Happy reading
.
.
.
2 Minggu sudah berlalu, piagam kemenangan dari perlombaan Singapore dipajang. Semua merasa senang karena hasil yang sesuai harapan, meski menang di peringkat ke 3 itu adalah suatu hal yang harus diapresiasi karena jika dilihat dari umur nya yang terbilang younger diantara peserta lain ini adalah suatu kemustahilan namun nyata adanya.
Sementara dikantor berada, seorang direktur sedang mengistirahatkan diri dengan berdiam sejenak tanpa menyentuh barang apa pun. Ketika ia menopangkan badan pada kursi matanya langsung terbesit melihat kesebuah sudut meja terdapat bingkai foto berselipkan gambar yang dulu pernah hampir ia robek.
Tangan nya terulur untuk mengambil, ia tatap sejenak lalu tersenyum penuh arti. Jika diingat lagi tentang masalah yang lalu, ia terlalu berlebihan memarahi anaknya karena kalut dengan emosi dan bingung melampiaskan nya kemana. Berakhir, ia salah sasaran amarah hingga sang anaklah korban nya. Ia tahu pasti, anaknya ini masih sakit hati.
Suatu pengajaran juga bagi dirinya agar jangan mudah labil seperti para remaja diluar sana, ia sudah berumur kepala dua. Dan tingkah kekanak kanakan sangat tidak cocok lagi untuknya.
Tok tok tok!
Mata melirik ke arah suara, bingkai foto yang ia pegang disimpan lagi pada tempat nya. Seato kebetulan sedang berada di ruang sang bos lantas mengangguk, ia bangkit dari duduk untuk membukakan pintu bagi orang yang sudah mengetuk.
"Maaf mengganggu waktunya Pak, namun seorang pegawai baru yang direkrut oleh anda telah datang" seorang pegawai perempuan datang dengan maksud memberi informasi tanpa tambahan lain.
Asean diam sejenak mencoba mengingat sesuatu... Ah ya! Orang itu ternyata.
"Baiklah, tolong beri dia arahan untuk menunggu saya di ruang meet. Saya akan segera menyusul kesana"
"Baik Pak"
Setelah perginya pegawai tadi Seato berbalik pandang melihat bosnya yang kini bersiap untuk pergi keruang meet. Namun sebelum itu mulut nya terasa gatal untuk bertanya.
"Maaf, tapi siapa nama orang yang akan anda temui Pak?"
Asean membalas tatapan Seato, ia mendekat seraya tersenyum lalu menepuk nepuk sebelah pundak nya.
"Akan kuberi tahu setelah pertemuan kami selesai"
Tanpa menunggu jawaban dari Seato, Asean segera melangkah pergi dari ruangan nya dan membiarkan Seato melamun dengan tanda tanya yang besar dikepala.
.
.
Dirumah besar berada, dua anak berbeda aktivitas namun satu ruang terlihat sudah berlagak bosan. Mungkin hanya satu anak yang terlihat demikian. Ia sudah makan, menonton TV, ngerjain PR, tidur siang, pergi ke WC, makan lagi, menonton TV lagi pokoknya semua rutinitas 5 tahap tadi telah selesai dilakukan dan sekarang dirinya sudah mulai merasa jenuh.
Entah keberapa kalinya ia menguap, namun kantuk juga sudah hilang karena kenyang tidur siang. Mau main diluar panas matahari sedang mantapnya menyinari bumi, dan kemalasan masih melekat dibadan. Ia berguling mendekati saudaranya, Indonesia terus melihat mulut adiknya berkomat kamit membaca buku yang sudah seperti merapal mantra. Lancar banget kayak jalan tol.
"Olimp nya udah selesai, ngapain masih baca buku? Itu mata kamu gak pusing lihatin huruf huruf kecil? Kenapa lihatin bukunya harus dekat banget?"
Mata Singapore terpalingkan ketika Indonesia berkata.
"Aku lagi baca buku cerpen, bukan materi Olimp kak. Soal mata kayaknya aku harus periksa"
KAMU SEDANG MEMBACA
Father (AU)
General FictionSuatu kejadian tak terduga yang menimpa seorang pemuda, dimana dirinya harus berperan sebagai seorang ayah atas dasar kesalah pahaman. Mengisahkan dirinya yang sedang belajar menjadi single parent dadakan dengan hanya memiliki 1 anak angkat saja? Se...
