Eps 40: Hatiku Letih

21 2 0
                                        

Keesokan harinya

Sahil membuka ponselnya dengan perasaan gelisah. Sudah enam hari ini hatinya tak tenang. Ia menatap nama "Adel" di layar kontaknya, lalu menekan ikon telepon.

Nada sambung terdengar. Satu kali... dua kali... tiga kali...
Tidak diangkat.

Detik berikutnya, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Kella.

Kella: Hil, Adel dirawat di rumah sakit. Dia drop banget

Sahil sontak terduduk kaku. Dunia seakan melambat. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Ya Tuhan... apa ini?" bisiknya pelan. Tangannya gemetar, menggenggam ponsel sekuat tenaga.

Perasaan bersalah menyerbu dadanya.

Dua minggu setelah Adel dirawat di rumah sakit. Sahil mendengar kabar bahwa Adel sudah pulang. Pagi itu, tepat pukul 06.00 WIB, ia hanya bisa duduk diam di tepi tempat tidurnya, menatap kosong ke lantai kamar. Ponselnya ia genggam erat, seolah benda itu bisa membawanya langsung ke hadapan Adel.

Ia membuka layar, lalu membuka kontak "Adel".
Jari-jarinya mulai mengetik:
Kamu sakit ya? Aku khawatir banget...
Namun ia hapus.
Kapan bisa kuliah lagi?
Dihapus juga.
Del, kamu di mana?
Tapi ia tak jadi kirim. Napasnya tertahan, lalu ia mematikan layar. Kepalanya berat, pikirannya kacau.

Ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Di depan cermin, ia menatap wajahnya sendiri. Lelah. Kacau. Gugup. Ia menarik napas panjang, mengenakan hoodie, lalu meraih kotak kecil di atas meja. Di dalamnya ada madu dan biskuit gandum, dua hal yang dulu pernah disarankan dokter untuk penderita sakit lambung. Sahil juga punya penyakit itu, meski tak separah Adel. Adel terlalu banyak berpikir. Terlalu banyak memendam.

Setelah menenangkan diri, ia kembali membuka ponsel dan mengetik pesan:
Del, aku mau ke rumahmu. Boleh?

Baru satu menit. Centang dua. Tapi belum ada balasan.

Sahil menghela napas. Ia ambil helm, keluar dari rumah, dan memacu motornya pelan menuju rumah Adel. Perjalanan terasa lama, meski karena ada jarak 30 KM yang harus ia tempuh. Ada yang menyesakkan di dadanya. Mungkin karena Adel mulai menjauh, atau mungkin rasa khawatir yang tak kunjung reda sejak tahu Adel dirawat.

Sesampainya di depan rumah bercat putih itu, Sahil menelan ludah. Rumahnya tampak sunyi. Perlahan, ia ketuk pintu.

Tok tok tok

Beberapa saat kemudian, pintu terbuka. Seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu. Ia menatap Sahil lama, seolah mencoba mengingat sesuatu.

"Maaf, Mas... Mau cari siapa ya?" tanya perempuan itu, sopan namun ragu.

"Bu, saya Sahil... Teman SMA-nya Adel. Adel-nya ada?" jawab Sahil, sedikit gugup.

"Oh, Sahil! Yang dulu pernah diambekin Adel itu ya?" Ibu Adel terkekeh pelan.

Sahil tersipu, sedikit malu karena hanya itu yang diingat.

"Iya, Bu... Saya mau kasih ini buat Adel," Sahil mengangkat kotak kecil berisi cemilan. "Kata Kella, Adel sakit asam lambung ya?"

"Iya. Tapi sekarang sudah mendingan. Masih tidur sih, tapi kalau perlu saya bangunin"

"Nggak usah, Bu. Takut ganggu juga." Sahil menolak.

"Gapapa kok. Tapi mungkin dia belum bisa kuliah minggu ini, masih pemulihan." jawab Ibu Adel sambil berjalan masuk ke kamar Adel.

Sementara Sahil menunggu di ruang tamu, ia memperhatikan pigura-pigura yang berjajar rapi di dinding. Matanya terpaku pada salah satu foto Adel.

SI HUMORISCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang