#8 SESUATU DALAM DIRI EL

40 4 1
                                        

E X A C T ~ #8 SESUATU DALAM DIRI EL

=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•

Selamat datang di bioskop gue.

Hidup ini adalah mimpi. Atau mimpi ini adalah hidup. Dimensi manusia begitu bias sehingga kita amat bebas untuk berharap. Yang mana saja yang kamu sukai, percayalah itu sebagai hidupmu.

Itu yang pernah gue denger, sekaligus yang pernah gue pelajari langsung dalam hidup gue. Walau jujur aja, kalau gue pribadi, gue tidak akan bisa milih yang mana yang sebaiknya menjadi hidup gue, sebuah lorong becek penuh tangan tak terlihat yang menyiksa gue dan membiarkan gue dan membiarkan gue berteriak dalam kegelapan. Sedangkan bumi yang gue injak adalah negeri kabut yang hujan sepanjang tahun. Yang langitnya tidak pernah berawan dan udaranya sanggup membunuh gue dalam kebekuan.

Keduanya sama-sama neraka. Keduanya sama-sama menginginkan gue mati. Dan yang terpenting, keduanya nyatanya harus gue alami setiap hari. Jadi, adakah alasan bagi gue untuk ngotot sok memilih? Tidak ada, jelas.

Lalu, apa yang harus gue lakukan? Tentu saja tidak usah melakukan apa-apa. Gue tinggal duduk di bioskop yang sunyi kemudian menonton hidup gue sendiri. Tanpa harus ikut bermain di dalamnya. Cukup memakan popcorn gue dan tertawa di semua adegan, baik adegan bahagia maupun sedih. Karena gue senang terlihat bahagia.

Hmm, sudahlah. Bagaimana kalau mimpi kita malam ini kita lewatkan juga di dalam bioskop? Pasti akan menyenangkan. Mari ikuti gue.

Setelah mengambil karcis dari loket yang tidak ada penjaganya, kita langsung saja masuk ke ruang teater. Tidak usah pedulikan orang-orang, mereka tidak akan bisa meliat kita. Toh mereka juga menembus kita. Tidak ada yang sadar adanya kita disini.

Ayo silahkan duduk. Sebentar lagi filmnya mulai. Kalau ada adegan yang tidak kamu mengerti, gue akan menjelaskannya. Nikmati saja.
....

Scene 1.
(Eh, sebentar. Bangku kosong sebelah kita, akhirnya terisi seseorang. Seorang gadis berambut ikal. Tidak terlalu cantik, tapi gue senang dia bisa datang malam ini. Gue kenal dia. Sementara si dunia ini sendiri, mungkin cuma dia yang benar-benar mengenal gue. Kami berteman baik. Baik sekali karena memang hanya dia temen gue.

Kenalkan, namanya Iris. Iris Vadista)

Scene 1.

Sebuah cafe pinggir jalanan yang lenggang. Sederhana, berada di pojokan. Jika tidak benar-benar mencarinya dalam jajaran toko bunga di sekelilingnya, kamu tidak akan menemukannya. Catnya dikuasai warna pastel cerah. Terpantul lembut oleh usapan cahaya matahari jam 2 siang.

BRAKKK!

"Apa??? Jangan ganggu gue!! JANGAN SOK BAIK! GUE TAU SEMUA ORANG DI SEKITAR GUE! Munafik semua! Jadi, jangan lo kira gue BEGO!"

BRAK!

Remaja laki-laki itu menghantam kasar meja di depannya. Membuat gadis berwajah ceria yang sedang menyodorkan tangan kepadanya, melonjak kebelakang. Pucat. Sementara, remaja laki-laki itu masih terengah marah. Mengepalkan tangannya.

"Maaf...," bisik gadis itu.

"DEKETIN LAGI GUE TONJOK LO KAYAK GUE NONJOK MEJA TADI!!" bentaknya.

Si gadis tertegun.

"Be-besok... Besok kita ngobrol lagi ya?

"HEH--"

"Ahhh, iya! Nama saya Iris."

"DASAR CEWEK SIAL--"

"Nama kamu?"
......

Scene 2.

EXACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang