23

541 55 24
                                        

Happy reading

.

.

.

(Aku pakai sudut pandang Indonesia dulu ya...)

Suatu hari yang ditunggu tunggu bagi saudaraku akhirnya tiba, dimana ia akan pergi kesebuah negara karena diselenggarakan nya Olimpiade berada dibagian wilayah Asia Timur. Kebetulan sekarang adalah hari sebelum keberangkatan mereka kesana.

Selagi guru memberi arahan lebih pada Singapore untuk besok, aku diam di meja yang agak jauh dari mereka. Menggambar sebuah keluarga yang terdiri dari aku, Singapore, dan Ayahku. Ini merupakan tugas seni dari guru untuk ku. Dalam bakat sains aku kayak nya kurang mengerti, namun dalam bakat seni mungkin boleh kamu tandingi. Hehe.

"Dikit lagi- jadi! Yeay!" Aku bangga melihat hasil karyaku yang cukup memuaskan. Segera aku bangkit dari duduk dan berjalan mendekati sang Guru untuk memberikan tugas karena sudah selesai ku kerjakan padanya.

"Sesuai apa yang Ibu Guru bilang, aku udah selesai gambarnya" secara riang aku serahkan kertas gambar padanya dan sang Guru terlihat senang, merasa puas dengan hasil gambarku.

"Kamu hebat, menyelesaikan gambar ini dengan cepat. Ibu kasih A+ buat kamu ya, kembangkan bakatmu Ibu dukung. Jika ada perlombaan seni Ibu pasti akan segera daftarkan kamu, oke?" Suatu apresiasi tidak terduga yang membuatku amat senang membuncah.

"Baik Bu, terimakasih" aku bahagia karena sanjungan dari Guru ku membuat jiwa seniku membara, lalu mataku tidak sengaja melirik ke arah Singapore yang sedang serius mengerjakan sesuatu. Karena rasa ingin tahu aku pun mendekat lalu duduk disampingnya untuk sekedar melihat apa yang sedang adik ku kerjakan.

"Serius banget, latihan buat besok ya?"

"Hm? Iya, soal nya agak susah kak. Aku jadi takut sama hari besok"

"Tumben? Biasanya juga kamu selalu percaya diri"

"Udah jangan takut, buktiin dong kalau kamu bisa jadi juara" aku memberi apresiasi padanya dan malah dibalas tawa tertekan, aku bisa melihat dari raut wajah nya.

Pat Pat Pat!!

"Gapapa, hasil itu belakangan yang penting kamu menikmati prosesnya. Semangat!"

"Makasih ya kak, eh tadi kakak habis ngerjain tugas seni kan? Lihat dong katanya udah selesai"

"...tapi, jangan ejek aku ya kalau hasilnya jelek. Aku sakit hati banget kalau kamu ketawa" Singapore pun langsung mengangguk mantap.

"Iya, gak akan"

Aku ragu untuk melihat respon Singapore nanti, namun dia sudah terlanjur penasaran jadi aku tunjukan saja hasil gambarku padanya. Agak malu karena takut kritikan yang tak sesuai harapan. Wajahku langsung berubah kusut ketika Singapore menutup mulutnya seperti menahan tawa.

"Jangan ketawa, aku tahu hasilnya masih jauh dibilang bagus. Karena aku kan lagi belajar"

"Siapa bilang aku ketawa? Bagus kok ini, mungkin aku gak akan bisa niru gambar kakak karena saking kelewat bagusnya" pujian Singapore terlalu berlebihan hingga membuatku hampir terbang.

"Pujian nya kok gitu? Berlebihan banget ah, jadi malu" melihat gelagat ku yang salah tingkah Singapore langsung menatap ku dengan raut lelah.

"Kak coba deh tunjukin ini ke Ayah, pasti Ayah bangga banget sama Kakak karena tahu kalau kakak itu punya bakat di bidang seni"

Father (AU)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang