26. Mr. J & Jeremy's Memory

2.7K 258 31
                                        

TADI malam, Kaluna sudah menolak tawaran Javier yang ingin mengantarnya ke kampus. Namun, laki-laki itu tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun. Alhasil, pagi ini Kaluna duduk di samping kemudi, di sebelah Javier yang tampak fokus mengendarai mobil.

"Turunin saya di deket halte aja, ya, Pak."

Javier menoleh sekilas. "Kenapa? Takut ketahuan?"

"Iyalah!"

Sebenarnya, Kaluna merasa ada yang aneh dengan Javier. Laki-laki itu tampak seperti menghindari kontak mata dengannya. Padahal, biasanya Kaluna yang melakukan itu karena salah tingkah.

"Bapak ngajar hari ini?"

"Bapak? Lagi?"

Kaluna meringis. Bapak dosen satu ini memang agak sensitive soal panggilan dari Kaluna jika mereka hanya berdua seperti saat ini. "I mean… Mas. Maaf, masih belum terbiasa banget."

"Hari ini saya ada meeting penting di rumah sakit."

"Jadi nggak ngajar?"

Javier mengangguk.

"Kamu pulang jam berapa?"

"Sore kayaknya. Mungkin jam lima, karna abis dua mata kuliah dilanjut masuk lab buat persiapan OSCE."

Javier mengangguk paham. "Saya jemput, ya?"

Kaluna menatap dosennya itu dengan heran. "Emang nggak ada shift di rumah sakit?"

"Cuma mau visite doing," jawab Javier. "Nggakpapa, kan, saya jemput?"

Kaluna menatap Javier malas. "Saya nolak juga tetap dijemput, kan?"

Javier terkekeh geli. Mobil putih itu berhenti di halte tempat para mahasiswa biasanya menunggu kendaraan umum.

Kaluna memperbaiki letak tali totebagnya di bahu. "Makasih, ya, Mas. Kalo nggak jadi jemput, kabarin aja."

"Pengen banget saya nggak jadi jemput?"

Kaluna menyengir, membuat Javier tersenyum tipis.

"Yaudah hati-hati," kata Kaluna sebelum membuka pintu mobil.

"Kaluna …."

Gadis itu menahan dirinya yang hendak turun. Ia menoleh pada Javier yang menatapnya cukup dalam. "Kenapa?"

Javier diam beberapa detik sambil menatap Kaluna. "Kamu punya jam, kan?"

Kaluna mengangguk pelan.

"Harusnya kamu inget dong saya udah cukup lama menunggu jawaban kamu."

Kaluna mematung. Ia langsung bisa menangkap maksud Javier, namun pura-pura tidak tahu adalah jalan terbaik yang Kaluna pilih. Bisa saja dia salah sangka.

"Jawaban apa, Mas?"

Javier menatapnya tepat di mata. Tidak lagi menghindar seperti beberapa menit terakhir. "Saya suka sama kamu, Kaluna. How about you? Will you be mine?"

Detak jantung Kaluna memacu cepat. Lebih cepat dari siapapun saat ini.

"Perasaan saya nggak bertepuk sebelah tangan, kan?"

Gadis dengan seragam putih-putih khas anak kesehatan itu meneguk ludah. Lalu sebisa mungkin tidak menatap mata Javier yang memandangnya dengan tatapan penuh harap.

Kaluna berdeham gugup. "Saya minta waktu lagi boleh nggak, Mas?"

Terdengar hela napas tipis dari laki-laki di samping Kaluna. "Berapa lama?"

Mr. JTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang