SI HUMORIS bukan hanya tentang tawa dan canda, tetapi juga tentang persahabatan yang erat dan saling mendukung. Mereka saling menguatkan saat sedih, saling menghibur saat terpuruk, dan selalu ada untuk satu sama lain dalam suka dan duka.
Kisah merek...
Langit pagi memanggil dengan lembut melalui sinar mentari yang menyapu jendela. Sepertinya pagi ini ingin memberikan kebaikan tanpa syarat. Adel, yang tersentak dari tidurnya oleh panggilan itu, segera membuka mata dan dengan cepat menuju kamar mandi untuk memulai persiapannya menuju sekolah.
Setelah Adel tiba di sekolah, langkahnya mantap menuju kelasnya. "Assalamualaikum," sapa Adel begitu masuk.
"Waalaikumsalam," jawab teman-temannya serentak.
Adel melangkah ke meja di samping Sahil dan menepuk bahunya dengan ramah. "Hey," sapa Adel.
"Roboh eh roboh!" Sahil terkejut mendadak.
"Haha, kaget ya," kata Adel sambil tersenyum.
"Iyalah, untung jantungku gak copot," sahut Sahil sambil memegang dadanya.
Adel tertawa pelan. "Haha."
Sahil hanya menghela nafas.
"Oh, kamu gak ikut voli nanti?" tanya Adel.
"Ikut," jawab Sahil.
"Terus kok santai kayak dipantai?" goda Adel.
"Emangnya kenapa?" Sahil bertanya balik.
"Kok gak mempersiapkan diri?" tanya Adel lagi.
"Ya gak papa," sahut Sahil.
"Ya gini nih, kalau udah pintar ya santai kayak dipantai. Sedangkan aku latihan sampai tengah malam," ungkap Adel.
"Hah, ngapain sampai tengah malam?" Sahil penasaran.
"Sepi Hil enak gak ada yang ganggu," kata Adel, mencoba menikmati momen hening setelah tawa mereka reda.
"Kalau tengah malam, latihan dimana?" tanya Sahil dengan rasa ingin tahu.
"Di rumah," jawab Adel dengan santai.
"Di dalam?" Sahil terkejut.
"Iyalah, kalau diluar nanti diculik. Emang kamu mau nolongin?" goda Adel sambil tersenyum.