#10 INVESTIGATE

53 5 0
                                        

E X A C T ~ #10 INVESTIGATE

=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=

Pagi hari selalu jadi kotak cokelat yang menarik untuk dibuka bagi Michael. Dia tidak pernah tau akan mendapatkan rasa apa di balik cokelat-cokelat tersebut setiap harinya. Sebuah fase waktu yang diam-diam selalu Michael tunggu.

Dan hari ini, ternyata ia mendapatkan rasa yang agak membingungkan.

"Nessa?" gumam Michael, mematung di tempatnya.

Sebuah kejadian gila menyapa matanya, tepat ketika ia masuk gerbang sekolah. Terlampau gila, sampai ia tidak tau harus berbuat apa.

Ya, Nessa, gadis itu, menggegerkan semua orang yang melihatnya pagi ini. Pasalnya dengan langkah lemah, ia berjalan masuk sekolah pagi ini setelah sehari sebelumnya mencoba bunuh diri di kamar mandi. Tingkahnya seperti tidak terjadi apa-apa. Memang tangannya terbalut perban putih, tapi dalam pose begitu, ia bukannya terlihat seperti pesakitan, malah seperti petinju!

Agak tidak masuk akal, memang. Tanpa pemaksaan diri dari pasien, tidak mungkin bisa keluar rumah sakit secepat itu. Meski, sangat lemah.

Yang jelas, Michael adalah satu-satunya pihak yang gembira melihat kembalinya Nessa. Ia ingin menemui gadis itu sesegera mungkin. Tidak ada yang bisa ia lakukan ketika dirinya berpapasan dengan Nessa, selain tersenyum lebar kepadanya. Nessa memang ngeloyor pergi tanpa membalasnya, tapi Michael maklum. Ia malah sibuk mengatur rencana untuk bicara dengan Nessa istirahat nanti.

Iris, Iris, Iris... Belagu juga ya, reinkarnasinya? batin Michael geleng-geleng. Alah, paling pura-pura. Bisa diaturlah. Cewek kayak gitu... Sekali kedip juga tepar.

Namun sialnya, bayangan gadis itu terus berjinjit di sudut otaknya sampai jam pelajaran dimulai. Jadi alih-alih mencatat atau mengerjakan soal, Michael malah mencoret-coret kertas belakang buku pelajarannya dengan segala pikiran yang mengimpitnya akhir-akhir ini. 'teman-teman'nya, Iris, Nessa, semuanya. Dihujatnya semuanya. Dimuncratkannya semua isi hatinya.

Michael memang senang mencoret-cordt kertas kalau sedang bete, dan kebiasaan ini sudah dilakukannya sejak SMP dulu. Selain mendengarkan lagu rock atau menyakiti dirinya sendiri, inilah sara Michael melampiaskan rasa marah dan kesal yang tidak pernah diungkapkannya.

Cewek belagu bego tukang bunuh diri dimasukin Iris... Darn..., tulisnya kesal. Diliriknya Ray yang tadi setahunya sedang membaca komik Naruto, sekedar memastikan Ray tidak melihatnya mencoret-coret kertas begitu. Tapi, ternyata Ray memang sedang menatapinya! Michael buru-bury memasukkan bukunya ke dalam tas.

"Liat apa lo?" tanyanya ketus, membuat Ray segera nyengir tanpa dosa.

"Apa ya? Nggak, ngeliat kuman di tangan lo," Ray mengajykan alasan yang amat menyanjubg intelektual.

Michael menarik napas.

"Lo baca?" sekidiknya, sambil menyalahkan diri mengapa ia sampai mencoret-coret begini di sekolah. Ini kali pertamanya. Biasanya ia melakukannya di rumah.

Sial, gawat kalau dia tau..., pikir Michael panik.

Namun, Ray menggeleng. "Nggak," jawabnya. "Tulisan lo tuh keren banget, Men, butuh tukang apotek berdedikasi tinggi buat bacanya."

Michael memaksakan mulutnya tertawa. "Hahah.. Oke, gye tau ahli sejarah kayak lo nggak pernah bohong," ujarnya di sela tawanya. "Awas aja. Gue bakar lo kalau lo sampe baca."

Ray bersiul. "Inilah tukang bakar kita.. Hahaha, lo bakat banget jadi tukang sate, Men, gue serius. Hahaha..."

"Lo juga bakat banget dagang arang," balas Michael, menyindir.

EXACTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang