27

301 40 1
                                        

Happy reading

.

.

.

Pagi ini direktur Asgara menerima sebuah undangan dari sahabat kerjanya untuk hadir ke acara yang memang bukan menyangkut pekerjaan namun seperti liburan, undangan yang tadinya ingin ia acuhkan seketika berpikir lagi secara matang. Pertemuan ini sangat jarang karena semua teman kerjanya akan hadir, untuk kesekian lamanya mereka kembali berkumpul.

"Menurut mu apa aku harus menghadiri acara ini?" Tanya Asean pada Seato yang masih setia berdiri disamping nya.

Mendadak Seato gelagapan takut salah menjawab.
"Menurut saya jika ini berkepentingan seharusnya anda wajib hadir, namun jika sebaliknya apa anda mempunyai waktu luang untuk hadir?"

Asean bersandar pada kursi merasa gelisah, tuan rumah undangan ini adalah EU ia jadi mempunyai firasat yang tidak tidak duluan.
"Jadwal besok kosong bukan?"

"Benar, tidak terlalu padat. Anda bisa meluangkan waktu untuk beberapa hari kedepan"

Asean memutar kursi menghadap jendela yang ada dibelakang, diluar sangat amat cerah hingga matanya menyipit silau.
"Perlihatkan data yang belum dikerjakan, besok aku ingin mengosongkan jadwal kerja"

"Baik"

Oke, 3 hari itu sudah sangat cukup untuk meluangkan waktu di acara nanti. Maka dari sekarang ia akan coba menyelesaikan apa yang belum dijalankan, mau itu pertemuan bersama kolega ataupun rapat kinerja. Pokoknya full time kembali berlaku pada hari ini agar kedepannya ia bisa santai walau sedikit.

"Besok kau wajib hadir bersamaku, aku tidak mau pergi sendiri kesana"

"Iya?" Seato merasa bingung, memang sudah kewajibannya untuk selalu berada disamping sang bos kan? Lantas kenapa itu harus dipertanyakan?

Banyak alasan trauma kenapa Asean tidak mau pergi ke undangan acara seperti ini tanpa ada yang mendampingi nya. Apalagi acara diselenggarakan di Eropa, banyak sekali aturan sana yang menyimpang bagi orang Asia. Jika terus berasumsi begini ia jadi malas untuk bertemu mereka.

.

.

"Ayah ada kepentingan diluar, beberapa hari kedepan Ayah tidak akan ada dirumah bersama kalian. Tolong beri aku janji bahwa kalian tidak akan menyusahkan AFTA, paham?"

Asean terus mengoceh dari bangun pagi hingga menyeret koper menuju bandara sambil memberi nasehat pada kedua anaknya. Bawel adalah bentuk rasa kasih sayang dan khawatir yang berlebih, ia tahu itu dan menyadari bahwa dirinya sangat menyayangi mereka berdua.

Namun mereka sudah terlalu bosan untuk menjawab pertanyaan berulang, hanya mengekori sang Ayah dan sesekali mengangguk juga ternyata melelahkan. Singapore menggeser kepala sang kakak dari bahu nya karena merasa berat dan sesekali mengguncang tubuhnya agar terbangun, menyadarkan Indonesia bahwa sang Ayah sudah menatap mereka berdua dengan tatapan garang.

"Indonesia, Ayah tahu kemarin kamu tidur larut malam karena memainkan iPad yang baru Ayah berikan. Kamu begadang lagi kan?"

Karena kesal Singapore menjepit hidung sang kakak hingga mengaduh.

"Ah! Apasih? Pulang yuk, ngantuk" dengan mata tertutup Indonesia menggaruk garuk leher pertanda masih ingin tidur seraya merangkul lengan adiknya sebagai penopang.

"Hish, nanti dulu. Lihat muka Ayah, Ayah lagi ngomong sama kakak" bisik Singapore menekan pada Indonesia.

"Huh? Yaudah yah hati hati dijalan" dengan keasbunannya ia hampir jatuh kedepan, untung AFTA segera menahan Indonesia lalu memangkunya sambil tersenyum tidak enak pada Asean.

Father (AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang