Begitu mereka tiba di rumah sakit, semuanya langsung kacau
"Suster! Istri saya mau melahirkan!" teriak Daniel panik begitu memasuki lobi
Indah menggigit bibir, napasnya tersengal-sengal menahan kontraksi
"Aduh… sakit banget, Mass…"
Kathrina sibuk membantu mendorong kursi roda yang baru disiapkan suster "Cepetan! Dia udah kesakitan nih!"
Leo yang ikut berlari di belakang mereka ikut-ikutan panik "Mommy..... tahan ya!''
Seorang dokter mendekat dengan sigap
"Baik, kita bawa ke ruang bersalin sekarang! Pak, tolong ikut urus administrasi"
"Hah?! Sekarang?!" Daniel melongo
"Udah, cepetan! Biar gue yang jagain Leo!" potong Kathrina, nyaris mendorong Daniel menuju meja administrasi
Di ruang bersalin, suster mulai menyiapkan segala peralatan. Indah meremas seprai dengan wajah tegang.
"Suami saya mana?! Saya nggak mau sendiri!" ucap nya pada suster
Kathrina, yang berhasil menyusul masuk, langsung menggenggam tangan Indah.
"Sabar, ndah! Daniel lagi ngurusin berkas! Gue di sini dulu, lo nggak sendirian!" kathrina mencoba menenangkan
Sementara itu, di luar ruang bersalin, Daniel ribut dengan resepsionis
"Ya Tuhan, kenapa harus tanda tangan segini banyak sekarang?! Istri saya udah kontraksi!" ia dengan terburu-buru menulis tanda tangan nya
"Tenang, Pak, hanya tinggal beberapa lagi"
"Beberapa?! Ya ampun, bayi saya bisa-bisa lahir duluan nih!"
Suster tiba-tiba keluar dari ruang bersalin, mencari Daniel
"Pak, Ibu sudah tidak kuat! Anda mau masuk sekarang?" Daniel langsung melempar bolpoin ke meja
"Bodo amat, tanda tangan belakangan! Saya harus masuk!" Ia berlari menuju Indah, sementara Kathrina mundur dengan lega "Akhirnya! Nih, Si bapak udah datang!"
Di dalam ruang bersalin, suara Indah mulai meninggi "MASS! Aku nggak kuat!"
Daniel langsung menggenggam tangannya erat "Aku di sini, Sayang! Kamu harus kuat''
Di ruang bersalin, suasana semakin tegang. Indah terengah-engah, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Daniel tetap menggenggam tangannya erat, berusaha memberikan ketenangan meskipun hatinya ikut berdebar.
Dokter yang menangani mereka tampak serius. "Kontraksinya semakin kuat. Kita harus segera bantu persalinan. Ini kelahiran prematur, tapi kami akan melakukan yang terbaik"
Indah menelan ludah, dadanya naik turun cepat. "Tapi… tapi dia baru tujuh bulan… dia bakal baik-baik aja, kan?" suaranya bergetar
Daniel mengecup keningnya lembut. "Kita di rumah sakit yang bagus, Sayang. Kita percaya sama dokter dan timnya, ya?"
Kathrina, yang masih menunggu di luar bersama Leo, mulai mondar-mandir dengan wajah cemas. "Ya ampun, ini lebih lama dari yang gue kira… gimana kalau si kecil butuh inkubator?"
Leo menarik ujung bajunya. "Tante, Adik bakal baik-baik aja, kan?" tanyanya dengan suara kecil
Kathrina langsung berjongkok dan menggenggam bahu kecil Leo.
"Iya sayang, Kita doain bareng-bareng ya?"
''Semoga dedek bayi nya lahir dengan sehat''
Kembali ke dalam ruang bersalin, dokter mulai memberi aba-aba. "Ibu, dorong pelan-pelan, ya. Kami akan bantu"
Indah berusaha sekuat tenaga, sementara Daniel terus memberikan semangat di sisinya. Air mata menggenang di pelupuk matanya, bukan hanya karena rasa sakit, tapi juga karena ketakutan yang semakin besar
Beberapa menit kemudian, tangisan kecil akhirnya pecah di ruangan itu. Namun, suara itu terdengar lebih pelan dari yang mereka harapkan. Suster dengan sigap mengangkat bayi mungil yang masih berlumuran air ketuban, tubuhnya begitu kecil, lebih kecil dari bayi cukup bulan.
Indah menangis, tubuhnya gemetar. "Dia bakal baik-baik aja kan mas?''
Daniel ikut pucat. "Dok, anak saya baik-baik aja kan?"
Dokter dan suster bergerak cepat. "Kami harus membawanya ke NICU sekarang. Dia butuh perawatan khusus."
Indah terisak. "Aku mau lihat dia dulu… tolong…"
Suster mendekat, menunjukkan sekilas wajah bayi mungil itu sebelum buru-buru membawanya pergi. "Dia pejuang Bu, Kami akan lakukan yang terbaik"
Daniel mengecup tangan Indah, air mata jatuh di pipinya. "Sayang, dia kuat. Dia anak kita pasti kuat"
Malam itu, kebahagiaan bercampur dengan kecemasan. Mereka sudah bertemu dengan buah hati mereka, tetapi perjalanan belum selesai. Di ruangan lain, bayi mungil itu tengah berjuang, dan mereka hanya bisa menunggu, berdoa, dan berharap keajaiban berpihak pada mereka
Setelah bayi mereka dibawa ke NICU, suasana di kamar Indah terasa hampa. Indah terbaring lemah, matanya masih berkaca-kaca. Daniel duduk di sampingnya, menggenggam tangannya erat, mencoba menenangkan istrinya yang jelas masih syok
Kathrina masuk dengan wajah penuh kekhawatiran, diikuti oleh Leo yang memegang boneka kecil di tangannya "Indah… gimana keadaan kamu?" tanya Kathrina pelan
Indah menoleh, bibirnya bergetar. "Aku… aku nggak bisa tenang kalau belum lihat dia lagi…"
Daniel menatapnya dengan penuh pengertian. "Begitu dokter izinin, kita bakal lihat dia bareng-bareng, ya?"
Leo mendekat ke tempat tidur, memegang tangan Indah yang lain. "Mommy, leo tadi denger Adik dibawa ke tempat khusus.
Ruang khusus tuh apa, kenapa adik harus dibawa kesana?''
Daniel memeluk leo lalu mengusap kepalanya pelan
"Adik butuh perawatan lebih dulu sayang, Ruang khusus itu tempat buat dokter dan suster merawatnya supaya sehat"
Leo mengerutkan kening, matanya penuh tanya. "Tapi kenapa? Adik sakit?"
Indah tersenyum lemah, menggenggam tangan kecil Leo. "Bukan sakit sayang, Cuma butuh bantuan supaya bisa cepat pulang bareng kita"
Dengan lembut, Daniel dan Indah berusaha menjelaskan apa yang baru saja terjadi, karena Leo pasti masih bingung
Leo diam sebentar, lalu bertanya pelan "Nanti Leo boleh lihat Adik?"
Daniel mencium puncak kepala putranya. "Tentu. Nanti kalau dokter bilang sudah boleh, kita lihat sama-sama ya?"
Leo mengangguk kecil, lalu naik ke tempat tidur, menyandarkan kepalanya di lengan Indah. "Leo kangen Adik padahal belum ketemu..."
Indah menatap anak sulungnya dengan air mata yang hampir jatuh. "Kita doain Adik sama-sama ya, sayang?"
Leo mengangguk, lalu meletakkan boneka kecil yang dibawanya di samping Indah. "Ini buat Adik. Biar dia nggak sendirian"
Kathrina tersenyum tipis melihat Leo yang begitu perhatian. "Dia pasti kuat ndah, anak lo pasti bisa melewati ini."
Mereka semua duduk dalam keheningan, hanya ada suara napas dan isakan pelan dari Indah. Waktu seakan berjalan lambat, menunggu kabar dari NICU tentang bayi mungil mereka.
Sekian sorry guys baru up lagi, baru sembuh aku 🥲🙏🏻
KAMU SEDANG MEMBACA
Married to a Young Widower
Fanfiction''Capek banget bujuk kulkas 10 pintu'' gumam indah ini hanya fiksi penggemar ⚠️jangan dibawa ke REAL LIFE ⚠️
