Gadis kecil dengan gaun merah muda, tampak ceria bermain dengan anak-anak seusianya. Bercerita menggunakan boneka-boneka lucu yang berserakan di lantai. Diikuti dengan suara tiruan, menampakkan keseriusannya.
Di lain sisi, seorang laki-laki berusia sebelas tahun tengah duduk di sofa dengan wajah yang merasa sangat bosan. Suasana hatinya sangat tidak baik-baik saja, sejujurnya ia tidak ingin ikut serta dalam perkumpulan keluarga. Harusnya ia ikut bermain dengan teman-teman sekolahnya.
Di tengah keseruan gadis kecil berusia tujuh tahun itu, ia melirik ke arah laki-laki berkaus abu-abu itu. Setelah memperhatikan beberapa saat, ia berjalan mendekati dengan senyum manisnya.
"Ayo, bermain bersama!" ajaknya sembari menyodorkan sebuah boneka. "Di sini tidak ada mainan laki-laki, tapi aku punya banyak boneka lainnya. Apa kamu mau melihat?"
"Anak laki-laki tidak bermain boneka," jawab anak laki-laki itu. Ia menjawab dengan malas.
Setelah mendengar jawaban dari laki-laki di hadapannya, gadis kecil itu tampak berpikir sejenak. Kemudian memberikan boneka lebah tersebut ke pangkuan laki-laki itu dan pergi menuju dapur.
Gadis itu kembali dengan satu mangkuk lupis berjumlah empat. Tak lupa dengan disiram air gula merah serta parutan kelapa. Kue tradisional berbentuk segitiga itu membuat Niko kecil terbingung. Ia menatap Vika kecil dan mangkuk itu bergantian.
Vika sudah menyodorkan mangkuk, tetapi tak kunjung diraih oleh Niko. "Ini untukmu. Ini sangat enak. Pasti bisa membuatmu senang. Aku selalu memakan ini dengan jumlah empat, lalu ditabur dengan parutan kelapa yang banyak, karena aku sangat suka." Senyuman itu menampilkan deretan gigi.
"Tidak, aku tidak perlu itu. Pergi!" Niko mengusir dan bermain dengan tab miliknya.
Tiba-tiba saja gadis kecil itu merasa sedih. Niat baiknya ternyata dibalas dengan perkataan kejam. Tampak bibirnya melengkung ke bawah diiringi mata yang berkaca-kaca menahan sedihnya.
"Aku hanya ingin berbuat baik. Apa itu salah?" Kemudian ia berlalu meninggalkan Niko dengan sendu.
Baru beberapa langkah pergi, ia lalu terhenti.
"Tunggu!" Niko menghentikan. "Bawa ke sini! Aku tiba-tiba lapar."
Dengan hati senang ia membawa mangkuk itu dan kembali menyerahkan. Ia tersenyum dengan sisa air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Terima kasih." Terlihat wajah ragu saat melihat makanan itu. Ia memotong sedikit kue tersebut, kemudian masuk ke mulutnya diikuti dengan air gula merah serta parutan kelapa.
"Selamat menikmati!" Vika kemudian pergi, kembali bermain dengan teman-temannya.
-oOo-
Terduduk diam di atas tempat tidur, memandangi dinding kosong di depannya. Tidak benar-benar kosong, ada sebuah foto gadis di sana. Sudah pasti itu dirinya sendiri. Apa kalian berpikir itu hanya sekadar foto?
Kalian salah, itu adalah foto dirinya masih kecil. Ia bahkan tak pernah melihat foto itu sebelumnya, sekarang ia berpikir pria itu bukan sekadar menyeramkan, tapi lebih dari itu. Ketakutan sudah menguasai dirinya, hanya saja ia berpura-pura tenang.
Setelah diam beberapa lama, pria itu berdiri menghampiri gadis tercintanya beserta sebuah berkas. Ia membuka dan memberikan pada Vika, tak lupa juga sebuah pena.
"Tanda tangan itu sekarang!"
Vika menatap bingung, tetapi tetap meraih selembar kertas. Dahinya berkerut heran saat membaca sebuah kalimat mematikan yang mencabik-cabik hatinya.
"Dengan ini pihak kedua menyerahkan pihak ketiga sepenuhnya pada pihak pertama selaku calon suami dari pihak ketiga, terhitung setelah pihak kedua menerima uang sebesar Rp. 10. 500. 000. 000 dari pihak pertama."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tekan
RomanceVika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
