{🔛MYSTIQUE BOND - BAHASA}
❝Ketika bumi mempermainkan sembari tertawa terpingkal-pingkal sebuah rasa yang telah mati.
Tak pernah setuju pada rembulan yang selalu memperhatikan di tengah gelapnya malam.
Memangnya apa yang harus dipertahankan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❝SEBAGAIMANA GARIS TAKDIR YANG TAK PERNAH KELIRU.❞
╞═════𖠁★𖠁═════╡
Untuk memulai hari, biasanya Ansel akan menyeduh kopi hitam sebagai penuntas dahaga sehabis ia melahap beberapa potong walffle almond yang diolesi selai buah persik kesukaannya. Pagi hari yang mendung dengan udara beku adalah tanda musim dingin telah menjelang, dedaunan kering yang gugur terlihat lembab akibat angin dingin membawa tetes-tetes air sejuk nyaris menjadi es kemudian jatuh tak berdaya di atas tanah yang berdebu. Jejak embun tampak tebal di kaca jendela, menghalangi cahaya mentari yang berusaha menerobos. Tetapi tak bisa sebagaimana kepulan asap dari kopi hitam milik Ansel yang hilang tak sampai mengudara.
"Huh? Kau sudah rapi sepagi ini?" Suara serak Jansen kemudian menginterupsi, pemuda yang lebih muda satu tahun dari Ansel dan merupakan sepupunya itu sekarang tengah menuruni anak tangga sembari menggaruk perut lengkap dengan wajah bantal, dan tampak ada jejak-jejak air liur di sudut bibir--tetapi meskipun begitu, kerupawanan pemuda alpha itu tidak berkurang sama sekali.
"Apa pukul 11 lewat 37 menit itu, masih bisa disebut pagi?" Ansel menyahut, tetapi tidak berniat untuk menoleh pada Jansen ketika pemuda itu sudah duduk di depannya dan langsung menjatuhkan kepala di atas meja marmer yang dingin.
"Ya... bagiku ini masih pagi--ah, tidak-tidak ini masih fajar! lihat, bahkan sinar matahari tidak terlihat dimanapun." ucapnya sembari menggeleng-gelengkan kepala, kedua matanya sudah tertutup lagi sejak ia meletakkan kepalanya dengan pasrah di atas meja. Melihat keadaan ini membuat Ansel berpikir bahwa Jansen masih teler, bau alkohol jelas tercium oleh Ansel dengan jarak mereka yang sedekat ini. "Omomg-omomg, siapa yang membawaku kemari?"
"Tentu saja Yasmine." jawab Ansel acuh. "Seperti biasa dia dengan senang hati menyeretmu dari pintu apartemen sampai ke kamar lalu menendangmu ke atas ranjang."
"Ah! Dan dia juga menempeleng kepalamu ketika kau hendak memeluknya." lanjut Ansel.
Jansen lantas berdecak, dengan mata yang masih terkantuk ia bergumam kesal. "Dasar gadis itu memang selalu ingin ikut campur dengan urusanku. Harusnya sekarang ini aku tengah menikmati kegiatan pagi yang menyenangkan bersama omega ataupun beta," Ia mengangkat kepalanya lalu menatap Ansel dengan seringai tipis, "kau harus tahu Ansel, kelab Paman Phillip benar-benar menyediakan omega yang luar biasa."
"Tubuh mereka berliku bak jam pasir, elok sekali untuk mengundang gairah. Semalam aku berdansa dengan beberapa dari mereka, sungguh Ansel saat tubuh itu menari meliuk-liuk di sekitarku aku tak dapat menahan air liur untuk tak jatuh, bokong sekal, buah dada yang bulat dan kencang, aku kira-kira benda itu sangat pas dengan tanganku, memang begitu menggoda—ARGHH!!!"
Jansen tak selesai, karena tiba-tiba saja sebuah regaman tangan mendarat tepat pada kepala belakangnya. Kemudian Jansen mendapat cacian hina dari seorang gadis bermata sipit nan tajam pun surai merah panjang yang tak lain adalah pelaku penganiayaan atas kepala Jansen pagi ini.