"Ayo kita pulang, udah sore nih," ujar Adel sambil melirik ketiga sahabatnya yang tampak masih menikmati suasana sore.
"Yahhh, baru juga sampai," keluh Andi dengan raut wajah kecewa.
"Kita udah dari pagi di sini, Andi," sahut Adel mencoba menahan rasa lelah yang mulai terasa.
"Ya udah deh, ayo pulang," timpal Kella, menghela napas sambil merapikan kerudungnya yang sedikit berantakan.
"Oh iya, Hil. Gimana kalau kita sekampus aja?" ujar Adel sambil menatap Sahil dengan mata penuh harap.
Sahil mengangkat bahu, "Ya, terserah kamu sih."
Adel memandang Sahil dengan mata berbinar, "Beneran?"
"Iya," jawab Sahil sambil mengangguk.
"Okey! Dada, Sahil," ucap Adel sambil melambaikan tangan dengan semangat, menyembunyikan sedikit rasa malu di balik senyumnya.
Sahil membalas lambaian Adel dengan senyum lembut yang membuatnya terlihat hangat.
Setahun kemudian
Sahil berjalan menuju ruang kelas dengan langkah ringan dan senyum di wajahnya, tampak bersemangat untuk menghadapi hari ini. Tiba-tiba, suara yang keras dan penuh amarah menghentikan langkahnya.
"SAHIL!!" Teriak Adel, wajahnya memerah, matanya berkobar dengan kemarahan yang tak bisa disembunyikan.
Sahil menoleh, tampak kebingungan melihat Adel mendekat dengan tatapan tajam. Belum sempat dia berkata apa-apa, Adel langsung menarik kerah bajunya dengan gerakan cepat.
"Kamu nyembunyiin tugas proyekku, ya?" tanya Adel dengan nada penuh curiga, wajahnya semakin mendekat ke wajah Sahil.
Sahil mengernyitkan alis, jelas-jelas tak paham. "Tugas proyek? Maksudnya?"
"Udahlah, nggak usah pura-pura nggak tahu. Pasti ini ulah kamu!" Adel berucap penuh keyakinan.
Sahil menggeleng, tetap bingung. "Aku nggak pernah megang tugasmu, Del. Apalagi sampai punya niat nyuri."
Tanpa banyak kata, Adel langsung membuka tas Sahil dan menggeledah isinya. Seketika, tangannya menemukan berkas yang tak asing-tugas proyek miliknya. Mata Adel semakin membara, tangan yang memegang tugas itu bergetar.
"Ini apa?" Suara Adel penuh emosi, nyaris bergetar menahan amarah. Dia merasa dibohongi.
"Sumpah, aku nggak tahu kenapa itu bisa ada di tasku, Del!" Sahil menjawab dengan wajah yang dipenuhi kebingungan dan rasa tak percaya.
Adel mendengus kesal. "Udahlah, Hil. Kalau waktunya serius, ya serius. Jangan cuma bercanda yang ada di otakmu!"
Tanpa menunggu jawaban, Adel berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Sahil yang masih tercengang.
"Del, tunggu!!" Sahil mencoba mengejar, tetapi langkahnya terhenti saat ingatannya tertuju pada kelas yang akan segera dimulai. Dia memandangi punggung Adel yang semakin jauh, lalu menghela napas berat, terpaksa memilih untuk masuk kelas.
Beberapa menit kemudian
Di dalam kelas, Sahil duduk dengan wajah yang tampak gelisah. Pikirannya melayang, mencoba mencerna bagaimana tugas Adel bisa ada di tasnya.
Rama menepuk bahu Sahil cukup keras, membuat Sahil tersentak. Ekspresi Rama terlihat jahil, sudut bibirnya terangkat membentuk seringai kecil. "Heh, kok ngelamun?"
Sahil tersentak kaget, matanya yang tadinya kosong kini berkedip cepat. Ia menggaruk tengkuknya, gugup. "Nggak papa kok." Suaranya sedikit gemetar.
Rama menyeringai lebih lebar, menatap Sahil dengan pandangan penuh curiga. "Dih, jelas-jelas tadi ngelamun! Kesurupan baru tahu rasa!" Ia terkekeh pelan, nada suaranya terdengar bercanda namun tetap sedikit menusuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
SI HUMORIS
HumorSI HUMORIS bukan hanya tentang tawa dan canda, tetapi juga tentang persahabatan yang erat dan saling mendukung. Mereka saling menguatkan saat sedih, saling menghibur saat terpuruk, dan selalu ada untuk satu sama lain dalam suka dan duka. Kisah merek...
