bab 37 as always

1.3K 164 5
                                        

Pagi ini Daniel duduk di samping tempat tidur Indah, menggenggam tangannya dengan lembut

Indah menatap ke luar jendela, matanya menerawang

"Aku pingin lihat dia mas..." suaranya lirih, penuh rasa kekhawatiran

"Nanti saya tanyakan dokter dulu ya? Kalau memungkinkan, kita bisa lihat dia bareng-bareng"

"Leo juga mau ikut! Leo belum ketemu bayi sama sekali..." Leo yang duduk di sofa kecil ikut bersuara

"Nanti ya sayang, bayi masih butuh waktu buat bisa ketemu kita" indah mencoba memberi pengertian

Tak lama seorang perawat masuk membawa nampan berisi sarapan untuk Indah

"Pagi Bu Indah, Bagaimana perasaannya hari ini?" sapa perawat tersebut

"Sudah agak mendingan, tapi saya pingin tahu kabar bayi saya sus" Indah tersenyum, balik senyumnya terdapat banyak hal yang nggak bisa ia sampaikan

Perawat itu mengangguk mengerti
"Nanti dokter akan datang dan memberi kabar, Kalau kondisinya membaik mungkin Ibu bisa melihatnya Sementara"

Indah dan Daniel saling pandang penuh harapan, Sementara itu Leo menggenggam tangan ibunya erat
"Kita bakal ketemu Adik lebih cepat ya Mommy..."

Indah mencium punggung tangan putranya hatinya terasa lebih hangat

~*****~


Hari demi hari berlalu dan akhirnya Indah sudah diperbolehkan pulang, Namun hatinya terasa berat karena sang bayi masih harus tetap dirawat di rumah sakit

*Di depan rumah sakit

"Tenang sayang, Kita bisa datang setiap hari untuk lihat keadaan Adik" Daniel menggenggam tangan Indah erat

Indah mengangguk pelan tapi matanya masih menerawang ke arah gedung tempat bayinya dirawat

Rasanya ada yang kurang saat pulang tanpa membawa si kecil bersamanya

Leo yang berdiri di samping mereka ikut menggenggam tangan Indah

"Mommy sedih ya?"

Indah tersenyum tipis lalu berlutut untuk menyamakan tinggi dengan putranya

"Sedikit sayang, Mommy pingin Adik bayi bisa pulang bareng kita" Leo mengangguk mengerti

"Kalau gitu kita sering kesini biar adik nggak sendirian!"

Daniel tersenyum melihat kepedulian putra sulungnya "Iya kita jenguk setiap hari ya?"

"Iya... kita tunggu Adik sampai siap pulang"
Indah menarik napas dalam berusaha menguatkan diri

Dengan perasaan campur aduk mereka pun masuk ke mobil pulang dengan harapan bahwa hari di mana keluarga mereka lengkap akan segera tiba

Keesokan harinya, Indah kembali ke rumah sakit bersama Daniel dan Leo. Sesampainya di sana, ia langsung menuju ruang perawatan bayi dengan hati berdebar.

Begitu melihat bayinya masih terbaring di dalam inkubator dengan alat-alat medis yang menempel di tubuh mungilnya, hatinya terasa remuk. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Daniel yang ikut mendampingi segera merangkulnya, menepuk punggungnya dengan lembut. "Sabar, sayang... Adik semakin kuat setiap harinya. Kita harus percaya, ya?"

Indah mengangguk sambil menyeka air matanya. "Aku tahu... tapi rasanya berat. Aku ingin memeluknya, ingin membawanya pulang..."

Perawat yang sedang memeriksa kondisi si kecil tersenyum menenangkan. "Bu Indah, perkembangan bayinya sangat baik. Kalau tetap stabil seperti ini, beberapa hari lagi sudah bisa pulang."

Indah menatap bayinya dengan mata yang masih basah. "Dengar itu, sayang? Kamu harus kuat, ya. Mommy, Daddy, dan Kakak sudah menunggu di rumah."

Leo yang ikut bersama mereka menempelkan tangannya ke kaca inkubator. "Leo juga tunggu Adik. Nanti kita main bareng, ya?"

Daniel tersenyum melihat kebersamaan mereka. Meski harus bersabar sedikit lagi, ia yakin hari di mana mereka bisa membawa bayi kecil mereka pulang sudah semakin dekat.

Indah tersenyum tipis melihat Leo yang begitu antusias. Ia mengusap kepala putranya dengan lembut.

"Hari ini, Pak Daniel sudah boleh melakukan metode kangguru untuk membantu bayi semakin kuat, Mau coba?'' Perawat melanjutkan

Mata Daniel langsung berbinar
"Boleh?" tanyanya penuh harap

"Tentu, Saya akan bantu menyiapkannya" Perawat mengangguk

Beberapa saat kemudian, Daniel duduk di kursi dengan hati berdebar. Perawat dengan hati-hati mengangkat bayi mungil itu dari inkubator, lalu meletakkannya di dada Daniel, bersentuhan langsung dengan kulitnya.

Begitu merasakan hangat tubuh si kecil, air mata Daniel menggenang

"Halo sayang... Papa di sini" bisiknya penuh kasih

Indah tersenyum haru melihat pemandangan itu, sementara Leo menatap dengan kagum

"Adik kecil nyaman banget ya, mas?"

Daniel mengangguk, suaranya sedikit bergetar. "Iya Sayang, Dia tahu ini pelukan papanya"

Bayi kecil itu tampak tenang dalam dekapan Daniel, napasnya teratur, seolah tahu ia sedang berada di tempat yang paling aman di dunia



Dikit dulu guys karena mau end, btw maaf ya minal aidin walfaidzin semuanya

Married to a Young WidowerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang