EPS 18
>>>
HAPPY READING
...
"Rasa sakit atau rasa aman?"
•••
#Flashback
1 hari sebelum sekolah
Terhitung satu minggu telah berlalu dari kejadian kelam itu. Athala melewati masa hukuman dan didikan sebagai penerus Wheeler selama satu minggu penuh itu.
Dan tepat di sore menjelang malam ini Athala diperbolehkan beraktivitas seperti biasa. Artha sudah memperbolehkan Athala untuk menyelesaikan hukumannya.
Untuk didikan sendiri Artha akan selalu mengawasi setiap pergerakan Athala.
Athala keluar dari ruangan sialan itu. Dengan banyaknya luka di wajah maupun pada bagian tubuh lainnya akibat hukuman. Penampilan Athala sangat berantakan dan mengenaskan.
Saat akan menaiki lift untuk kekamar nya pemuda itu berpapasan dengan kedua adik kembarnya yang sudah siap akan makan malam. Mereka turun dari lift dengan atensi penuh menatap athala.
Mereka cepat-cepat menyingkir dari dalam lift dan membiarkan kakak mereka untuk masuk. Mereka berdua baru melihat lagi keberadaan sang kakak. Mereka tebak Athala baru saja dibebaskan oleh ayah mereka.
"Apa bener kata buna ya al, kakak udah kembali ga peduli sama kita?"
Altar tersenyum menyemangati dan masih berfikir positif dengan respons kakaknya barusan.
"Kakak cuma kecapean itu, ga perlu terlalu dipikirin tair. Nanti kita coba ngomong sama kakak kalo semuanya udah agak tenang. Sekarang kita kemeja makan, buna sama daddy pasti udah nunggu."
"hm."
.
.
.
tok tok tok
"Atha, buka nak ini buna."
Suara Zeyan yang lembut dan penuh akan kasih sayang itu membuat Athala sedikit luluh dengan ibunya ini.
Apakah memang Zeyan ini bunglon? Bisa berkamuflase kapan saja.
ceklek
Athala membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan ibunya untuk masuk. Zeyan memperhatikan setiap sudut kamar putranya yang masih sama dan tidak banyak yang berubah.
"Baru selesai mandi hm? Mau buna bantu mengeringkan rambutnya?"
"Ya."
Zeyan tidak masalah dengan jawaban yang Athala beri. Karena memang sifat Athala terbentuk oleh didikan suaminya dan juga patua bau tanah siapa lagi jika bukan mertuanya.
"Sini duduk."
Titah Zeyan yang menepuk bangku rias setelah menyalakan hairdryer. Athala menurut dan menikmati setiap kasih sayang yang ibunya berikan. Karena di kehidupan dulu maupun sekarang dirinya kurang kasih sayang.
"Atha, maafkan buna ya tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan buna, sayang."
"Maafkan ibu ya nak, ibu memang lemah tidak bisa berbuat apa-apa."
KAMU SEDANG MEMBACA
DIA ATHALA [BxB]
Diversos|Cerita bxb homo, jika tidak suka silahkan pergi dari lapak ini tanpa meninggalkan jejak. Hate? Blok.| "WHAT?!! GUE PUNYA PEDANG?!!" _ _ _ Penasaran dengan kelanjutan nya, maka ikuti perjalanan nya didunia novel dengan ditemani Sistem yang cukup men...
![DIA ATHALA [BxB]](https://img.wattpad.com/cover/362654640-64-k74659.jpg)