Suara pintu tertutup membuat Vika sedikit tersentak. Ketika matanya terbuka, ia melihat pria dengan celana bahan tanpa mengenakan baju tengah menerima nampan berisi makan dan minum dari asisten rumah tangga di sana. Netranya beralih pada sebuah kemeja yang diletak pada sofa di kamar tersebut.
"Apa yang dia lakukan?" batin Vika bingung.
Gemrincing suara rantai pada tangannya juga membuat Niko teralihkan. Pria itu menoleh dan berjalan mendekat guna meletakkan nampan di nakas samping tempat tidur.
"Sudah waktunya makan malam. Sejak tadi kamu hanya tertidur sepanjang hari." Niko mengambil piring berisi nasi dengan sepotong ikan arsik.
Gadis itu menaikkan kedua bahunya, isyarat tidak tahu dan tidak peduli. "Mana aku tahu, mungkin kamu menaruh obat tidur?" sarkasnya.
"Aku meminta koki untuk memasak arsik, aku tahu ini kesukaanmu," ujar Niko sembari menyodorkan sesuap nasi dengan potongan ikan.
Sontak Vika menatap heran. "Aku bisa makan sendiri." Dahinya berkerut heran.
"Aku tahu, tapi aku mau melakukannya." Niko masih memaksa agar gadisnya menerima suapan darinya.
"Tapi aku tidak mau," jawab Vika yang terus ingin pria tersebut kesal.
"Apa sulit untuk menjadi gadis yang baik? Aku sudah berbicara sebaik mungkin." Tampak kekesalan sedikit muncul di wajahnya. Helaan napas panjang terdengar sangat berat.
"Kenapa aku harus menjadi gadis yang baik? Untuk apa? Apa kamu pernah berperilaku baik denganku?" tanya Vika kembali. Tidak masuk akal baginya jika harus berlaku baik pada orang yang tidak pernah baik dengannya sama sekali.
"Malam ini aku tidak ingin ada keributan. Cukup makan dan ini akan selesai." Niko kembali menyodorkan sesendok nasi yang tadi tidak diterima oleh Vika.
"Baiklah, hanya untuk kali ini." Vika memutar bola matanya dengan malas. Ia membuka mulut dan menerima suapan dari Niko.
Sebenarnya gadis itu sedikit tersanjung saat tahu, bahwa Niko yang meminta koki untuk memasak ikan arsik, sebab itu adalah makanan kesukaannya. Ia bahkan tidak bercerita apa pun tentang hal yang dia suka.
Niko terlihat merawat Vika dengan sangat baik. Ia memberi minum dengan sangat perlahan. Memberi beberapa suapan hingga makanan hampir habis.
"Apa yang Kakak inginkan?" tanya Vika setelah hening beberapa saat.
"Kamu bertanya untuk menawarkan sesuatu?" tanya Niko balik.
"Tentu saja tidak, aku tidak punya harta sepeserpun. Aku hanya melihat, tidak biasanya Kakak seperti ini," jawab Vika dengan mulut yang masih penuh makanan.
Niko terdiam sejenak dan tampak sedikit kesal. "Pertama, aku melakukan ini karena aku mau. Kedua, aku tidak suka kamu membahas tidak punya harta seperti itu. Katakan berapa yang kamu inginkan."
"Apa Kakak tidak lelah dengan ini? Ada banyak perempuan yang jauh lebih baik dariku dan lebih pantas dengan Kakak. Tidak sulit bagi Kakak untuk mendapatkan mereka, bukan?" tanya Vika yang sangat heran.
Pria dengan enam kotak di perutnya itu meletakkan piring di pangkuan. "Sejak kecil, aku tidak peduli pada siapa pun. Aku hanya mengobrol dan peduli dengan Neta, meski dia juga memiliki kesibukan. Begitu juga dengan Ama dan Ayah."
"Bagaimana dengan Natha?" tanya Vika santai.
"Kami memiliki sifat yang jauh berbeda. Dia sangat suka mengolok-olok dan itu membuatku kesal. Itu sebabnya aku tidak suka bermain dengannya," ungkap Niko, "tapi beberapa kali aku bertemu denganmu waktu aku masih berusia sebelas tahun, kamu orang yang peduli pada banyak orang."
Vika memandang heran dan berpikir sejenak. "Kita bertemu sejak kecil? Itu berarti aku berusia ...."
"Tujuh tahun," sahut Niko, "aku berusaha untuk tidak peduli padamu. Ternyata aku tidak bisa, tapi apa kamu tahu satu hal yang lebih penting?"
Gadis bergaun putih itu menunggu jawaban. Sementara Niko menepuk puncak kepala gadis kesayangannya, lalu turun hingga mengelus lembut pipi mulus itu.
"Aku tidak suka ketika kamu peduli dengan orang lain." Niko menatap dengan penuh arti yang dapat dirasakan oleh Vika. "Aku benci itu, Vika."
Keduanya diam dalam beberapa detik seraya diiringi tatapan mendebarkan. Tak lama setelahnya, Niko mengalihkan pandangan. Kemudian menekan tombol di dekat tempat tidur guna memanggil asisten rumah tangga.
Wanita dengan seragam khusus datang dan menunggu di depan pintu, Niko lalu mengantar nampan itu. Namun, saat itu juga Vika tersadar ada sesuatu yang janggal di bawah leher bagian belakang. Ia memberanikan diri untuk bertanya saat asisten rumah tangga pergi.
"Apa Kakak memiliki cacah?" tanya Vika secara acak.
Niko senyap sejenak, lantas mengusap cacah tulisan di bagian belakang dekat lehernya. "Ya, ini sudah lama." Ia dengan segera mengambil kemeja pada sofa dan mengenakan dengan cepat.
"Aku tidak pernah lihat," ucap Vika.
"Nanti kamu akan lihat." Hanya itu jawaban dari Niko. Pria itu lantas beranjak duduk di kasur yang sama di sebelah Vika.
Suara nyaring jangkrik menghiasi malam itu, bulan di luar juga tampak terang. Cahaya rembulan masuk melalui jendela, sebab kain penutupnya dibuka. Di tengah hening, gadis itu melihat rantai yang membuatnya tak bebas bergerak.
"Apa aku akan mati di sini dan dalam keadaan seperti ini?" tanya Vika sambil memandang ke arah jendela.
Pandangan Niko tiba-tiba beralih ke arah gadisnya. "Kamu berpikir aku akan membunuhmu?" tanyanya kembali.
"Bukan begitu. Maksudku, sampai kapan aku harus seperti ini?" Vika meluruskan pertanyaannya.
"Tidak lama lagi," jawab Niko, "jika kamu menjadi gadis yang baik dan mengikuti perkataanku, aku akan mengabulkan seluruh isi dunia untukmu."
Vika lantas memandang tak sudi. "Terdengar menggelikan," balasnya, "itu berarti ... saat ini aku tidak boleh membuat permintaan?"
"Apa kamu melakukan apa yang aku perintahkan?" tanya Niko kembali yang masih senantiasa memandang gadis di sampingnya.
Vika memanyunkan bibirnya tampak berpikir, seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Setelah berpikir beberapa saat, ia mengungkapkan idenya.
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" tawar Vika yang kali ini benar-benar menoleh ke arah pria tersebut. "Jika aku mengabulkan satu permintaanmu, maka kamu juga harus mengabulkan satu permintaanku. Begitu juga sebaliknya," usulnya.
Niko mengerutkan dahinya sejenak, terlihat menimbang ide tersebut karena sepertinya cukup berat. "Tapi aku tidak akan mengabulkan jika permintaanmu menentang keinginanku," tegas pria itu.
Vika kembali diam dan masih berpikir. "Baiklah, setiap dari kita hanya memiliki lima kesempatan untuk menolak. Bagaimana?" usulnya menambahkan.
"Itu terlalu banyak, aku tahu kamu akan sering menolak. Tiga saja." Niko tidak begitu suka penolakan, terlebih itu terkait dengan keinginannya.
"Yang benar saja? Itu terlalu sedikit, Kak. Lima itu sangat wajar, tidak banyak dan tidak sedikit." Ia melakukan protes kecil, meski ia tahu akhirnya.
"Lebih baik tiga atau kamu tidak boleh menolak sama sekali?" tanya Niko menatap mata gadisnya tak lepas.
TBC
Sepakat atau enggak?
Aku ganti username yaw
Udah up cepat nii
FYI: Cacah itu tato yaw
KAMU SEDANG MEMBACA
Tekan
RomantikVika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
