Homestay48 : 20

546 78 0
                                        

Genggaman pada bahuku cukup keras, membuatku langsung menoleh dan menepis pelan tangan yang menyentuh bahuku. Aku terkejut, namun orang yang memegang bahuku tadi sama terkejutnya denganku. Ternyata yang menyentuh bahuku adalah Oline.

"Eh, maaf Lin, aku beneran kaget."
Ia menggeleng namun wajahnya masih terlihat terkejut. "Ah iya gapapa, aku yang minta maaf ngagetin kamu dan manggil gak pelan-pelan."
"Kenapa, Lin?" tanyaku padanya, karena ia memegang pundakku dengan cukup keras dan menahanku masuk kamar, aku mengira ada hal penting yang ingin dia sampaikan.

"Anu... Liam, aku..." ia terlihat gugup, ragu untuk mengatakan apa yang ia inginkan.

"Kenapa? Bilang aja Lin..."

"Itu... aku... emm..." ia beberapa kali menoleh ke arah belakang, seperti memastikan sesuatu berulang kali.

Aku jadi penasaran dan melihat melalui bahunya. "Ada apa sih?"

Oline sedikit bergetar, wajahnya panik dan seperti ingin menarik diriku namun ia ragu. Aku bingung karena ia tidak kunjung mengatakan maksudnya.

"Ada... makhluk." ucapnya dengan wajah takut.
Aku bingung, ia tidak mengatakannya dengan jelas. "Makhluk? Makhluk apa?"
"Itu... ada makhluk! To..."

Wajahnya memerah, kepalanya tertunduk namun kemudian jarinya menyentuh pergelangan tanganku. "To... tolong."

Mataku membuka lebar, melihat Oline yang tidak seperti Oline yang biasa aku tau. Aku tidak bisa berbohong kalau Oline terlihat menggemaskan dan begitu manis saat dirinya takut seperti ini. Bagaimana tubuhnya bergerak dengan gemetar, ragu-ragu, dengan mata waspada yang justru membuat mata kecil sipit yang dipaksa membuka itu jadi terlihat amat lucu. Wajahnya menunduk, mata yang tak berani melihat apapun dan terus waspada, dan caranya menyentuh pergelangan tanganku dengan pelan dan lemah. Ia ketakutan sekali, namun setelah tangannya menyentuh tanganku, ia menariknya dengan pelan, membawa diriku tanpa kata. Menuntunku untuk mengikuti dirinya dengan langkah yang lambat dan hati-hati.

"Makhluk?" pikirku dalam hati sambil mengikuti Oline.

Apa hal yang membuat Oline sampai setakut ini. Oline yang biasanya tenang, diam, dan sedikit dingin justru kali ini terlihat tidak seperti yang aku ketahui. Oline yang bahkan termasuk jarang berbicara denganku, justru menghampiri lebih dulu, memegang bahuku untuk meminta tolong, dan sekarang memegang tanganku untuk menuntun ke arah dimana ia membutuhkan bantuan. Ia mendorong-dorong bahuku pelan, menuntunku ke arah kamarnya dengan tangannya yang gemetar. Jarinya menggenggam lenganku, kuat namun jarinya yang lembut tidak menyakiti lengan.

"Di dalam, kak... please." ia mendorong bahuku lagi ketika kami berada di depan pintu kamarnya.

"Di... dalam."

Aku menoleh sedikit ke arahnya yang berada di belakangku, wajahnya panik, takut, matanya yang sayu yang terlihat seperti selalu mengantuk itu kini membuka lebar—meski tetap sayu, seolah habis melihat sebuah pembunuhan di dalam sana.

"Kak?" aku baru tersadar kalau ia sebelumnya memanggilku kak, ia tidak pernah melakukannya sebelumnya.

Pintu yang normal berwarna coklat kayu, dengan hiasan nama di pintu bertuliskan "Oline", polos dan tanpa hiasan berarti seperti penghuni lain. Hampir mirip dengan kamarku, standar saja. Berbeda dengan kamar-kamar penghuni lain yang dihiasi oleh pernak-pernik kesukaan gadis, berhiaskan pink, pernak-pernik, sticker lucu, maupun papan nama yang dihias-hias. Kamarnya aku buka dan ia mengikuti dari belakang, membuka pintu tersebut sedikit.

"Jangan dibuka lebar nanti dia keluar, gimana?!" ujar Oline padaku, ini Oline yang aku kenal.

"Eh, iya... iya."

Kami masuk ke dalam kamar, gelap tanpa cahaya seperti goa tanpa penerangan. Oline menyalakan lampu, cahaya yang juga tak terlalu terang mulai menerangi kamar tidurnya, cahaya yang masuk melalui kornea dan dihantarkan oleh retina ke otak membuatku bisa melihat seisi kamarnya sekarang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: a day ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Homestay48Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang