Vika menatap rantai besi dan Niko secara bergantian, tatapan bingung gadis tersebut sangat jelas. Ia perlahan mundur saat jarak semakin terkikis, hingga punggungnya menabrak sandaran ranjang.
"Kak? I-itu untuk apa?"
Tak ada jawaban dari bibir Niko, ia dengan cepat menyambung rantai besi dengan pengait di ujung ranjang kanan dan kiri. Kemudian mengikat ujung lainnya pada pergelangan tangan Vika. Pemberontakan dari gadis itu tak memengaruhi apa pun, karena tentu energi pria tersebut lebih besar.
"Lepas, Kak! Kakak keterlaluan! Apa hak Kakak untuk melakukan ini?" Vika tak berhenti bergerak, menyentak, dan menendang semuanya. Hingga tak sengaja menendang perut Niko.
Pria itu sempat diam sejenak, tampak menghela napas panjang. Hal tersebut membuat hening seluruh ruangan, termasuk Vika yang tiba-tiba juga diam. Keberaniannya hilang seketika dan hanya tersisa jantung yang berdebar kencang.
"Aku sudah cukup baik untuk meminta tanda tanganmu. Kamu pikir aku butuh?" Niko tertawa singkat. Ia mencengkeram erat leher gadisnya. "Tanpa tanda tanganmu, aku tetap berhak atas kamu, dan apa pun tentang kamu!"
Saat keadaan yang menegangkan, dering telepon masuk dari ponsel Niko. Ia sempat mendengus kesal, lalu menerima telepon tersebut.
"Saya ke sana." Setelah menjawab, ia langsung mematikan sambungan telepon.
"Kak, lepas! Apa Kakak sudah gila?" Ia berteriak sekuat mungkin yang terkesan meluapkan rasa stresnya.
Niko hanya diam untuk sesaat sembari menatap ke arah gadisnya. Ia kemudian tersenyum manis tanpa rasa beban. Lalu terdengar helaan napas panjang darinya.
"Menurutmu? Aku gila juga karena kamu," ujar Niko seraya menyentuh pipi Vika dengan lembut.
Pastinya gadis tersebut merasa geli, baik itu akan sentuhan maupun ucapan pria itu. Andai saja ia punya keberanian yang lebih besar untuk melawan, mungkin Vika akan menendang dan menghabisi Niko. Sayangnya itu tidak mungkin, dapat berbicara dengan lantang saja ia sudah gemetar.
Niko terlihat terburu-buru dan ingin langsung pergi begitu saja. Namun, ia terhenti saat sebuah kata terucap.
"Lebih baik ini diakhiri dengan kematian daripada aku harus menikah denganmu!" Gadis itu berteriak dengan lantang.
Niko berbalik badan setelah beberapa saat Vika berbicara. "Menikah denganku itu bukan akhir, Vika." Ia tersenyum manis. "Aku ada urusan sebentar, kejutan untukmu."
-oOo-
"Lama tidak bertemu, ya, kemenakan," sapa seorang pria berusia 42 tahun dengan tubuh yang tinggi dan tegap. Pakaiannya rapi menggunakan kemeja abu-abu dengan tampilan bulu-bulu halus di sepanjang rahang.
"Aku bukan kemenakanmu, kamu tahu itu," sahut Niko yang menatap risi ketika pria di hadapannya melepas asap cerutu begitu santainya.
"Tapi kamu juga tahu Ama adalah Kakakku, bukan?" Sudut bibirnya tersenyum tipis.
Niko tiba-tiba berdiri mengambil amplop berkas berwarna cekelat dari asisten yang berdiri di belakangnya. "Dan kita juga sama-sama tahu, bahwa Ama hanya anak angkat orang tuamu, Cakra." Kemudian ia melempar amplop itu ke meja tepat di hadapan Cakra.
"Apa kamu masih menyimpan dendam karena ketidaksetujuan Kakek dan Nenekmu atas permintaanmu untuk dijodohkan dengan Vika?" Pertanyaan Cakra sangat terasa mengintimidasi bagi Niko, meski memang itu kenyataannya. Pria itu cukup mengenali bagaimana tingkah dan cara berpikir Niko.
"Aku mengundangmu bukan untuk itu. Cukup beri tahu kepada janda menjijikkan dan anak laki-lakinya itu untuk tidak mengganggu milik saya lagi. Karena saya sudah memiliki hak atas gadis itu," ucap Niko, "sepenuhnya," lanjutnya penuh penekanan.
Cakra tertawa kecil saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Ia lantas membuka isi amplop tersebut dan menemukan perjanjian yang telah ditandatangani oleh Niko, Bunda Vika, dan tentunya Vika sendiri.
"Bagaimana kamu menyakitinya untuk bisa menandatangani ini?"
"Itu bukan urusanmu, sekarang pergi!" usir Niko tanpa merasa bersalah. "Aku harus menghabiskan waktuku bersamanya," lanjutnya dengan senyum mengancam.
-oOo-
Semua makanan yang datang dan disuguhkan untuk Vika, berakhir berantakan di lantai kamarnya. Ia menendang semuanya seakan protes atas apa yang dilakukan Niko. Ia berniat untuk terus mengamuk hingga rantai itu dilepas.
Namun, rencananya tidak semudah itu. Sekarang ia ditatap dengan sangat mematikan dari jarak yang tidak begitu jauh. Seketika keberanian yang tadinya cukup kuat, tiba-tiba sirna begitu saja. Vika diam seribu bahasa.
"Kamu telah membuat semua kekacauan ini. Apa maumu sekarang?" tanya Niko berusaha tenang. Kedua tangannya mengepal erat di dalam saku celana.
"Lepaskan ini!" tegas Vika menghentakkan rantai yang mengikatnya.
Niko tampak tak bisa menahan rasa amarahnya. Ia membuang pandangan sejenak. "Makan dengan normal atau aku akan memaksamu menjilat semua makanan di lantai!"
Vika memandang pria itu dengan sinis. "Coba saja!" Ia terus berusaha membuat Niko kesal dan merasa jengkel padanya. Jika ia bisa melawan ketakutan di dirinya sendiri, bukan tidak mungkin untuk melawan Niko.
"Kamu menantangku?" tanya Niko sambil tersenyum remeh.
Tanpa basa-basi ia mendekati Vika dan menarik kuat rambut gadis itu, kemudian memaksanya turun dari tempat tidur, dan berhadapan sangat dekat dengan lantai. Niko mendorong paksa kepala gadis itu untuk menyantap makanan di lantai.
"Makan! Kamu yang menantangku, bukan? Hah?" Tak lama kemudian pria itu menghempas kepala Vika. Ia mengusap wajahnya frustrasi. "Kamu tidak bisa diperintah dengan baik-baik?"
"Laki-laki jahat sepertimu memerintah dengan baik?" Vika menatap Niko lelah dan penuh dendam. Tatapan yang sangat menjelaskan perasaannya saat itu.
"Aku tidak memintamu untuk beranggapan, bahwa aku baik!" tegas Niko, "tapi perlu kamu tahu, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu selain aku!" Jari telunjuknya mendorong pelan dahi gadis tersebut.
"Kamu bahkan tidak tahu dari mana kamu berasal," ujar Niko dengan nada pelan dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah gadisnya.
"Apa maksudnya? Aku tidak meminta bantuanmu, aku tidak dalam bahaya, dan aku tidak butuh diselamatkan olehmu!" tegas Vika dengan tangan yang masih dirantai.
Niko memandang dua bola mata Vika bergantian. Senyum kecil muncul di bibirnya. "Apa kamu berpikir Ayah dan Bunda adalah orang tua kandungmu?" tanya pria itu diakhiri tawa kecil.
"Kamu tidak mengetahui bagaimana kejamnya dunia, sayang," ucap Niko seraya mengelus lembut pipi gadis bergaun putih itu.
"Kekejamanku yang akan menyelamatkanmu." Niko lantas mengecup lembut pipi itu, tak henti, bahkan kecupan itu terus turun hingga ke leher Vika. Namun, seketika ia tersadar akan kegilaannya.
Sementara Vika masih membeku dengan kejadian yang begitu tiba-tiba. Ia hanya menatap lantai saat Niko pergi meninggalkannya begitu saja.
TBC
Komen tentang ceritanya yang banyak yaw
Don't forget to vote
KAMU SEDANG MEMBACA
Tekan
RomanceVika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
