Di hamparan rumput hijau, seorang pria duduk di kursi taman bersama anjing doberman berwarna hitam yang selalu siap siaga. Di pangkuannya juga terdapat anjing samoyed dengan bulu berwarna putih lebat. Sore itu sangat terlihat menenangkan.
Namun, itu mungkin dari penglihatan orang lain. Sesungguhnya dari dalam lubuk hatinya ia tak pernah tenang dalam seminggu terakhir. Ia terus mencari seseorang, menunggu kabar dari orang-orang suruhannya.
"Bagaimana aku bisa menemukannya?" tanya pria itu pada peliharaannya.
"Permisi, Tuan!" Seorang pria berpakaian rapi menyapa dengan tergesa-gesa.
"Katakan!" suruh Zavi.
"Saya menemukan informasi bahwa Nona Vika akan melangsungkan pernikahan minggu depan," ungkap pria itu. Wajahnya terlihat kaku dan terus menunduk.
Sontak saat mendengar itu, Zavi langsung menoleh dan memandang dengan dahi yang mengerut heran bercampur kaget. "Apa maksudmu? Kalau sampai kamu salah informasi, habis kamu!"
"Kali ini saya yakin, Tuan. Saya mendapatkan bukti foto undangan pernikahan. Ini sangat sulit didapatkan, karena mereka hanya mengundang orang-orang terdekat," jelas pria tersebut sembari menyerahkan sebuah tablet yang menampilkan foto undangan pernikahan berwarna dominan putih.
Tubuh Zavi mematung diiringi sesak di dadanya. Bagaimana bisa perasaan yang ia simpan belasan tahun berbuah kepedihan? Matanya tak sanggup membaca dua nama lengkap yang akan melangsungkan pernikahan pada undangan tersebut.
"Ada lagi?"
"Tidak, Tuan." Seolah mengerti perasaan tuannya, ia memilih pergi. "Permisi, Tuan!"
-oOo-
Seorang gadis remaja dengan seragam sekolah putih dan biru tengah menonton video bermain piano dengan lagu yang sudah ia pelajari selama tiga hari terakhir.
"Masih Winter dari Vivaldi?"
"Jangan dipaksa kalau tidak sanggup, Vika! Aku melihatmu menonton video-video dengan lagu tersebut sudah berulang-ulang kali." Zavi merampas paksa ponsel milik sahabatnya. Seolah muak dengan hal itu.
"Zavi! Kembalikan! Aku harus belajar memainkan lagu tersebut untuk pesta ulang tahun Bunda!" Vika berusaha mengambil kembali ponselnya, tetapi Zavi terus mengangkat benda itu semakin tinggi.
"Kapan? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya saat kita les?" tanya Zavi merasa dikhianati.
Tiba-tiba Vika mengerucutkan bibirnya, ia menunduk malu. "Aku ... takut, kamu akan mengolok-olokku. Kamu sudah bisa lagu ini, bukan? Di mana aku harus menaruh wajahku?" Suaranya memelan karena malu.
"Memangnya wajahku seperti seorang perundung?" Zavi mengerutkan dahi sedikit kesal. "Sudah! Hari ini aku ke rumahmu, kita belajar bersama."
Vika mendongak dengan mata berbinar penuh harapan. "Sungguh?" Senyuman manis merekah, membuat semua keadaan di sekolah terasa senyap di pikiran pria berlesung pipi itu.
"Tapi aku menginginkan imbalan," ucap Zavi congkak.
-oOo-
Warna jingga di sore hari memancar ke dalam kamar. Menyilaukan mata seorang gadis yang tengah terlelap ke arah jendela. Saat matanya terbuka, seorang wanita paruh baya terlihat tengah membuka kain jendela sangat lebar.
Vika menggosok matanya diiringi suara rantai yang sudah membuat telinganya terbiasa. "Apa dia sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak.
"Ada apa?" Suara berat seorang pria langsung menyahut.
Vika menoleh malas ke arah pintu, melihat pria dengan kaus berkerah warna abu-abu dan topi putih. Langkahnya gagah menuju nakas di samping tempat tidur, kemudian meletak topinya. Ia memberi isyarat kepada asisten rumah tangga di sana untuk keluar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tekan
RomansaVika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
