21

434 47 11
                                        

Aku terharu, gak bisa berkata kata tapi bisa ngetik huhu 🥹.

Happy reading

.

.

.

Sudah tak terasa 1 Minggu lebih kedua anak ini menjalankan study home nya dengan baik, bahkan mahluk astral seperti Minggu kemarin saja tidak ada lagi bergentayangan dirumah. Entah siapa yang telah mengusir hantu tersebut namun setidak nya rumah jadi semakin ramai dengan adanya cleaning servise home setiap pagi, tukang kebun yang selalu absen hadir di setiap sorenya, hingga menambah kenyamanan rumah dan menjadi jelas seperti berpenghuni.

Karena Asean juga merasa kerepotan untuk merawat rumah, maka ia menetapkan orang untuk bekerja disana. Tadinya Asean ingin menyewa baby sitter bagi kedua anak nya, namun pengajuan itu malah ditolak mentah dengan alasan bahwa mereka "sudah besar" merasa tidak cocok di asuh oleh seseorang dan memilih untuk mandiri.

Tentu hal itu sangat membuat Asean bangga, namun kekhawatiran dari dalam dirinya sering kali muncul ketika harus lembur kerja. Dirinya sering kali kalut karena kejadian waktu itu takut terulang, maka Asean selalu memilih lembur dirumah saja dengan membawa segala tugas kerjaan nya kerumah.

Indonesia dan Singapore baru saja menyelesaikan pembelajaran. Guru juga sudah pamit pulang, diantarkan oleh sang ayah menuju gerbang rumah. Asean memiliki waktu senggang disela sela jadwal kerjanya hari ini. Tidak ada rapat pertemuan formal dengan kolega maupun kinerja, bahkan urusan kerja masih bisa dia handle di rumah.

"Oh iya, omong omong hantu itu udah gak pernah datang lagi kesini ya. Kira kira kenapa?" Pertanyaan random dari pikiran lolos terucap pada mulut mungil Indonesia.

"Harusnya kakak bersyukur hantunya gak datang lagi kesini. Emang kakak masih mau lihat hantu itu lagi? Mending jangan deh" Singapore menjawab pertanyaan Indonesia seakan sudah merasa muak karena sering kali ditanyai seperti itu.

"Bukan gitu, ah udah lah. Kamu mau temenin aku main bola gak? Ngerjain tugas dari Guru mulu, bikin pusing tahu" Indonesia terbaring begitu saja lalu mengusap usapkan tangan dan kakinya menikmati sentuhan bulu lembut dari karpet.

"Gak ah males, diluar lagi panas kak. PR kita makin banyak dan susah, kakak mau nunda PR lagi sampai Bu Guru nya marah?" Singapore yang duduk disamping kakaknya memandang Indonesia datar ketika dia berguling guling sambil uring uringan dan merengek bosan.

"Ya gak mau lah, tapi aku cuma butuh istirahat aja. Kita pergi main gitu, atau jalan jalan? Aku sangat tersiksa disini " Akhirnya Indonesia berhenti menggulingkan tubuh dan menatap langit langit rumah penuh dramatis.

"Hah~ terserah kakak aja deh, aku mau ngerjain tugas dulu di kamar" Singapore segera membereskan peralatan belajar lalu berdiri dan meninggalkan Indonesia sendirian.

Indonesia diam memperhatikan Singapore yang sedang berbenah hingga berjalan menaiki tangga dengan ekspresi manyun tak menerima bahwa dirinya ditinggalkan begitu saja oleh adiknya.
"Dek, serius kakak diginiin sama kamu?"

"Kita seumuran kak, jangan panggil aku kayak gitu" Singapore mengindahkan ucapan Indonesia namun tetap berjalan. Agak sensi dia dipanggil Adek.

"Lho Singapore? Kamu mau kemana, nak?" Asean datang dengan wajah bingung ketika melihat Singapore buru buru menaiki tangga dan terhenti saat suara Asean mengintimidasi.

"Aku mau belajar dikamar, kenapa yah?"

"Eh tunggu, mau ikut mancing sama ayah gak?"

Singapore segera menggeleng malas.
"Nggak, Ayah. Habis ini aku mau langsung tidur, capek" bukan tanpa alasan, Guru jadi lebih memperhatikan Singapore dan memberi lebih banyak latihan soal kepadanya ketika mengetahui bahwa ia berbakat dalam bidang akademik. Singapore jadi sering letih dan butuh tidur.

Father (AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang