Happy reading
.
.
.
Tidak terasa beberapa bulan sudah berlalu dengan umur hampir mendekati 7 tahun, akhirnya Singapore mendapatkan apa yang ia mau. Guru privat mereka menawarkan pendaftaran Olimpiade match padanya untuk menjadi salah satu peserta, tentu Singapore menyambut baik kabar itu dan langsung menyetujui agar sang Ayah segera mendaftarkan dirinya. Meski menjadi salah satu peserta termuda diantara yang lain, Singapore tidak takut dengan lawan Olimpiade nya nanti seakan rasa percaya diri sudah terlanjur melekat dan yakin bahwa hasil usaha nya selama ini pasti tidak akan meninggalkan bekas yang sia sia.
Olimpiade match internasional ini hanya untuk seluruh peserta di wilayah bagian Asia saja, dalam brosur kertas pendaftaran Asean perhatikanlah dengan lekat sambil berpaling dari raut wajah memohon Singapore. Mereka berbincang di sofa ruang office Asean karena sang Ayah sedang lembur kerja dirumah.
"Ayah, aku mau daftar. Tolong izin daftarin ya Ayah. Aku mau ikut jadi peserta Olimpiade, bolehkan??" Bujukan Singapore belum Asean jawab seakan masih ada keraguan dari sang Ayah.
"Kalau kamu daftar, kamu akan jadi peserta termuda disana. Kamu benar-benar yakin ingin daftar, kan?" Asean hanya menanyakan kepastian agar anaknya tidak menyesal diakhir.
"Iya Ayah. Aku yakin banget!! Karena ini kemauan aku sendiri" Singapore begitu semangat dengan keputusan mutlak nya.
"Oke, Ayah akan bicara dulu dengan Gurumu besok. Karena ini kemauan kamu, Ayah akan selalu dukung apapun bakatmu. Jangan membuat Ayah kecewa ya" Asean hanya sedikit khawatir dan ragu, anak seusia dia harusnya bisa bermain bebas walau belajar juga jangan ditinggalkan. Namun yang namanya kemauan selagi hal positif akan selalu Asean dukung.
"Makasih, Ayah"
Mendengar secercah motivasi menjadi suatu kebanggan juga bagi Singapore bisa mengikuti acara Olimpiade, maka mulai dari sekarang ia akan mencoba belajar lebih tekun. Entah obses atau hobi, Singapore selalu memiliki ke ingin tahuan yang luas hingga dikategorikan dalam anak jenius pada usia tergolong masih sangat muda.
.
.
Siang nya cuaca begitu sangat cerah dan bagus, Asean terduduk di kursi teras belakang rumah sambil berhadapan dengan laptop nya. Berbincang serius mengenai hal penting bersama sang pegawai diseberang laptop sana, jika memang sedang bekerja kenapa tidak dikerjakan di indoor saja? Tujuan Asean berdiam disana adalah bekerja sambil mengawasi kedua anak bandel yang baru mengobrak abrik gudang hingga menemukan sebuah panah usang milik Asean lalu diminta untuk memainkan nya.
Halaman belakang rumah terbilang cukup luas, Indonesia kukuh meminta Asean untuk memasang sebuah face target disana karena penasaran ingin mencoba. Namun Asean memberi ketegasan agar jangan memainkan panah sembarangan karena itu termasuk benda tajam dan tidak cocok dimainkan oleh anak seusia dia. Tidak mau kalah dengan kemauan nya Indonesia mulai merengek dan terpaksa Asean harus menuruti keinginan nya itu dengan pengawasan serius.
Indonesia sudah memposisikan diri sambil berancang ancang untuk melepas anak panah dalam jarak 1 meter lalu-
Slap!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Father (AU)
Ficción GeneralSuatu kejadian tak terduga yang menimpa seorang pemuda, dimana dirinya harus berperan sebagai seorang ayah atas dasar kesalah pahaman. Mengisahkan dirinya yang sedang belajar menjadi single parent dadakan dengan hanya memiliki 1 anak angkat saja? Se...
