Setelah kejadian dimana Acil menghilang, sekarang anak itu sedang tertidur di kasur kingsize miliknya.
Dalam tidurnya, badan miliknya merasa tidak nyaman dengan mengerutkan dahi dan bergerak gusar ia berusaha mencari posisi yang nyaman.
Tapi semakin bergerak, badanya semakin sakit.
Disisi lain Jay yang hendak ke kamarnya dan melewati kamar Acil, kebetulan pintu kamar itu sedikit terbuka.
Jay berhenti di depan kamar Acil memastikan adiknya tidak bangun. Namun semakin di lihat ia merasa dalam tidurnya, Acil merasa tidak nyaman.
Jay segera masuk, disaat melihat sang adik Jay dapat melihat jika di dahi dan pelipis Acil sudah dipenuhi oleh keringat dingin.
Segera ia taruh punggung tangannya pada dahi sang adik. Ketika kulit mereka bersentuhan, Jay dapat merasakan suhu tinggi menjalar di kulitnya.
"Shh... Panas banget"
Bersamaan dengan itu, Acil sedikit terbagun. Tapi karena badannya tidak enak, ia jadi merengek.
"Eungh...hiks..hiks" Isak tangis kecil lolos dari mulut sang bungsu di tengah mata yang masih terpejam.
"Dek, kenapa?" Jay menepuk nepuk pantat Acil agar anak itu kembali tertidur. Tapi bukannya tertidur, Acil malah tambah rewel.
Karena kasihan melihat kondisi adiknya, ia segera menggendongnya dan membawanya ke ruang keluarga yang sudah terdapat pada saudara yang lain.
Sedangkan di lantai bawah, terdapat 3 orang yang sedang asik bermain PS.
Saat Jay baru saja menapakan kakinya di lantai 1 bersama Acil di dekapannya yang masih rewel, semua langsung menarik atensinya ke arah kedua kakak beradik itu.
"Eh bang, dedek napa?" tanya Riki disela bermain PS nya.
"Demam kayanya, soalnya badannya anget sama rewel" Ucap Jay mendekat kepada mereka ber 3.
"pa...pa..hiks...hiks" racaunya.
"Dedek kangen papa?" tanya Jay
Bukannya membalas, tangisannya malah semakin keras "HUWAAAA, PA...PA"
Semua orang yang berada di ruangan itu panik dan segera membantu menenangkan Acil.
"Cup...cup...cup" Jay menggerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. Tapi tangisan Acil tetap terdengar, malah semakin pilu.
Karena merasa kasihan pada Acil dan takut tambah sakit, mereka memutuskan untuk menghubungi sang papa.
Papa
[Pa]
[Halo, ada apa Jake?]
[Papa bisa pulang ga?]
[Bisa, kenapa emangnya?]
[Ini dedek demam sama rewel nyariin papa terus]
[Astaga kok bisa?!! yaudah papa otw sekarang]
[Oke, hati hati pah]
[Oke, papa matiin ya!]
Setelah sambungan terputus, mereka kembali menenangkan Acil.
"Paaa..." Acil menggerakkan badanya ke kanan dan kekiri mencari posisi nyaman di gendongan sang kakak.
"Papa bentar lagi pulang kok dek, jangan nangis kagi ya nanti dedek gabisa nafas" Tangisan anak itu sudah sedikit mereda.
KAMU SEDANG MEMBACA
🍒 🎀 𝓑𝓪𝓫𝔂 𝓐𝓬𝓲𝓵 🎀 🍒
Short StoryKisah kehidupan seorang Acil dengan 4 orang kakak yang posesif padanya. Dan kehidupan sehari-hari Acil dengan para bestihnya.
