20

437 48 9
                                        

Happy reading

.

.

.

Malam itu belum berakhir. Setelah beres mengurus arsip dokumen tentang aset perusahaan, secara tergesa gesa Asean merapikan segala hal yang berantakan di ruang kerjanya sebelum ia menelpon seseorang untuk mengantarkan dirinya pulang ke rumah.

Masih berjalan terburu buru di lobi, para karyawan yang lembur terpaku bingung melihat kepanikan sang Bos. Ada hal genting apa ini? Kenapa jalan Pak Bos harus panik kayak gitu? Mungkin itu lah isi pikiran para pegawai ketika Asean lewat.

Sesampainya di parkiran dan menyapu pandangan, Seato sudah sigap berada di dekat mobil sedang meneguk santai coffee cup hangat nya seraya bersandar menunggu kedatangan Asean. Dia belum menyadari keberadaan sang Bos.

"Oh maaf Pak, saya kira Bapak akan pulang larut malam" Seato langsung berdiri tegak ketika Asean berjalan mendekat.

"Anak anak sudah menunggu, antarkan saya pulang" sudah terlanjur kalang kabut karena telat pulang serta khawatir, tanpa melirik lebih lama Asean segera memasuki mobil nya dan disusul oleh Seato.

"Apa Bapak mau mampir dulu sebelum saya mengantarkan anda kerumah?" Setelah duduk Seato bertanya hati hati dan menunggu jawaban pasti dari Asean.

"Tidak, langsung saja pulang kerumah. Saya benar benar sudah telat"

Biasanya orang panik itu karena telat datang, yang ini berbeda Asean malah panik karena telat pulang. (Tenang sayang, arisan Bunda udah kelar. Sekarang Bunda lagi ada di rumah jaga anak anak kita ☺️)

Karena jawaban Asean sudah dipastikan mutlak no ganggu gugat, tanpa banyak bertanya Seato segera melajukan mobil nya dijalan raya dengan keadaan masih tersisa hujan gerimis yang menggenangi jalanan.

"Apa bisa dipercepat? Saya ingin segera pulang" untung Bos, Seato tidak bisa secara terang terangan muak dengan rengekan Asean untuk segera sampai dirumah. Siapa coba yang gak kangen kamar? Seato juga mau pulang, bukan cuma Bapak saja.

"Jalanan sedang licin Pak, disini juga masih gerimis di tambah macet. Saya rasa bahaya jika mengebut dijalan dengan kecepatan tinggi" teguran serta peringat dari Seato membuat Asean tidak sabaran.

"Tukeran"

"Apa??"

Seato memberhentikan mobil di pinggir jalan saat Asean menyuruhnya untuk menepi sebentar. Ia bertambah bingung ketika Bos nya keluar dari mobil lalu mengetuk pintu kaca sebelah kanan.
"Gantian saya yang nyupir, kamu duduk di sebelah sana. Minggir"

Masih dengan muka petantang petenteng tanpa keluar dari mobil Seato bergeser tempat duduk menjadi di sebelah kiri Bos nya. Bukan lagi di tempat duduk untuk mengendarai. Karena jas nya basah kuyup, Asean segera melepas jas tersebut lalu dilemparnya pada Seato tanpa rasa bersalah.
"Maksud Bapak apa? Kenapa sekarang anda yang mengendarai mobil?"

"Masih kurang jelas? Kamu terlalu lelet buat jadi supir saya" belum juga seat belt terpasang di badan Seato ia malah dikejutkan dengan kecepatan laju mobil yang langsung melesat secara drastis di jalan raya. Mobil epic Bos nya memang gak ada obeng pas lagi ngedrip and nyalip.

Melihat gelagat Asean tidak bisa diajak bercanda, Seato menjadi diam tersudut seraya memejamkan mata dan memeluk jas Bos nya. Tempo jantung tiba tiba berdebar bukan alasan cinta namun takut mati karena disetiap detiknya kecepatan laju mobil selalu saja ditambah. Memang mode kesetanan.

Barulah Seato bisa bernafas lega saat mobil berhenti karena di depan sedang macet parah. Entah alasan apa bisa jadi macet, tapi Seato malu ketika Asean menyalakan spam klakson dengan tak sabaran. Tidak hanya itu rasa jengkel Asean ia lampiaskan dengan memukul setir mobil dibarengi helaan nafas yang begitu gusar.

Father (AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang