"Mas!" teriak Indah saat sedang menuangkan air ke dalam gelas
"Mas!" teriaknya lebih keras karena Daniel tak kunjung datang
"Indah!" Daniel terkejut saat mendapati Indah terduduk lemas di lantai
"Kamu kenapa, ndah?" tanyanya panik
"Perut aku Mas, Sakit banget...." jawab Indah, tangannya memegang perut dengan wajah meringis kesakitan
Daniel mulai panik. Situasi seperti ini belum pernah ia alami sebelumnya. Ia sempat bingung harus berbuat apa.
Namun, tak lama ia kembali tersadar. Dengan cepat, ia menggendong Indah dan membawanya menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit
"Sabar ya, Ndah. Sebentar lagi kita sampai" bisiknya lembut, mencoba menenangkan Indah di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Daniel segera memanggil perawat. "Tolong, cepat! Istri saya kesakitan!" teriaknya penuh kekhawatiran
Beberapa perawat datang dan membawa Indah ke ruang pemeriksaan
"Kamu pasti bisa, Ndah. Kamu harus kuat" gumam Daniel, suaranya lirih namun penuh harapan
Di luar ruang USG, kegelisahan melanda. Daniel mondar-mandir tanpa henti, hatinya dipenuhi kecemasan. Pikirannya kalut. Hingga detik itu, ia bahkan lupa menghubungi orang tua mereka untuk memberi kabar. Semua fokusnya hanya tertuju pada satu hal yaitu keselamatan Indah
Beberapa menit terasa seperti berjam-jam bagi Daniel yang terus menunggu di luar ruang pemeriksaan
Kegelisahannya semakin memuncak saat pintu ruangan terbuka perlahan, Seorang dokter muda melangkah keluar dengan wajah tenangnya
"Bagaimana Dok? Istri saya baik-baik saja kan?" suara Daniel terdengar gemetar, tak bisa menyembunyikan kekhawatiran nya
Dokter itu tersenyum tipis, memberi isyarat agar Daniel tenang
"Istri Anda mengalami nyeri akibat kontraksi perut yang mendadak. Tapi kondisinya sudah mulai stabil. Kami akan memantau lebih lanjut untuk memastikan semuanya baik-baik saja"
Daniel menghela napas merasa lebih lega dari sebelumnya
"Apakah ada yang serius?" daniel menanyakan lagi tak ingin kehilangan detail sekecil apa pun
"Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan sejauh ini. Namun, dia perlu banyak istirahat dan harus menghindari stres berlebih. Kami juga akan melakukan beberapa tes tambahan untuk memastikannya"
Beberapa saat kemudian, perawat memanggil Daniel masuk. Dia langsung menghampiri Indah yang terbaring lemah di ranjang.
"Mas…" panggil Indah dengan suara lemah, menatap Daniel dengan mata yang masih sembab
Daniel menggenggam tangan indah dengan erat
"Saya di sini Ndah, semuanya baik-baik saja'' ucap daniel seakan tau bahwa indah sedang khawatir akan kandungan nya
"Aku takut baby kita kenapa-napa mas, ini salah aku karena aku gak jaga dia dengan baik" ucap Indah dengan suara pelan
"Bukan salah kamu. Yang penting sekarang kamu istirahat" balas Daniel lembut
"Saya disini bakal jagain Kamu, jadi Kamu tenang saja ya" daniel mencoba menenangkan indah
Indah tersenyum tipis, ''makasih ya mas, kamu selalu ada buat aku'' ucap nya sambil menatap daniel dalam
Daniel membalas senyuman indah, ''saya akan selalu ada untuk kamu ndah''
Beberapa jam berlalu, Daniel dan Indah sudah berada di rumah. Indah tertidur pulas di kamar, sementara Daniel duduk di ruang tamu dengan tatapan kosong, Pikirannya penuh. Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya menghubungi kedua orang tua mereka Rafli dan Raya, serta Ayah dan Bunda dari indah
Tak lama, mereka semua tiba. Raut wajah mereka tampak penuh tanya saat melihat ekspresi serius di wajah Daniel
"Ada apa, Nak?" tanya rafli sambil melirik ke sekeliling rumah
"Kenapa mendadak begini? Indah kemana, kok tidak ada?" Raya langsung merasa khawatir
Daniel menunduk "Indah sedang tidur dikamar, Ma, Pa. Tapi aku harus bilang sesuatu yang penting" Ia berhenti sejenak, lalu berbicara yang sedikit gemetar
"Kami... menyembunyikan sesuatu dari kalian. Indah sedang mengandung. Dan sekarang sudah empat bulan lebih"
Suasana mendadak hening. Maya menatap Daniel dengan mata membelalak, sementara Rafli menghela napas berat. "Empat bulan?" tanya Rafli, suaranya rendah namun sarat emosi. "Kalian tahu ini kabar besar, tapi kenapa baru kasih tahu sekarang?"
Daniel menunduk, menggenggam tangannya sendiri dengan kuat
"Kami hanya takut. Kami takut kalian berpikir kami gegabah atau belum siap jadi orang tua. Kami hanya... butuh waktu untuk memastikan semuanya baik dulu"
Roni menatap daniel dengan sorot lembut namun tegas
"Daniel, kami tahu kalian mungkin gugup. Tapi kami adalah keluarga. Apa pun yang terjadi, kami ada di sini untuk kalian. Seharusnya kamu tahu itu"
Jane menyentuh tangan suaminya, menahan emosinya
"Kami bukan kecewa karena kehamilannya, Nak. Kami kecewa karena kamu merasa harus menyembunyikannya. Ini berita yang harus dirayakan bersama, bukan disimpan sendiri"
Daniel mengangkat wajah, matanya penuh rasa bersalah namun juga lega.
''Saya minta maaf, Ayah, Bunda, Ma, Pa. Kami tidak akan sembunyi lagi. Kami akan jalani ini dengan semua dukungan Kalian''
Maya akhirnya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca
"Baiklah. Yang penting sekarang, jaga Indah dan bayi kalian. Kalian tidak sendiri''
''Di mana Indah sekarang?" tanya Jane dengan nada khawatir, tatapannya menajam ke arah Daniel
"Indah sedang tidur di kamar, Bunda" jawab Daniel pelan, suaranya penuh rasa bersalah
Tanpa menunggu persetujuan, Jane segera beranjak dan menaiki tangga, Langkah-langkahnya cepat berjalan menuju kamar. Daniel hanya bisa menghela napas panjang
Pintu kamar terbuka perlahan, dan di dalamnya Jane melihat Indah yang sedang berusaha duduk, tangannya meraba headboard untuk mencari sandaran. Dengan cepat, Jane masuk dan membantu Indah hingga bersandar dengan nyaman
"Bunda...?" panggil Indah, terkejut sekaligus bingung melihat kehadiran ibunya
Namun, rasa bingung itu segera berubah menjadi cemas saat ia melihat wajah Jane yang basah oleh air mata. Jane menangis terisak, menatap Indah dengan penuh perasaan
"Bunda... kenapa?" Indah bertanya lagi, suaranya mulai bergetar.
Jane menggenggam tangan anaknya dengan erat, matanya yang berkaca-kaca dipenuhi rasa sayang sekaligus pilu
"Kenapa kandunganmu sebesar ini disembunyikan dari kami?" Air matanya kembali mengalir, menyapu pipi dengan deras
"Apa kalian kira kami nggak akan mendukung kalian?" ucap jane sambil mengelap air mata di pipi nya
Indah terdiam, hatinya bergetar Matanya pun mulai memburam karena air mata yang menggenang. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis, tetapi akhirnya air mata jatuh juga
"Bunda, indah takut... Takut kalau kalian kecewa..." suaranya pecah di antara isakan
Jane menggeleng dengan lembut, lalu membawa Indah ke dalam pelukannya
"Tidak, Sayang... Kami ada di sini untuk kalian. Kami tidak akan pernah meninggalkan kalian berdua. Kami hanya ingin kalian bahagia... Jangan pernah pikir kalian harus menjalani semua ini sendiri''
Indah mengeluarkan air matanya saat Jane memeluknya erat. Tangisnya pecah di dada sang bunda, pelukan yang selama ini ia rindukan. Dalam dekapan Jane, ia merasakan kehangatan yang menenangkan sekaligus menghantam hatinya dengan rasa bersalah yang mendalam
''Maafin indah.... bunda'' ucap Indah dengan suara pelannya
Bersambung.........
Sorry guys lupa buat up hehe 🙏🏻🥲
*satu lagi nyusul ya belum beres soalnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Married to a Young Widower
Fan-Fiction''Capek banget bujuk kulkas 10 pintu'' gumam indah ini hanya fiksi penggemar ⚠️jangan dibawa ke REAL LIFE ⚠️
