"Adek abang, Heeseung?" tanya salah satu pemuda yang mengenal Heeseung. Acil dan duo bocil lainya mengangguk.
Pemuda itu segera mengabari Heeseung, setelah kesadaran Acil sudah berada di ambang batas. "Duh bentar dek, jangan pingsan dulu ya!"
Di sisi Heeseung, ia sedang rebahan setelah membereskan barang barangnya. Tiba tiba saja benda pipih, canggih dan berboba 4 miliknya berbunyi. Seseorang yang meneleponnya tertulis pada layar handphone miliknya.
'Haruto?' batin Heeseung, heran.
[Halo, to?]
[Halo seung, ini adek lo]
[Adek gw yang mana?] Heeseung kan bingung yak, gimana mau tau adiknya itu yang mana, sedangkan adiknya ada 4 ಠ﹏ಠ
[Adek lo yang kecil]
[KNP WEH ADEK GW?!!]
[Ini adek lo sesek nafas, hampir pingsun!, aduh gw bingung harus apa seung]
[Gw kesana, sharelok buru!!!]
Tut
Tanpa ba bi bu lagi, Heeseung segera tancap gas menuju lokasi yang sudah Haruto kirimkan.
Tak butuh waktu yang lama, kakak dari 4 anak itu sudah berada di lokasi. Ia melihat Acil yang sedang di gendong oleh teman dari temannya. Intinya teman dari temannya, yang juga temannya.
"Oi, to. Mana adek gw?"
"Oi, ini gimana Seung?"
"Bawa ke rumah sakit aja"...
Segeralah 5 orang dengan 1 pasien itu menuju rumah sakit terdekat.
Sampainya mereka di sana, tanpa menunggu lama, Acil langsung ditangani dengan cekatan.
Di sela menunggu pemeriksaan Acil, Heeseung meminta penjelasan pada orang yang tadi menghubunginya, yaitu Haruto. Sebelum itu, ia meminta teman Haruto yang temanya juga untuk mengantarkan duo bokem kembali ke kediaman masing masing.
Haruto pun menjelaskan kejadian tadi kepada Heeseung, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kita. Eak.
Setelah selesai memeriksa dan mengambil tindakan, dokter itu keluar.
"Gimana dok keadaan adek saya?" Heeseung bangun dari duduknya di kursi ruang tunggu, berjalan menuju dokter yang berdiri di depan pintu UGD.
"Adik anda tidak kenapa kenapa, mungkin karena terkena asap rokok yang menyebabkan asmanya kambuh. Ditambah dengan keadaan badannya yang sedang tidak vit, jadi tidak ada masalah yang serius namun anda harus ekstra menjaganya mulai saat ini. Dapat dipastikan sobek pada paru parunya akan semakin melebar seiring dengan aktivitas adik anda. Jaga adik anda dari hal yang berat berat dan membahayakan bagi paru paru adik anda ya. Baik saya permisi" Dokter itu mempersilahkan semua masuk.
Heeseung dan 1 orang temannya masuk ke ruang rawat Acil. Di dalam ruangan yang berbau khas obat dengan beberapa alat terpasang pada tubuh mungil si kecil.
Di dekatilah tubuh lemas dengan selang oksigen yang terpasang pada mulut dan hidungnya. Ditatapnya dengan perasaan bersalah dan sedih dengan kondisi adiknya itu. Ia merasa tidak becus menjaga adik bungsunya.
Sebagai kakak tertua atau sulung, ia memikul tanggung jawab besar kepada seluruh adiknya. Menjadi harapan dan panutan bagi keluarga dan adik adiknya, semua tidaklah mudah, tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi banyak hal yang harus ia lakukan agar dapat menjadi contoh yang baik. Menanggung beban yang keluarga limpahkan padanya, walau sebenarnya keluarganya tidak mengkekang dirinya untuk bercita cita. Namun ia sadar bahwa ia adalah sulung, yang berarti menjadi panutan bagi ke 4 adiknya terlebih lagi orang tuanya yang sangat produktif dengan memberikan 4 adik baginya, padahal dahulu ia hanya meminta 1 adik namun malah diberikan 4 dengan, 2 yang kembar Jay dan Jake, lalu Riki yang berbeda setahun dari si kembar, dan terakhir Acil yang berjarak 12 tahun dari Riki.
KAMU SEDANG MEMBACA
🍒 🎀 𝓑𝓪𝓫𝔂 𝓐𝓬𝓲𝓵 🎀 🍒
Short StoryKisah kehidupan seorang Acil dengan 4 orang kakak yang posesif padanya. Dan kehidupan sehari-hari Acil dengan para bestihnya.
