UJIAN Objective Structured Clinical Examination atau yang biasa disingkat OSCE, sudah di depan mata. Kaluna semakin sibuk belajar dan belajar. Tidak ada waktu baginya untuk bermalas-malas ria. Seperti pagi ini, kostnya sudah dipenuhi dengan kertas-kertas berisi daftar tilik untuk tindakan yang akan ia lakukan nanti di setiap stase ujian. Ditambah beberapa bungkusan camilan bekas semalam yang berserakan.
Kaluna tidak sendiri, ada Wilona yang sudah dua hari menginap di kostnya untuk belajar bersama. Wilona masih tertidur. Semalam, mereka begadang menghafal puluhan poin-poin di setiap daftar tilik tindakan. Kaluna pun masih mengantuk, hanya saja ponselnya terus berdering.
Mr. J is calling ….
Nama kontak Javier baru-baru saja ia ganti semenjak sering sekali memenuhi layar ponselnya akhir-akhir ini setelah Kaluna menyambut baik pengakuin dosennya itu. Entah hanya untuk sekedar menanyakan kabar, menanyakan proses belajarnya atau hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting namun mereka bisa sampai puluhan menit berbicara di telefon.
Kaluna segera mengangkatnya sebelum mati.
"Halo?"
"Saya ganggu tidur kamu, ya?"
Dikit. "Enggak, kok. Kenapa?"
"Saya ada di depan kost-an kamu."
Mata Kaluna membulat. Rasa kantuknya lenyap seketika. Gadis itu bangkit dari kasur untuk menggeser gorden jendela, memastikan benar atau tidaknya ada Javier di luar.
"Mas kalo ada yang liat gimana?!"
Kaluna mengaktifkan fitur loudspeaker sebelum meletakkan ponselnya di meja rias untuk mencepol rambut hitam panjangnya yang sudah nyaris menyentuh bokong.
"Baru setengah tujuh dan ini weekend."
"Iya tau, tapi gimana kalo tiba-tiba ada yang keluar?"
"Semakin lama kamu mengomel, semakin besar kemungkinan saya ketahuan."
Kaluna berdecak lagi. "Bentar sikat gigi dulu." Lalu berkaca di cermin memastikan tidak ada kotoran di matanya dan bekas sungai kecil di sudut bibir kemudian meraih ponsel di atas meja.
"Aku keluar." Ia memutuskan sambungan ponsel.
Sejak beberapa hari yang lalu, Kaluna mulai mengubah penyebutan dirinya dari 'saya' menjadi 'aku' atas permintaan Javier, walaupun laki-laki itu sendiri tetap tidak ada perubahan.
Kaluna mencebik begitu Javier melambaikan tangan dari dalam mobil saat Kaluna keluar dari pintu. Gadis itu hanya memakai daster selutut berwarna hijau lumut dengan cardiran hitam milik Wilona yang dia sambar begitu saja dari balik pintu.
"Rajin banget dateng pagi-pagi, ngalahin tukang sayur aja." Adalah komentar pertama Kaluna saat ia berdiri di sisi pintu kemudi.
Javier terkekeh, kemudian meraih sesuatu di kursi samping. Sebuah rantang bersusun tiga. Ia berikan pada Kaluna. "Bibi yang masak."
"Bibi yang masak atau Mas yang minta Bibi masak?" Kaluna memicingkan mata.
Javier menganggkat bahu.
"Mas mau ke rumah sakit?"
Javier mengangguk. "Kamu masih sibuk belajar? Belum bisa saya ajak jalan?"
Kaluna meringis. Sebenarnya ia tidak sesibuk itu sampai tidak bisa hangout. Hanya saja ia malas, takut semua hafalannya hilang saat dia keasikan berlama-lama di luar. "Nanti, deh. Kalo aku beneran udah selesai OSCE."
Javier menghela napas. "Yaudah kalo gitu saya pamit. Makanannya kamu habisin, ada temen kamu, kan?"
Kaluna mengangguk sambil mengangkat jempol. Sudah dua hari ini dia dan Wilona hanya makan ayam geprek, sudah pasti makanan yang aromanya menggugah selera ini akan dihabiskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mr. J
ChickLitKaluna pikir, kuliah itu hanya tenteng-tenteng totebag kemudian wisuda. Kaluna pikir, kuliah itu seindah cerita-cerita novel yang dia baca. Namun, semua ekspektasinya mengenai dunia perkuliahan seketika luluh lantak begitu bertemu dengan manusia sup...
