E X A C T ~ #14 THE CONFESSION
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
[Last lines]
Nathan : You're f*ckin' sick. Don't do this.
Alex : Eeny, meeny, miny, moe.
(Elephant, 2003)
~~~=~~~
Ada sebuah film yang pernah Michael tonton beberapa tahun lalu. Film independen. Judulnya Elephant. Produksi tahun 2003, masuk HBO Films. Michael dulu memang tergila-gila menonton film. Ia menontonnya melalui VCD lama, di rentang waktu ketika ia masih bersama Iris.
Hal pertama yang Michael ingat tentang film ini adalah shot-nya yang aneh. Sepanjang film, si sutradara, Gus Vant Sant, sering menyorot punggung-punggung karakter yang berjalan di koridor sekolah. Padahal, karakter itu nggak ngapa-ngapain. Jalan kesini, jalan kesitu, ke kafe, ke kelas, diganggu orang, ketemu teman, ketemu pacar... Sudah. Begitu saja. Baru di ending saja semuanya jelas, yakni salah satu karakter remaja yang disorot sebelumnya, Alex, ternyata menggila dan mengajak seorang temannya untuk menembaki seisi sekolah.
Potret awalnya yang begitu "kosong" itulah ternyata justru motifnya. Ketika di satu adegan yang tampak remeh, dia diganggu oleh temannya. Ketika di satu adegan yang tampak remeh, dia kelihatan begitu kesepian di rumahnya.
Film itu sangat berbekas si benak Michael, mengingat kondisi dirinya yang kadang tidak jauh beda dengan keadaan si tokoh.
=========
E X A C T
=========
Jam Pelajaran Kedua (11-IPA-2)
Nessa memandangi awan diluar jendela. Masih mendung juga. Akhir-akhir ini, cuaca tidak pernah cerah. Dingin. Banyak orang, namun terasa dingin.
Nessa tersenyum. Mengeluarkan sebuah sachet susu cokelat dari tasnya. Menatapinya penuh syukur. Inilah hadiah Michael yang diam-diam masih disimpannya. Mendadak hati Nessa terasa hangat, seperti diselimuti jaket.
Ah Michael. Michael-nya yang baik.
Kelas (11-IPA-2)
Michael yang tidak punya pekerjaan, akhirnya kembali ke kebiasaan lamanya: mencoret-coret kertas. Diliriknya sekilas Raka yang masih juga membaca Perang Dunia II-nya. Tidak, cowok itu tidak melihatnya. Ia kelihatan serius membaca, tampaknya aman.
Michael membuka bagian belakang buku tulis yang memang khusus untuk coret-coretan. Dan sambil sesekali menerawang ke luar jendela. Menulis kata-kata pertamanya.
Emptiness killing me. Hit my face like the moon crash the sun. I gotta run, pick up my gun, and shoot the dune. Kill everyone i know. Ask them to ended this show.
Eeny, meeny, miny, moe... Fuck life. Fuck hope. Fuck liars around me. Fuck friends. Fuck noise.
All i need is some comfort place. And maybe some stair-way to heaven. So i could run above and drag Iris to earth.
I want her to slap me. I want to feel the pain. I want to see my blood again.
Or i should ask my parents to kill me now? They'd be glad too.
Michael menyimpan pulpennya dan menyilangkan tangan puas. Perasaannya terasa lebih lega.
Ia menengok pada Raka, meyakinkan sekali lagi kalau Raka tidak melihatnya. Coret-coret di sekolah memang tidak aman.
"Gue tau lo nulis sesuatu," bisik Raka tanpa mengangkat wajahnya dari buku. Michael terperanjat. Terdiam.
"Tapi gue nggak tau apa yang lo tulis," kata Raka lagi. "Satu-satunya yang gue tau adalah gue liat salah satu line yang mengandung kata 'Iris' kemaren." Ia menoleh pada Michael. "Selebihnya gue nggak tau."
============================
A/n
Cuma mau bilang makasih yg udah baca sejauh ini^^ hehe.
Ini part gapenting sih sebenernya tapi karena pendek dan isinya narasi semua, jadi ada sedikit pentingnya *gangerti.
Oke, vomments!
•xoxo•
KAMU SEDANG MEMBACA
EXACT
Teen FictionKarena gue selalu senang terlihat bahagia. just it. -Michael Kesalahan yang fatal, mengubah hidup seseorang, mungkin dua orang. -Nessa © Copyright 2015 by Furryse (All Rights Reserved)
