Turnamen voli di Surabaya akhirnya berakhir dengan skor tipis 25:23. Sahil menatap papan skor dengan tatapan kosong. Ia tidak menyangka turnamen kali ini selesai lebih cepat dari perkiraan. Fokusnya sepanjang pertandingan memang buyar bukan karena lawan terlalu kuat, tapi karena pikirannya terus melayang pada Adel, gadis yang susah sekali dihubungi akhir-akhir ini.
Sebagai pemain inti, ia tahu harus profesional. Namun, hatinya terasa berat. Kabar terakhir, Adel pulang dari kampus karena tak sanggup menghadiri kuliah. Sahil gelisah.
"Bengong lagi, nih orang!" celetuk Rama sambil melirik Sahil dengan alis terangkat. Ia menepuk bahu sahabatnya itu. "Hayoo, mikirin apa?"
"Mikirin Adel," jawab Sahil tanpa basa-basi.
"Adel? Emang dia kenapa?" Rama terlihat bingung, dahinya mengerut.
"Asam lambungnya kambuh," jawab Sahil lirih.
Rama mendengus, lalu menyilangkan tangan di dada. "Pasti kamu marahin dia terus, ya? Sampai kepikiran gitu?"
"Enggak, ya! Aku nggak pernah marah," protes Sahil, nadanya meninggi.
"Oh gitu," Rama mengangguk kecil, kini wajahnya berubah serius. "Parah nggak?"
"Cukup serius. Soalnya dia sampai pulang kampung," suara Sahil merendah, sorot matanya sendu.
Rama menghela napas panjang. "Lagian kalian tuh kenapa sih, bermasalah mulu. Kayak nggak ada damai-damainya gitu."
"Gara-gara Mutia," jawab Sahil datar, matanya kosong menatap ke lantai.
"Mutia?" Rama memutar bola matanya, seolah tak heran. "Dahlah, nggak kaget aku mah."
"Maka-nya, jangan nuduh aneh-aneh," Sahil mencoba menahan emosi.
"Iya, iya, cerewet amat," Rama menepuk bahunya lagi.
Sahil menghela napas panjang. "Aku nggak tahu harus gimana. Pengen jenguk dia, tapi jadwal turnamen padet banget," ucapnya lirih, suaranya bergetar.
Rama menepuk punggungnya pelan, tatapannya menenangkan. "Besok kamu coba telepon aja."
Di Rumah Adel
Malam itu, suasana di rumah Adel terasa sunyi. Hanya suara jangkrik yang menggema dari kebun belakang. Adel duduk di teras, memeluk kedua lututnya. Pandangannya kosong, pikirannya melayang pada kuliah yang terasa semakin berat. Ia khawatir sudah ketinggalan banyak materi.
Rasa capek menghadapai tugas yang menumpuk ditambah ancaman Mutia membuatnya memilih menjauh dari Sahil.
"Aih, kenapa sih... semenjak kuliah, ada aja gebrakannya," gumam Adel sambil menggigit bibir bawahnya. "Kalau Mutia mau balikan sama Sahil, ya balikan aja, nggak usah nyerang aku."
Suara pintu berderit. Ibu Adel muncul dari dalam rumah. "Nak, udah minum obat?" tanyanya lembut, menatap Adel dengan penuh khawatir.
"Udah, Bu. Tenang aja," jawab Adel, mencoba tersenyum meski hatinya kacau.
"Ya udah kalau gitu. Jangan terlalu dipikirin, ya," ucap Ibu Adel sebelum kembali ke dalam.
Belum sempat Adel menarik napas lega, ponselnya bergetar. Nama Riska, sahabatnya di kampus, terpampang di layar. Ia langsung mengangkat.
"Halo," sapa Adel pelan.
"Halo, Del," suara Riska terdengar tergesa.
"Ada apa?" tanya Adel, keningnya berkerut.
"Ini soal proyek itu, kelompok kita nggak mau kerja, gimana dong?" keluh Riska.
"Apa lagi, nih? Siapa yang nggak mau kerja?" nada suara Adel mulai kesal.
"Ya anggota kelompok kita, selain kita berdua, mereka nggak ada yang gerak," jawab Riska, terdengar jengkel.
"Hah? Orang-orang itu? Ya Tuhan, ku gecek lama-lama!" Adel menghentakkan kakinya ke lantai teras.
"Gimana, Del? Kamu kan masih sakit," Riska ragu-ragu.
"Gapapa, aku bantuin dari rumah aja," jawab Adel cepat.
"Tapi, Del..." Riska seperti ingin menahan Adel.
"Udah gapapa. Kalau nggak dikerjain malah jadi beban. Lagi pula, bentar lagi kita masuk semester 3, kan," ucap Adel, mencoba menenangkan sahabatnya.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Riska lagi.
"Gapapa, tenang aja," Adel memaksa suaranya terdengar mantap.
"Ya udah kalau gitu, makasih ya, Del." Riska
"Iyaa." Adel
KAMU SEDANG MEMBACA
SI HUMORIS
HumorSI HUMORIS bukan hanya tentang tawa dan canda, tetapi juga tentang persahabatan yang erat dan saling mendukung. Mereka saling menguatkan saat sedih, saling menghibur saat terpuruk, dan selalu ada untuk satu sama lain dalam suka dan duka. Kisah merek...
