~~~
"Hiduplah lebih baik manusia favoritku, sampai jumpa"
~~~
Hari itu cuaca tidak bersahabat. Hujan disertai angin turun sejak sore, membasahi koridor kampus yang kini mulai sepi setelah jam perkuliahan berakhir. Sahil berjalan pelan, tangannya dimasukkan ke saku jaket, langkahnya tak benar-benar punya tujuan.
Pikirannya melayang.
Di satu sisi, ia merasa lega, bahkan bahagia. Mutia dan Noval akhirnya resmi menjadi sepasang kekasih setelah perjalanan panjang yang melelahkan. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Hari itu terasa seperti penutup dari bab lama yang akhirnya selesai ditulis.
Namun anehnya, kepalanya justru penuh oleh satu nama.
Adel.
Sejak kejadian Mutia mencelakai Adel, Sahil tidak menyadari bahwa Adel telah menjaga jarak dengannya. Bukan karena Adel salah, justru sebaliknya. Ia tahu betul, akar masalahnya adalah Mutia yang gagal move on darinya. Upaya Mutia untuk kembali, yang berujung pada luka orang lain, membuat Sahil cemas. Dan jarak itu... terlanjur tercipta.
Sahil berhenti di ujung koridor. Matanya menatap hujan yang terus mengguyur pepohonan dan taman kampus. Bunga-bunga yang biasanya cerah kini tertunduk, basah dan diam. Seperti perasaannya sendiri.
Ponselnya bergetar di saku celana. Satu pesan masuk.
Dari Kella.
Kella
Online
Hil, Adel balik kos hari ini. Katanya mau mulai kuliah lagi pelan-pelan.
Sahil membaca pesan itu berkali-kali. Ia memastikan tiap kata, takut salah paham. Detak jantungnya mendadak lebih cepat. Ada rasa lega yang mengalir, disusul bahagia yang tak ia sangka.
Ia langsung membalas singkat.
"Alhamdulillah. Makasih udah ngabarin"
Ponsel itu kembali masuk ke sakunya. Sahil menghembuskan napas panjang, seolah baru saja melepas beban yang lama tertahan. Ia meneguk air mineral yang tersisa di botolnya, lalu menatap langit kelabu.
Dalam hatinya, sebuah keputusan perlahan mengeras.
Kali ini bukan tentang Mutia.
Tapi tentang dirinya... dan Adel.
Di sisi lain kota, Adel duduk di tepi ranjang kosnya. Tas koper terbuka di hadapannya, isinya tertata rapi, pakaian, buku, dan perlengkapan kuliah yang sempat ia tinggalkan. Namun pikirannya jauh dari kerapian itu.
Dua minggu lagi UAS.
Dan ia nyaris belum membuat catatan apa pun.
Kamar kosnya sempit, tapi bersih. Dindingnya polos, kecuali satu foto lama yang tertempel di sana. Foto berempat saat SMA. Adel berdiri di depan, tersenyum lebar. Di belakangnya, Sahil berdiri sedikit menyamping dengan ekspresi datar, ekspresi yang dulu sering ia ledek.
Adel menatap foto itu lama.
"Aku kangen mereka," gumamnya pelan. "Kapan ya bisa ketemu lagi..."
Tangannya menekan dadanya sendiri. Ia merasakan detak jantungnya, belum sepenuhnya stabil. Dokter sudah bilang, asam lambungnya bukan sekadar soal makan. Ini tentang pikiran. Tentang beban yang terlalu lama dipendam, tentang kebiasaan mengalah, tentang selalu memikirkan orang lain sampai lupa menjaga diri sendiri.
Adel adalah anak pertama.
Sejak kecil, ia terbiasa jadi penyangga.
Yang kuat.
Yang mengalah.
Yang selalu bilang, "nggak apa-apa."
Di waktu yang hampir bersamaan, Sahil memberanikan diri menghubungi Adel. Sesuai kabar dari Kella, hari ini Adel sudah kembali ke kos. Jarinya sempat ragu di layar ponsel, bahkan untuk sekadar menyapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
SI HUMORIS
HumorSI HUMORIS bukan hanya tentang tawa dan canda, tetapi juga tentang persahabatan yang erat dan saling mendukung. Mereka saling menguatkan saat sedih, saling menghibur saat terpuruk, dan selalu ada untuk satu sama lain dalam suka dan duka. Kisah merek...
