Happy reading
.
.
.
Banyak nya orang di kediaman sang direktur Asia membuat suasana rumah menjadi hangat dan ramai. Pesta kecil kecilan mereka sengaja lakukan di taman belakang, sama seperti bulan lalu ketika penyambutan putra pertama nya hadir ke dalam sebuah keluarga baru.
"Lho?? Ini mangga nya kok banyak banget? Ngambil dari belakang ya?" Kebetulan Asean membantu kupas buah dengan AFTA, dirinya baru sadar bahwa buah dominan yang dikupas nya ini adalah buah mangga.
Seketika Indonesia dan Singapore saling melirik dengan sirat wajah penuh arti percakapan hanya melalui kontak mata saja. Disaat Seato merapihkan makanan pada meja dan mendengar pertanyaan sederhana dari bos nya ia berniat ingin menjawab sembari melirik bocah dua yang diam bergeming.
"Benar. Sebenarnya mangga itu- hmp"
"Kunyah aja om, mangga nya manis kok. Enak? Mau nambah? Sini sini Indo suapin"
Tidak mau memberi kesempatan untuk berbicara Indonesia dengan perasaan tega terus menjejelkan mangga pada mulut Seato agar bungkam dan Singapore bertugas memegang piring berisikan mangga bermaksud turut andil membantu Indonesia. Tentu AFTA yang melihat nya terkekeh pelan merasa tingkah mereka sedikit kekanak-kanakan.
"Mereka kelihatan nya seneng banget ya, pak"
"Mereka memang seperti itu, biar kan saja. Omong omong, bukan nya kamu sedang sakit ya? Kenapa kamu harus memaksakan diri untuk hadir kesini?"
"Saya merasa tidak enak karena bulan lalu tidak bisa hadir pada acara penyambutan anak bapak yang pertama. Karena bapak juga telah mengundang dan sekarang kondisi saya sudah agak mendingan, makanya saya datang kesini-"
"Ayahh!! Mata om Seato mau keluar!!" Indonesia segera berlari menghampiri Asean lalu memeluk pinggang ayah nya sambil bersembunyi di balik kolong meja, sedikit menyembulkan kepala untuk menjulurkan lidahnya.
Seato masih mempelototi Indonesia tanpa rasa segan, dirinya sudah terlanjur kesal karena membuat kemeja nya kotor berantakan.
"Pak, dia duluan yang jahilin saya. Bapak jangan salah kan saya" ucap nya memelas.
Padahal Asean gak nge judge Seato.
"Sudah, kamu ganti baju dulu dengan yang lain. Saya pinjamkan baju saya buat kamu, ada di lemari kamar tamu"
Singapore menepuk nepuk pelan bahu Seato dengan maksud meredakan emosi om nya.
"Sebagai tanda minta maaf, aku anterin om ke kamar tamu ya. Sekalian aku juga mau ngambil barang"
Tidak ada pilihan lagi selain menyetujui ucapan Singapore, sebelum berbalik badan padangan mata Seato masih menatap tajam Indonesia yang menciut di balik rangkulan ayah nya. Entah kenapa semakin besar usia anak, semakin banyak tingkah pula yang membuat dirinya kesal.
"Marah nya om Seato serem"
Asean segera mengangkat tubuh Indonesia agar duduk di kursi samping kirinya.
"Kamu sih, lagian ngapain jahilin om kamu"
"Seru tahu, yah. Kapan lagi bisa lihat om Seato marah sampai matanya melotot gitu"
Hanya dapat tersenyum dan menggelengkan kepala Asean langsung menopang kepalanya dengan salah satu tangan pada meja, lalu mengusap rambut pendek Indonesia seraya memperhatikan nya secara lekat. Mereka hanya berdua di taman belakang karena AFTA pergi ke dapur untuk mengambil bahan bahan.
"Ayah kok baik banget sih sama kita, padahal kita bukan anak kandung ayah. Tapi kenapa ayah selalu bikin acara kayak gini?"
Ucapan tersebut membuat Asean tertegun dengan pola pikir anak pertama nya, tidak diduga perkataan tadi bisa keluar pada mulut anak yang baru menginjak usia 6 tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Father (AU)
Fiction généraleSuatu kejadian tak terduga yang menimpa seorang pemuda, dimana dirinya harus berperan sebagai seorang ayah atas dasar kesalah pahaman. Mengisahkan dirinya yang sedang belajar menjadi single parent dadakan dengan hanya memiliki 1 anak angkat saja? Se...
