Sebelum membaca episode ini, silakan baca episode sebelumnya, "Bayangan Mutia".
~~~
Beberapa hari kemudian, setelah Adel pamit membeli buku, Sahil mencoba menghubunginya, tetapi tidak ada jawaban. Ia telah mencari Adel di seluruh lingkungan kampus, tanpa hasil. Kecemasannya semakin meningkat. Sahil memutuskan untuk pergi ke toko buku langganan Adel dan bertanya kepada pemiliknya.
"Selamat siang, Pak. Saya Sahil. Saya mencari seseorang atas nama Meriska Yulian Adella," kata Sahil.
"Adel? Oh, iya. Dia sering ke sini, tapi akhir-akhir ini dia tidak datang," jawab pemilik toko.
"Oh begitu. Apakah ada yang aneh selama dia di sini?" tanya Sahil.
"Tidak ada yang aneh, tapi beberapa hari yang lalu dia terlihat sangat lesu," kata pemilik toko.
Sahil tertegun, kekhawatirannya semakin bertambah. Ia memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut dan menghubungi Kella. Untungnya, Kella menjawab panggilannya.
Panggilan telepon
Sahil: Halo kel. Kamu sama Adel nggak? Aku udah coba hubungin dia, tapi nggak bisa.
Kella: Loh Sahil? Ada apa? Adel? dia agak menghindar dari semua orang akhir-akhir ini. Katanya butuh waktu sendiri.
Sahil: Dia bilang gitu? dia baik-baik aja kan?
Kella: Aku juga nggak paham sih. Kayaknya dia stres. Mungkin karena tugas?
Sahil: Mungkin.
Kella: Kirain kamu dah tau. Makanya aku diem aja.
Sahil: Aku nggak tau apa-apa, makanya aku bingung.
Kella: Hmm, nanti aja deh kalau Adel ada kabar, kabarin aku juga.
Sahil: Ya udah kalau gitu. Makasih ya.
Kella: Oke.
Panggilan Berakhir
Sahil terus mencari Adel hingga ke Alun-Alun kota. Alun-alun ramai dipenuhi pengunjung dari berbagai usia. Sahil berharap Adel ada di sana, dan ia juga berharap Mutia tidak menyerangnya lagi hanya karena ingin balikan dengan Sahil.
"Ya Tuhan, aku sudah lelah mencari Adel. Dia di mana?" Sahil mulai putus asa.
Karena kebingungan, mereka tak sengaja bertemu tanpa saling menyadari. Adel berjalan di belakang Sahil, sementara Sahil sedang melihat ke arah lain.
"Del! Kamu di mana?" Sahil berbisik lirih sambil menunduk.
Kekhawatiran Sahil semakin besar. Ia menyadari bahwa menjauhi Adel bukanlah solusi. Ia harus menemukan cara untuk melindunginya dari Mutia atau orang suruhannya.
Sahil hampir menyerah dan hendak kembali ke parkiran untuk mengambil motornya, saat itu juga ia melihat Adel sedang makan Mie Lidi di gazebo Alun-Alun yang terlihat dari parkiran.
Mata Sahil terbelalak. Ia langsung berlari menghampiri Adel, takut kehilangan jejaknya.
"Adel!!" teriak Sahil.
"Sahil?" Adel menoleh, menatap Sahil.
"Kamu di mana aja?" tanya Sahil.
"Eh, Hil, jangan dekat-dekat, nanti Mutia tahu," kata Adel.
"Mutia nggak ada di sini, tenang aja," Sahil meyakinkan.
"Kita udah bicarakan ini," kata Adel.
"Aku khawatir sama keselamatanmu," Sahil menjelaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SI HUMORIS
HumorSI HUMORIS bukan hanya tentang tawa dan canda, tetapi juga tentang persahabatan yang erat dan saling mendukung. Mereka saling menguatkan saat sedih, saling menghibur saat terpuruk, dan selalu ada untuk satu sama lain dalam suka dan duka. Kisah merek...
