Setelah perdebatan kecil di area persidangan, semua orang sudah membubarkan diri menuju kediaman masing masing. Acil pun ikut sang papa untuk terakhir kalinya, sebelum pergi untuk bersama dengan sang mama.
Waktu yang terbilang cukup singkat menghabiskan waktu bersama keluarga, apa lagi dengan embel embel untuk terakhir kalinya.
"Papa, dede nda mau sama mama" Anak kecil itu berbicara dengan suara yang parau, sedari tadi hanya menangis di pelukan beberapa keluarga yang sangat ia sayangi.
"Papa juga gamau dedek ikut mama, tapi dedek harus ikut mama karena papa ga punya kewenangan lagi buat ngambil kamu dari mama, sayang" Acil kembali terisak, ia semakin tidak ingin bertemu dengan mamanya.
Hari yang mulai menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, membuat semua orang di dalam kediaman keluarga Kim sangat cemas dan sedih.
Sebentar lagi, matahari dan cahaya mereka akan tidak bersama dengan keluarga Kim dan berpindah ke tangan orang yang mereka panggil mama.
Disaat semua anggota keluarga sedang melamun memikirkan nasib anak kesayangan Kim itu, tak di sangka sangka orang yang membuat semua orang di sana merasa semakin kalut dengan emosinya masing masing.
"Baby...Ini mama sayang" Sapa Jennie senang, berjalan masuk dengan high heels yang tinggi sebagai suara, yang membuat siapa saja yang mendengar langkah kaki percaya diri itu takut.
"Papaaa, ndak mau" Isak kecil kembali terdengar setelah tadi menghilang dari pandangan semua mata.
Acil masih setia memeluk kaki jenjang papa dan abangnya itu.
"Kamu kok gitu sayang, sama mama. Mama itu mama kamu sayang. Dedek juga ditunggu sama kakak loh" Acil tetap menggeleng ribut di dekapan sang papa.
Setelah beberapa bujuk rayu dari semua orang di sana, akhirnya ia mau mengikuti mama.
Di perjalanan menuju tempat baru yang diketahui rumah baru sang mama, Acil awalnya merasa senang karena disana ada sosok laki laki yang lebih tua darinya beberapa tahun.
Sosok lelaki itu adalah gambaran atau orang yang tadi Jennie sebut sebagai 'kakak' pria dengan umur 17 tahun, memiliki tinggi 180 dan rambut sedikit panjang, melihat kearahnya dengan senyum yang tidak dapat terdefinisi'kan atau memiliki sesuatu dalam tatapan yang dalam tersebut.
Bukan sekedar tatapan biasa, tapi tatapan itu seolah memiliki niat tersendiri kepada Acil. Seketika tatapan yang terpancar untuknya membuat badan bergidik ngeri.
"Halo kak" Sapa canggung Acil.
"Hmm" Datarnya tidak memperdulikan Acil, sekedar menoleh pun tidak.
Anak yang lebih tua berjalan melewati anak kecil di depannya tanpa menyentuhnya.
Mungkin hari ini adalah hari dengan kesan pertama yang buruk, yang pernah ada. Tidak berlarut-larut dengan pikirannya, Acil segera bangkit dan bergerak menuju kamar mamanya.
TOK*
TOK*
TOK*
Ketukan pintu ia layangkan pada pintu kayu yang terdapat di depannya. Tidak membutuhkan waktu yang lama, hingga pintu kayu tersebut terbuka setengah, guna melihat sang empu yang mengetuk pintu kamarnya.
"Eh sayang, Kenapa? kok ke kamar mama?" tanyanya
"Adek tidul dimana?" mata bulatnya sudah sayu akibat mengantuk.
"Ooh, adek tidur sama abang Ho dulu ya" Acil hanya mengangguk dan pergi ke tempat yang dikatakan Jennie.
Di dalam kamar yang memiliki nuansa serba hitam, seorang anak yang tadi disebut 'abang Ho' sedang duduk di atas kasur king size miliknya, sambil bermain dengan handphone yang menyala.
"Bang, adek tidul mana?" Sang abang itu melirik sekilas ,kemudian menunjuk tempat yang tidak mungkin bisa di tiduri oleh seorang anak kecil 6 tahun itu.
"Bawah!" Satu kata yang mampu menohok hati seorang anak kecil itu. Dirinya yang dahulu selalu tidur nyaman dan tidak kekurangan apapun, diperlakukan dengan tidak baik di 'keluarga' barunya.
"Tapi nda ada kasulnya" Anak tadi kembali menyaut dengan dingin.
"Bukan urusan gue" Mau tidak mau Acil hanya bisa pasrah kepada keputusan? atau lebih perintah abang barunya itu.
Direbahkannya tubuh mungilnya pada atas lantai dingin, tidak ada benda yang menjadi alasnya. Bahkan suhu yang tinggi dari AC membuat badannya menggigil menahan kedinginan.
Sampai pagi pun, Acil tidak diberikan sehelai benang pun di tubuhnya. Mungkin bisa dibilang 'keluarga' barunya itu seolah tidak peduli, setelah kemarin menangis nangis memintanya ikut bersama mereka.
Hingga puncaknya, dimana seluruh anggota 'keluarga' barunya mengajaknya pergi berlibur ke suatu taman bermain.
Disaat ia kembali dari menunggu antrian untuk membeli ice cream, ia tidak menemukan siapa pun di tempat sebelumnya 'keluarga' nya berada. Apakah mereka lupa bahwa ia juga menjadi bagian mereka?
Acil jadi bingung harus bagaimana?
Saat ia sedang sedih, gundah gulana dan bingung, tiba tiba datanglah seorang lelaki yang familiar di mata bulat Acil.
"Sunghoon? kenapa kamu di sini nak?" tanya orang itu pada Acil yang sebentar lagi akan menangis.
"humm?" Mendongak'lah Acil melihat orang yang menghampirinya.
"Oom...hiks" Pecah sudah tangis si kecil ini, melihat orang yang menghampirinya tak lain tak bukan adalah sang paman Jungkook.
"Kamu kok disini sayang?" Tanyanya.
"Hiksss...dedek di tinggalin..hiks" Jungkook merasa kasihan pada sang ponakan yang ditinggal sendiri di tempat ramai. Untung saja, yang menemukan adalah dirinya, bagaimana jika orang jahat?
Ia memantapkan hati untuk membawa Acil pulang ke rumah sang kakak A.K.A Taehyung.
Selama di perjalanan, Acil tidak henti hentinya tersenyum senang dan lebar.
Sesampainya di rumah yang sudah 2 hari ia tinggalkan, Acil segera masuk dan berteriak dengan keras, hingga seluruh orang di sana terkejut dan mendekat menuju sumber suara.
Para kakak dan papa, yang melihatnya langsung menangis haru dan keheranan. 'Bagaimana Dedek kok bisa sampai sini? sama om Jungkook lagi' batin semua kakak yang sangat Acil sayangi, siapa lagi kalau bukan Heeseung, Jay, Jake dan Riki mar kiki.
"DEDEK PUYAAAAAAAAANGGGGGGG" Semua orang mendekat dan memeluk tubuh mungil yang sudah 2 hari mereka rindukan.
"Loh, dedek kok bisa pulang?" heran Riki mar kiki.
"Bica dong, kan dedek punya kekuatan 💪💪" ucapnya sembari menunjukkan kedua lengannya.
Akhirnya mereka pun berpelukan untuk melepas rindu, dengan tangis kecil di antara pelukan itu.
Jungkook yang melihat itu ikut terharu dengan interaksi keluarga kakaknya. Ia juga tahu, hal yang terjadi dan membuat keluarga kakaknya itu awalnya adem ayem menjadi penuh dengan huru hara, dan berakhir berpisah.
Ia hanya menginginkan semoga ini berakhirnya saat ini juga, agar ketenangan keluarga yang ia sayangi juga tidak roboh.
NAMUN, takdir berkata lain, tiba tiba saja ada seorang polisi datang ke tempat kediaman Taehyung. Dengan dalih atau dengan penugasan atas hilangnya anak dari seorang Kim Jennie.
"Permisi, dengan bapak Kim Taehyung?"
"Ya dengan saya sendiri, ada apa ya pak?..."
TBC...
Hehe allo guys, aku up nih.
Jangan lupa pencet binatangnya guys, biar aku semangat nulis kalo vote nya banyak, oh ya janlup komen yang lucu lucu yah 🎀🍒
KAMU SEDANG MEMBACA
🍒 🎀 𝓑𝓪𝓫𝔂 𝓐𝓬𝓲𝓵 🎀 🍒
Historia CortaKisah kehidupan seorang Acil dengan 4 orang kakak yang posesif padanya. Dan kehidupan sehari-hari Acil dengan para bestihnya.
