Happy reading
.
.
.
suasana yang masih siang hari terdengar suara langkah kaki ribut di sepanjang lorong perjalanan untuk segera menuju ruang officer sang Bos dan mengejar waktu yang memang sudah di tunggu oleh atasan karena dirinyalah yang terlambat datang. Bos nya ini tipikal sering ngamuk sih nggak, cuma main ceramah IYA.
Di setiap langkah, AFTA terus menggerutu dan memaki maki orang yang telah menunda waktu nya untuk bertemu dengan sang atasan. Niat hati ingin menolong malah dirinya lah yang pantas membutuhkan rasa tolong.
"Ini kalau dipanggil gara gara ada yang salah dari rekapan males banget sih, mana gak sedikit lagi"
"AFTA!"
"Huh??"
Merasa terpanggil oleh orang yang ada dibelakang maka pandangan AFTA kini mengarah bukan ke depan, kebetulan seorang pria juga baru keluar dari sebuah ruangan sebelah kanan hingga-
Bruk!!
Lembaran kertas yang tersusun rapi di genggaman pria tersebut jatuh berserakan dan menyadarkan AFTA untuk memberi jarak dirinya dengan orang yang telah ia tabrak, tak sengaja memeluk hingga membuat nya malu sendiri. Namun perasaan tersebut ditepis ketika sang pria mendengus gusar dan menatap AFTA tajam, kesal karena berkas yang baru ia susun apik kini harus kembali acak.
AFTA melotot lalu berjongkok dan mencoba untuk memungut.
"Maaf kan saya, tadi saya kurang hati hati melihat ke depan. Apa mau saya bantu susun kembali berkas nya?"
Persetan dengan mulut, padahal waktu sudah mepet untuk bertemu dengan atasan. Kenapa dirinya malah menawarkan diri lagi untuk memberi bantuan? Memang nasib jadi orang yang gak enakan ya gini.
"Terimakasih dan tidak usah. Saya bisa sendiri" cukup dingin juga jawaban nya.
AFTA menyerahkan sisa berkas yang ia pungut dengan perasaan tidak enak, tanpa berbicara banyak pria itu melengos pergi meninggalkan AFTA sendiri. AFTA yang merasa bersalah menjambak rambutnya dan menghentikan kaki kesal.
"Ngapain gue ceroboh, bikin maluuuu"
Namun itu sudah terlanjur, lebih baik ia tidak membuang waktu lagi dan harus segera masuk ke ruang atasan yang pasti sudah menaruh rasa dendam padanya karena terlambat datang. Pintu ada di depan, dengan satu tarikan napas AFTA ketuk pintu tersebut berulang.
Tok tok tok!!
"Ini saya, AFTA"
"Silahkan masuk"
Dan benar saja, hawa tidak enak hadir. Namun pandangan langsung berpusat pada pria tadi yang baru saja di tabrak olehnya kini telah menunduk pasrah. AFTA sempat heran sebentar, tapi ketika melihat raut serius Asean sepertinya dia baru saja menerima ceramahan. Kasihan sekali, namun lebih kasihan dirinya sih.
AFTA sama hal nya ikut menunduk ketika Asean memberi ketegasan untuknya dan menjelaskan kesalahan apa saja yang baru ia lakukan dengan detail, suka tidak suka harus dia terima omelan sang atasan. Ya namanya juga lagi kerja, yang kayak gini mah udah biasa.
Diam diam salah seorang pria yang ada di ruangan Asean menatap lekat AFTA penuh rasa iba, mungkin nanti ia akan mencoba untuk membantu nya ketika jam istirahat telah tiba.
'udah aku duga bakal jadi kayak gini, tapi...'
Lirikan mata AFTA berpaling pada pria disamping, dia diam tidak berkutik dan hanya menunduk ketika omelan Asean mengarah padanya. Pasti mempermasalahkan berkas tadi yang tidak sengaja terhambur oleh AFTA.
KAMU SEDANG MEMBACA
Father (AU)
General FictionSuatu kejadian tak terduga yang menimpa seorang pemuda, dimana dirinya harus berperan sebagai seorang ayah atas dasar kesalah pahaman. Mengisahkan dirinya yang sedang belajar menjadi single parent dadakan dengan hanya memiliki 1 anak angkat saja? Se...
