{🔛MYSTIQUE BOND - BAHASA}
❝Ketika bumi mempermainkan sembari tertawa terpingkal-pingkal sebuah rasa yang telah mati.
Tak pernah setuju pada rembulan yang selalu memperhatikan di tengah gelapnya malam.
Memangnya apa yang harus dipertahankan...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
❝HANYA APABILA KAU SUDI MEMBUKA JALANKU, ATAU HANYA APABILA KAU MAMPU BERTINDAK ATAS HATIMU.❞
╞═════𖠁★𖠁═════╡
Bugh! Bugh! Bugh!
"Sammy, stop it!"
Kepalan tangan kekar Samuel menghantam tepat pada ulu hati milik Ansel yang langsung terbatuk. "You're such a jerk!" umpatnya dengan suara berat sarat akan amarah yang tengah menyala-nyala di mata tajam alpha dominan itu. Feromon Samuel kini pekat sebagaimana tinta hitam pada kertas putih, memblokir oksigen disekitarnya sampai-sampai Sora terpaksa melangkah mundur agar menjauh dari kedua pemuda itu-Sora mulai melangkah menjauh sebab aroma laut dalam yang kelam dan mematikan begitu menusuk penghidunya. Tampaknya Samuel betulan mengamuk atas kejadian tempo hari.
Bugh!
"Itu untuk janjimu yang kau ingkari untuk menjaga Ranaya!"
"Sammy! Oh My Godness!" Sora meringis sembari menatap iba pada Ansel yang hanya pasrah saat wajah tampan alpha biru itu jadi samsak empuk bagi Samuel.
Sudah setengah jam kekerasan ini berlangsung, dengan markas dan 3 pemuda alpha lainnya menyaksikan dalam kebisuan amukan Samuel atas alpha biru yang sedari tadi menjadi samsak baginya. Ruangan yang biasanya riuh karena kelakar yang dilontarkan Luke, atau semua jenis umpatan dari Bastian, ataupun selentingan musik klasik yang diputar Wiliam kini hanya dipenuhi oleh suara pukulan, ringisan dan batuk darah yang berasal dari si alpha biru yang malang.
Ansel melirik ketiga sahabatnya dengan mata yang telah memerah menahan sakit. Tampak Bastian sedari tadi menahan diri untuk tidak ikut campur, sebab bagaimana bisa ia diam saja disaat Ansel-kawan karibnya dibabak beluri sedemikian rupa? Tapi tentu saja sejak awal Ansel memberinya peringatan lewat tatapannya agar alpha dominan itu tetap diam ditempat. Sementara Luke hanya mampu menunduk tanpa bisa berbuat apapun, Wiliam di sudut sofa hanya memandangi dirinya dengan tatapan dingin seperti biasa, seakan-akan pemuda alpha itu berkata, "inilah bentuk pertanggungjawabanmu."
Bugh!
"Arghss-"
Begitulah tubuh milik Ansel luruh tersungkur, saat ulu hatinya dihantam tanpa ampun oleh Samuel untuk terakhir kalinya. Napas pemuda alpha biru itu tersengal-sengal, sesak luar biasa namun ia berusaha untuk tetap menjaga keseimbangan, darah melumuri nyaris seluruh wajahnya yang rupawan. Biru lebam menjalari pelipis sampai ke sisi pipi kanannya, kemudian ia mendongak menatap Samuel yang berdiri angkuh di depannya kini. "Aku rasa sudah cukup untukmu, Akibaraz." ucapnya menyeringai.
"Tutup mulutmu itu, bodoh! Jangan sampai aku benar-benar menghabisi kau saat ini juga." balas Samuel menggertak. Ansel ini bukan main, berani sekali pemuda alpha biru itu berkata demi kian padanya pikir Samuel.