Happy reading
.
.
.
Pagi telah tiba, 2 orang anak sibuk berkutat dengan peralatan belajar nya. Pembelajaran telah dimulai sejak jam 8 pagi tadi dan sekarang sudah menunjukan pukul 10 siang. Sang guru telah memberi arahan pada mereka bagaimana cara pengerjaan materi yang ia beri, kini mereka diberi latihan soal untuk mengetes daya tangkap mereka mampu mengerjakan soal sampai mana karena pembacaan kosa kata nya sudah lancar.
Asean masih ada di rumah, bercakap ringan dengan sang guru tentang metode pembelajaran yang dilakukan dan lain hal nya yang perlu ditanyakan atau dibicarakan.
Awal nya Singapore dan Indonesia masih duduk tenang dalam beberapa menit lama nya, namun setelah selang waktu 30 menit berlalu Indonesia mulai ngerusuh sendiri karena bingung dengan soal yang belum terjawab. Mendongak kedepan semakin membuat Indonesia heran dengan tenang nya Singapore mengerjakan tugas tanpa ada ekspresi kebingungan.
"Singapore? Kamu gak bingung sama nomor 6? Itu susah lho. Atau kamu belum ngerjain nomor yang itu?" Duduk mereka berhadapan, jadinya Indonesia kurang jelas melihat Singapore yang mengerjakan soal baru sampai nomor berapa nya.
"Hm? Udah kok. Tinggal 2 soal lagi tugas ku udah hampir selesai"
Bagaimana tidak kaget, semua soal berisikan cerita yang mengarah logika. Hanya soal hitung hitungan sih, tapi nuntut logika nya minta ampun karena soal yang Indonesia baca panjang panjang semua. Terlalu susah buat anak jenjang sekolah dasar.
Dengan perasaan gusar Indonesia mencoba tanang dan jawab semampunya saja, jika salah masih bisa diperbaiki juga.
"Soal nya ribet semua. Padahal jawaban pada singkat" dumel Indonesia karena terlanjur kesal.
"Aku udah nih kak, duluan ya. Nanti kalau masih ada soal yang susah bisa minta bantuan sama aku, mungkin aku bisa tolong kakak" Singapore berdiri dengan selembar soal yang baru selesai dikerjakan untuk diberikannya pada sang guru.
"Udah gapapa aku bisa ngerjain sendiri kok. Nanti kalau kamu bantuin aku yang ada Bu guru marah sama kamu"
"Serius kak? Gak mau aku bantu ngerjain?"
"Iya, udah sana serahin tugas nya dulu ke Bu guru gih"
Singapore hanya mengiyakan dan berjalan menuju sang guru duduk yang mana ayah nya juga sibuk bicara disana. Indonesia tentu tidak lepas memperhatikan bagaimana senang nya guru setelah melihat selembar jawaban Singapore yang memuaskan, sirat senyum ayah nya juga benar benar bahagia dan bangga. Sedikit egois Indonesia agak iri dengan kepintaran adik nya dalam bidang akademik.
"Gak, aku gak boleh cemburu sama adik aku sendiri. Ngapain aku cemburu? Harus nya aku bangga punya adik pintar kayak Singapore"
Tidak mau kalah, Indonesia berapi api penuh semangat untuk mengerjakan soal agar cepat selesai dan bisa menyusul adik nya yang sudah setor tugas duluan. Mencoba untuk menghilangkan pikiran negatif dan fokus pada tugas saja.
Entah berapa lama mereka belajar namun waktu nya sudah usai, kini study home berakhir dan guru bimbel juga sudah pamit pulang. Dirumah menyisakan Asean, Singapore, dan Indonesia yang duduk pada ruang utama seraya berbincang mengenai pembelajaran tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Father (AU)
General FictionSuatu kejadian tak terduga yang menimpa seorang pemuda, dimana dirinya harus berperan sebagai seorang ayah atas dasar kesalah pahaman. Mengisahkan dirinya yang sedang belajar menjadi single parent dadakan dengan hanya memiliki 1 anak angkat saja? Se...
