[MYSTIQUE BOND] : 11. Resah di Rasa

95 12 11
                                        

❝ANDAI KERESAHAN JIWA TAK MENUTUP SINYAL ASMARA YANG MENGGEBU

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ANDAI KERESAHAN JIWA TAK MENUTUP SINYAL ASMARA YANG MENGGEBU.

╞═════𖠁★𖠁═════╡

Bilamana takdir sudah menuntun alpha biru pada sang mate. Maka tak ada lagi alasan untuknya bersegera mengikat sang mate dalam hubungan yang jelas dan kian dekat. Sebagaimana tali merah yang mengaitkan kelingking mereka masing-masing, untuk menegaskan bahwa ini adalah kemutlakan yang haram untuk dielak.

Ansel pikir dengan menjadikan Ranaya sebagai tutor lukisnya akan membuka peluang makin besar untuk dirinya selangkah lebih dekat dengan sang mate. Namun itu sepertinya hanya angan semu yang harus Ansel telan bulat-bulat, sebab si gadis manusia bukanlah orang yang mudah untuk Ansel dekati dengan cara yang serampangan.

Akan tetapi, itu tidak bisa menjadi alasan Ansel untuk menyerah pada gadisnya. Apa itu putus asa? Sungguh tak akan pernah ada di kamus hidup milik alpha biru itu.

Ketika ia sudah menemukan sang mate. Maka sumpah mati telah ia ucapkan pada semesta sebagai tanda bahwa itulah tujuan hidupnya yang sebenar-benarnya. Ansel akan melakukan segala cara agar bisa meruntuhkan tembok tinggi milik Ranaya, mungkin memang akan sulit dan berbelit-belit. Tapi tak apa, ini adalah pembuktiannya sebagai seorang alpha, haram baginya untuk mencoreng harga diri jika ia berputus asa akan cinta.

Meskipun—

"Begini yang benar?"

"Tidak!"

"Apa harus aku tambah garis di sini?"

"Tidak!"

"Bukankah ini terlalu miring?"

"Otakmu yang miring!"

"Cih, sepertinya ini terlalu tebal. Apa perlu ku singkirkan saja?"

"Bagaimana kalau kau saja yang aku singkirkan!"

"Tapi ini kelihatannya sudah oke—"

"Kau! Astaga, sudah berapa kali kubilang jangan terlalu kau tekan begitu pensilmu! Kalau begitu arsirannya tidak akan berdimensi! Dasar tidak becus! Sekarang ulangi lagi dari awal sampai benar! Lihatlah pola ini astaga—" Suara kemurkaan Ranaya menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan seni rupa EXN yang sangat luas itu. Di dalamnya memang hanya diisi mereka berdua, jadi apapun itu bunyi jadi terasa menggema. Ranaya melotot marah sembari berkacak pinggang di samping Ansel yang sudah merenggut menatap pias kanvas yang penuh dengan coretan di hadapannya. Ia sama sekali tak mengerti mengapa Ranaya selalu emosi ketika mengajarinya. Namun sebenarnya Ranaya memang sangat telaten dan perfeksionis jika berkaitan dengan dunia lukis, gadis manusia itu tak akan menerima kesalahan setitik apapun terhadap lukisan yang sejauh ini ia nilai. Ranaya memang terkenal dengan sikap dingin dan mulut pedasnya, tetapi gadis manusia itu sebenarnya lebih cenderung tenang dan mementori anak didiknya dengan pelan-pelan meski lebih terlihat seperti apatis. Lain halnya ketika gadis manusia itu mengajari Ansel. Ranaya cenderung berapi-api dalam proses pengajarannya, mana sudi ia beramah tamah pada pemuda yang sudah berani mengacau dalam hidupnya ini. Kelas privat ini sudah berlangsung sepekan lebih, dan dari awal Ansel menginjakkan kakinya disini Ranaya langsung memasang wajah garang dan tak segan-segan memarahinya. Semua yang Ansel lakukan seperti serba salah di mata si gadis manusia. Bahkan mungkin Ansel bernapas pun juga salah bagi Ranaya.

MYSTIQUE BONDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang