17

507 55 18
                                        

Happy reading
.

.

.

Kesunyian ruang utama membuat sang anak murung menunggu kedatangan ayah nya yang begitu lama. AFTA tidak bersama dirinya, ia meliburkan diri dulu karena sedang tidak enak badan. Maka Indonesia bersungut-sungut ketika Seato asik memainkan smartphone, seperti enggan memulai obrolan dan terkesan jadi cuek.

"Om! Buatin Indo camilan dong. Indo laper"

Mata Indonesia semakin mendelik namun bersyukur. Seato memang menurut dan pergi ke kitchen set, tapi pandangan tetap mengarah ke smartphone tanpa mengeluarkan sepatah kata untuk menjawab. Dilain sisi Indonesia jengkel, disini lain juga ia sedikit was was dengan Seato.

"Dasar orang dewasa, kerjaan nya lihatin hp mulu. Aku kan jadi jenuh gak ada temen buat di ajak main" sirat mata menyapu pada pintu utama, berharap bahwa sang ayah segera pulang dan menanti adik baru nya? Indo jadi tidak sabar.

"Ini, kamu cuma pengen camilan doang kan?" Seato merengut, mendapati jawaban Indonesia malah dengan gelengan.

"Lalu, kamu mau apa?"

"Pengen ayah"
Sekali lagi Indonesia geram mendapati Seato langsung melirik pada smartphone yang membuat nya ingin membanting benda itu sekarang juga!!.

"Om!! Om itu dengerin Indo lagi bicara gak sih?-"

"Tuh, ayah kamu udah pulang"

Celetukan tersebut tentu membuat jantung Indonesia langsung berdebar semangat, mendahului Seato berjalan Indonesia segera melangkah tergesa gesa menuju pintu utama ketika bel rumah terdengar menandakan bahwa sang ayah pasti sudah pulang.

Ceklek!!

"Ayah! Selamat datang-"
Indonesia bungkam disaat Asean menaruh telunjuknya di depan bibir menginterupsi bahwa anak nya harus diam. Tentu Indo patuh dan membekap mulut nya sendiri sebelum membisikan 'oke'.

"Ayah, dia siapa?" Bisikan Indonesia membuat Asean tersenyum tipis. Dirinya berjongkok lalu memperlihatkan wajah anak yang sedang ia gendong nan seumuran kepada Indonesia.

Dengan tatapan lekat Asean menatapi anak pertamanya penuh perhatian, karena rasa gerakan dari naluri ia gapai surai sang anak hingga membuat dia mendongak.

"Sesuai janji ayah, sekarang dia adalah bagian dari keluarga kita. Kamu siap jadi kakak yang baik dan bijaksana buat adik kamu?"
Mendengar dirinya menjadi seorang kakak binar mata Indonesia menyala terkejut. Diantara rasa senang dan bangga ia mengangguk penuh semangat lalu menepuk pelan kepala adik nya yang sedang tertidur.

"Indo siap yah! Indo siap jadi kakak yang baik dan perhatian"

.

.

Gorden serta jendela telah terbuka, memungkinkan bahwa ada orang yang masuk untuk membuka nya. Mata Indonesia mengerjap pelan karena merasa sudah cukup puas dengan tidur dan ingin segera bangun. Menguap pelan juga sedikit mengucek mata sebelum turun dari ranjang.

Kebiasaan Indonesia adalah tidak cuci muka setelah bangun tidur dan sebelum pergi keruang makan. Kadang Ayah nya sering kali mengomeli Indo untuk membiasakan diri cuci muka dahulu, namun sang anak memang tabiat nya keras kepala dan sulit menurut.

"Ayah hari ini menu sarapan nya apa?- loh kamu! Kamu udah bangun? Sejak kapan?" Indonesia tergopoh gopoh untuk mendekati saudara baru nya yang nampak masih malu malu untuk diajak mengobrol.

Setelah menempatkan pantat pada kursi makan disamping saudara nya, Indonesia segera mengulurkan tangan bermaksud mengajak berkenalan.
"Aku Indonesia, saudara barumu. Omong omong nama kamu siapa?"

Father (AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang