Rumah singgah 13

36 3 1
                                        


"Oo jadi Sekarang andra udah di kenalin ke keluarga besar nih.." kata baby mengangguk-anggukkan kepalanya berusaha menggoda sahabatnya itu.

"Bukan gitu niatnya.. tapi andra maksa ikut pas gue mau jengukin nenek gue yang di bandung.."

"Ehemm.. ehem.. ehemm.. kayaknya ada yang udah serius banget nih pacarannya"

"Apaan sih lo.." kata agatha yang tampak berusaha menahan senyumnya.

"Tapi lo nggak lupa kan siapa andra? Saran gue nih ya, kalo bisa lo cintanya jangan seratus persen.. udah, tiga puluh persen aja atau paling mentok lima puluh persen cukup.. gue udah males ngeliat lo nangis-nangis kayak kemaren "

"Yee kalo bisa gitu mah enak.. kita mana bisa nakar kadar cinta kita ke orang pe'a.." kata agatha menoyor pelan kepala gadis di depannya itu.

"Hah? Emang nggak bisa ya?"

Agatha langsung menggeleng dan menepuk jidatnya sendiri. "Nggak pernah pacaran sih lo.."

"Yee lo juga baru pertama keles.. udah sok senior lo..."

"Tapi seenggaknya gue sedikit punya pengalaman..."

"Tok..tok ..tok.."

"Baby..."

Seorang wanita membuka pintu dan membuat dua remaja itu langsung menghentikan ocehan menoleh ke arahnya. "Kenapa ma?"

"Waktunya makan malam, ajak Agatha turun yuk.. kita makan sama-sama.."

"Ooh iya mah.." kata baby mengangguk patuh. "Yuk tha.." sambungnya lagi sambil menarik tangan sahabatnya itu.

Agatha pun hanya mengangguk dan berjalan mengekor di belakang baby, mengikuti sampai ke meja makan dan ikut makan malam bersama keluarga baby yang bisa dibilang cukup ramah.

Sejak pulang sekolah, agatha memang sudah berada di rumah baby. Karena orang tuanya akan menghadiri sebuah pesta malam ini, rasanya sangat tidak enak berada di rumah sendirian apalagi ikut ke pesta. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menginap di rumah baby.

"Eh tapi lo udah ngabarin andra kan kalo lo nginep disini?" Tanya baby ketika mereka telah kembali ke kamar usai makan malam.

Mengingat itu, agatha pun langsung menepuk jidatnya pelan. "Astaga gue lupa.. handphone gue mati.." dengan cepat agatha mencari benda pipih persegi itu di dalam tas miliknya. Sungguh ia benar-benar lupa kalau ia belum mengisi daya benda tersebut.

"Charger an lo mana?"

"Tuh di atas meja.."

"Kok bisa lupa gini sih.." dumel agatha sambil berjalaan ke arah yang di sebutkan baby tadi.

Sementara di sisi lain, andra tampak gelisah karena agatha hilang kabar. Sejak siang ia sama sekali tidak bisa menghubungi gadis itu. Sepulang sekolah pun ia tiba-tiba menghilang tanpa menunggu andra terlebih dahulu.

"Kamu kemana sih tha.." gumam andra sambil beberapa kali memperbaiki posisi tidurnya.

"Apa gue kerumahnya aja ya?" Pikir andra.

Ia benar-benar bingung saat ini, apakah gadis itu sedang marah? Tapi jika di pikir-pikir ia tidak pernah merasa berbuat salah. Bahkan ketika jam istirahat pun mereka masih makan bersama di kantin.

Lantas apa? Mengapa perempuan kadang semenyebalkan itu. Kadang setiap detik minta di kabari. Sedangkan dia, begitu santai tidak mengabari hingga seharian.

Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya andra pun mulai bangkit mengambil jaket dan kunci motornya. Ia tidak bisa diam dirumah dengan perasaan tidak karuan. Ia harus mencari agatha sekarang kerumahnya. Siapa tau ia sedang membutuhkan andra."handphone gue mana lagi nih.." gumam Andra sambil meraba saku dan memeriksa tempat tidurnya. Namun nihil, ia sama sekali tidak menemukan benda tersebut. Akhirnya karena takut kemalaman, andra pun langsung berangkat tanpa membawa ponsel.

RUMAH SINGGAH Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang