereka akan jadi pasangan paling konyol dan paling kompak sedunia''

Tawa dan tepuk tangan mengisi udara. Leo tersipu, Erine menangis sambil tertawa.

~*****~

Malam itu, setelah semua tamu pulang, keluarga kecil itu duduk melingkar di halaman. Api unggun kecil menyala di tengah-tengah mereka, memantulkan cahaya hangat di wajah yang kelelahan tapi bahagia.

Indah menggenggam tangan suaminya, menatap anak-anaknya yang kini bukan anak-anak lagi. ''Dulu kita pernah ngelewatin masa sulit'' katanya pelan. ''Tapi lihat sekarang... kita tetap di sini. Bareng-bareng''

Sang ayah mencium punggung tangan Indah. ''Kamu yang bikin kita bertahan. Keluarga ini kuat karena kamu''

Riby, yang duduk bersila sambil memeluk bantal kecil, tersenyum. ''Dan karena kita nggak nyerah. Sekarang aku siap kuliah, Kak Leo udah nikah... siapa sangka ya?''

Mereka saling berpandangan. Tak perlu kata-kata. Malam itu milik mereka-keluarga kecil yang pernah diuji waktu, tapi akhirnya tetap jadi rumah satu sama lain.

~*****~

Rumah Itu Masih Sama, Tapi Cerita Sudah Berubah

Rumah itu tak besar, tapi hangat. Catnya sudah sedikit pudar, tapi senyum di dalamnya tak pernah luntur. Dinding-dindingnya penuh foto dari bayi Riby di inkubator, hingga potret pre-wedding Leo dan Erine, tertempel di sela-sela rak buku yang masih ditata rapi oleh ayah setiap minggu.

Di dapur, aroma roti panggang dan kopi hitam selalu jadi penanda pagi. Indah kini senang memasak sambil memutar lagu-lagu lama yang dulu ia dengarkan saat begadang di rumah sakit. Ia tak lagi tergesa-gesa seperti dulu. Waktu kini terasa lebih lembut, karena ia tahu: semua sudah baik-baik saja.

Riby duduk di meja belajar di dekat jendela. Di tangannya, ada berkas beasiswa luar negeri. Mimpinya besar ia ingin jadi dokter anak, membantu bayi-bayi prematur sepertinya dulu.

"Aku mau bantu orang tua kayak Mama dulu. Yang berdiri di lorong rumah sakit sambil nahan nangis, sambil berdoa," katanya suatu pagi sambil menyusun buku.

Indah menatapnya dengan bangga, lalu mencium keningnya. ''Kalau kamu bisa mimpi setinggi itu, Mama akan jadi sayapnya''

Leo dan Erine kini tinggal di rumah kecil tak jauh dari sana. Mereka sering mampir bawa makanan, atau sekadar duduk di teras sambil bercanda. Kadang, mereka datang tengah malam hanya untuk bercerita tentang resep gagal atau kelakuan lucu tetangga.

Malam-malam keluarga masih hangat. Terkadang hanya diisi diam, terkadang penuh tawa. Tapi semuanya mengikat menguatkan bahwa setelah luka, selalu ada cinta yang menyembuhkan.

Dua minggu sebelum keberangkatan Riby ke luar negeri, rumah kembali riuh bukan oleh tawa, tapi oleh perdebatan kecil.

''Apa nggak bisa kuliahnya di sini aja?'' tanya Daniel, sedikit tegang. ''Dekat rumah, dekat Mommy, papa...''

Riby menunduk. ''papa... ini impian Riby. Dari dulu, dari waktu Riby masih pakai selang di hidung''

Indah berdiri di tengah-tengah. Matanya berpindah dari suaminya ke anak perempuannya.

''Kamu tahu kan, kami sayang kamu, bukan karena kamu 'pernah hampir pergi'. Tapi karena kamu sekarang ada di sini, tumbuh, hidup... dan mau terbang'' ucap Indah pelan sambil menyentuh bahu Riby. ''papa cuma takut kehilangan''

Daniel menatap Indah, lalu menoleh ke Riby. Wajahnya melembut, suara seraknya nyaris tak terdengar.

''Kalau kamu udah yakin... papa cuma minta satu hal''

''Apa?''

''Kalau kamu rindu... pulang''

Riby tersenyum. Ia melangkah dan memeluk papanya erat, seolah semua luka masa lalu juga ikut memeluk kembali.

Satu Tahun Kemudian

Meja makan lebih sepi, tapi tidak kosong. Di layar tablet di tengah meja, wajah Riby muncul sambil tertawa lebar dari ruang asrama yang jauh.

''Eh, Kak Leo mana? Mau pamer nilai!'' katanya sambil mengangkat sertifikat.

''Masih sibuk gendong bayi'' jawab Erine dari kursi seberang, sambil menyuapi anak pertamanya yang baru berusia 6 bulan.

Indah menatap layar itu dengan senyum lebar. Di sampingnya, sang ayah diam-diam mengusap sudut mata, pura-pura ngelap meja.

''Kamu udah jauh'' gumamnya pelan, ''tapi rasanya kamu nggak pernah benar-benar pergi''

Di rumah itu, cinta terus tumbuh-meski ruang-ruangnya perlahan berubah. Karena bagi mereka, rumah bukan cuma tembok dan atap... tapi tempat di mana cinta selalu siap menyambut pulang.

''Papa riby rindu sekali dengan papa'' wajah daniel terlihat sedih ia pun sama rindunya

''Lusa riby pulang...'' ucapnya mengejukan semua

Daniel sontak menyimpan lap tadi ia pakai untuk mengelap meja lalu fokus pada layar hp dengan kacamata nya

''Serius?'' Tanyanya meyakinkan

''Iya pah'' jawab riby

''Kapan, papa jemput yaa...''

Bersambung......














Haloo semuanyaaa, wah agak sedikit tidak menyangka ternyata cerita aku bakal banyak yang baca, aku seneng banget sih sumpah, aku merasa terapresiasi dengan kalian liat cerita aku yang benernya isi nya agak tidak nyambung ya karena aku juga baca cerita aku sendiri whehehe

Terimakasih ya kepada semuanya yang sudah selalu mendukung aku dalam up cerita atau bahkan kalian masih tetep nungguin cerita aku yang lama up nya heheh mian

Makasih ya Semuanya luv yuu🫶🏻

sampai ketemu di cerita lain nyaa (semoga gak susah up🙏🏻) byee💋💋

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 09, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Married to a Young WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang