{🔛MYSTIQUE BOND - BAHASA}
❝Ketika bumi mempermainkan sembari tertawa terpingkal-pingkal sebuah rasa yang telah mati.
Tak pernah setuju pada rembulan yang selalu memperhatikan di tengah gelapnya malam.
Memangnya apa yang harus dipertahankan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❝SUATU IRONI YANG KEJAM, APABILA KAU BERPIKIR AKU MELAKUKAN HAL ITU DENGAN KESENGAJAAN.❞
╞═════𖠁★𖠁═════╡
"Selamat pagi, Presdir."
Derap langkah menggema di lobby perusahaan game ternama dan terbesar di Jerman sampai penjuru dunia—FlawlessCompany. Semua orang yang berada di lobi membungkukkan tubuh 90 derajat penuh hormat pada CEO mereka, yang tengah berjalan angkuh menuju lift dengan mata elangnya yang tajam itu menatap lurus kedepan tanpa berniat untuk melirik para karyawannya yang masih terus membungkuk hormat padanya.
Meninggalkan jejak dominan disetiap langkahnya, pria dengan setelan jas abu-abu berpadu kemeja putih, celana bahan dengan warna serupa pun mullet hair-nya yang ditata rapi membuat ia semakin tampan bak pangeran negeri dongeng. Ia berjalan dengan penuh arogansi sebagaimana statusnya yang merupakan alpha dominan, itu hal yang wajar. Ia tidak perlu memikirkan bagaimana impresi orang terhadapnya karena pada dasarnya para alpha sama sekali tidak memerlukan pendapat orang lain karena mereka-lah yang menjadi pemimpin mutlak disini. Otoriter?—oh, sudah tentu.
Disampingnya, ada sang sekretaris yang sedang membacakan apa saja jadwal pekerjaannya hari ini, "Presdir. Jadwal pagi ini anda ada rapat yang akan dimulai setengah jam lagi, lalu anda akan langsung ke Madrid untuk menghadiri konferensi pers mengenai pembaruan dan peluncuran game terbaru kita. Sorenya ada dua rapat lagi dengan kepala divisi kantor pusat."
"Dan juga, malamnya anda mendapatkan undangan ke pesta ulang tahun anak sultan--"
"Aku tidak ingin mempunyai jadwal apapun setelah makan siang." Sang CEO menghentikan begitu saja ucapan panjang lebar si sekretaris.
"Ta-tapi, Presdir..."
"Kau mau membantah?" Lelaki alpha itu mengangkat satu alis—bertanya dengan nada dingin—menatap datar ke arah sang sekretaris yang seperti tidak menyetujui keputusannya.
Membungkuk, si sekretaris segera meminta maaf. "M-maafkan saya, Presdir."
"Rapatnya dimajukan lima menit lagi, segera siapkan bahan untuk rapat pagi ini. Dan kuberi kau waktu untuk mengumpulkan semua orang dalam dua menit." Setelah bertitah dengan diktator seperti itu—yang membuat si sekretaris menahan napas tercekik—perintah yang amat gila dan hanya CEO-nya saja yang memiliki itu. Pria itu lantas memilih berlalu begitu saja, memasuki lift yang menuju lantai 50—ruang CEO-nya.
Dering ponselnya bergema ketika pintu lift terbuka—saat telah sampai di lantai 50, sontak saja ia merogoh saku, lalu sebuah nama terpampang di layar persegi pintar miliknya itu. Ia tak lantas mengangkatnya, lebih memilih meneruskan langkah menuju ruangannya dan disaat ia telah menutup pintu ruang CEO-nya itu, tanpa pikir panjang ia dengan segera mengusap tombol hijau dan menempelkan ponselnya itu di telinga.