Chapter 15

378 21 7
                                        

Setelah melalui banyak tantangan dan mengharuskan dirinya menumpang dengan orang-orang, akhirnya gadis malang itu sampai di kantor polisi. Satu-satunya harapan, karena ia tak memiliki ponsel atau uang sepeser pun untuk bisa kembali.

Ia duduk dengan tangan gemetar, penampilan yang sudah berantakan, air matanya bahkan tidak lagi keluar. Vika menjawab beberapa pertanyaan dari polisi untuk laporan.

"Kami akan membuat laporan terlebih dahulu, silakan menunggu!" Polisi meminta rekannya yang lain untuk mengajak Vika ke ruangan khusus.

Polisi meminta beberapa bukti, tetapi ia tidak punya apa pun. Bahkan bukti penyiksaan di tubuhnya tidak ada sama sekali. Namun, ia menceritakan kronologi apa adanya dengan yakin.

Setelah melalui banyak proses, ia duduk menunggu sembari istirahat. Tanpa sadar ia terlelap karena terlalu lelah. Dua jam berlalu, ia terbangun saat mendengar suara-suara yang tak asing baginya. Matanya perlahan terbuka.

"Benar, Pak, saya Bundanya. Dia mengalami Delusional Disorder berat dan sedang dalam masa pengobatan. Terima kasih banyak sudah membantu." Seorang wanita paruh baya terlihat benar-benar berterima kasih. Seolah sangat menyayangi anak gadisnya. Ia juga menyerahkan surat dari psikiater.

"Tolong lain kali lebih menjaganya, ya, Bu," ujar polisi sembari berjalan ke arah Vika.

Sepasang netra Vika terbuka lebar memandang Bunda ada di hadapannya. Tubuhnya terdiam kaku tidak dapat mencerna kejadian saat ini. Hatinya perih saat mendengar tuduhan bahwa ia mengalami Delusional Disorder.

"Ayo, sayang kita pulang!" Bunda tampak tersenyum dan memeluk Vika.

Namun, gadis itu hanya diam terpaku. Ia tak membalas pelukan tersebut. Ia tak bisa berpikir jernih saat tiba-tiba Bunda berada di Bogor.

Bunda merangkul dan menuntun keluar dari kantor polisi. Vika hanya memandang ke depan dengan tatapan kosong. Setetes air matanya keluar, lagi.

Keduanya masuk ke dalam sebuah mobil Mazda 2, tanpa adanya percakapan apa pun. Ia tak sanggup bahkan mungkin tak sudi berada di samping Bundanya. Dadanya terasa sesak, ingin menangis dan berteriak. Namun, itu terasa percuma.

Saat mobil sudah berjalan beberapa kilometer dari kantor polisi, mereka berhenti. Pintu di sebelah Vika dibuka seorang pria berpakaian serba hitam, mempersilakan dirinya keluar. Ia masih tetap diam, menunggu sesuatu kata-kata yang mungkin keluar dari bibir Bunda. Namun, nihil.

Vika memilih keluar dan diarahkan untuk masuk ke mobil Lexus LM350 berwarna hitam. Di sana ia kembali bertemu dengan pria yang paling menakutkan baginya.

Jantungnya berdetak jauh lebih kencang, tubuhnya melemas, tangannya bergetar, hatinya terasa pilu, semua usahanya sia-sia. Rasanya campur aduk, antara bertambahnya kekecewaan pada Bundanya dengan rasa takut pada Niko.

"Usaha yang bagus," puji Niko datar. Ia membuka kulkas di bawah, memberikan sebotol air mineral dingin pada gadisnya.

Vika masih diam tak berkutik, tak dapat menyembunyikan ketakutannya. Air matanya terus bercucuran tanpa isak tangis, bibirnya terkunci rapat menahan rasa sakit itu.

Bahkan kantor polisi, tempat yang menjadi satu-satunya harapan, sangat mudah bagi Niko untuk memutarbalikkan fakta.

"Terima kasih, ya, sudah kembali." Niko merapikan rambut gadis di sebelahnya yang berantakan. Vika sempat sedikit menghindar, tetapi terasa serba salah.

Entah mengapa, semakin Niko bersikap tenang seperti sekarang, Vika semakin merasa terancam. Ia tak mampu berpikir apa yang akan ia dapatkan setelah ini.

"Apa yang kamu harapkan? Kabur?" tanya Niko meski sangat terkesan menyindir.

Pria dengan kaus polo putih itu mengusap pipi Vika, mulai turun ke leher, membelai lembut leher jenjang itu. Namun, sedetik kemudian, Niko mencekik leher tak bersalah itu penuh kesal.

"K-Kak!" Vika berusaha menjauhkan tangan pria itu dari lehernya. Meski ia tahu, percuma.

"Dasar jalang! Kurang ajar! Tidak tahu diuntung!" maki Niko, kemudian berpindah mencengkeram rahang gadis itu hingga bibirnya mengecil dan terbuka. Lantas menuang air mineral milik Vika langsung ke mulut gadis tersebut.

Bajunya basah, semuanya berantakan, rambutnya sudah tak dapat dikondisikan. Mata yang lelah, tak bisa berbohong.

"Aku tidak tahu harus memberi pelajaran seperti apa lagi untukmu. Sudah aku katakan, aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Apa kamu diajarkan membangkang seperti ini oleh Bundamu?" Niko memaki dan terus berteriak memenuhi mobil itu.

Netra yang tak berdaya, Vika pun tak sanggup jika harus terus kabur dan tertangkap. Matanya menatap berani pada mata lawan bicaranya.

"Bunuh aku!" ujar Vika pelan. "Bunuh aku dengan cara apa pun."

Niko tertawa kecil, ia kembali duduk dengan benar, serta bersandar pada kursi. "Sebelumnya, aku tidak ingin meneruskan perusahaan keluarga. Papa dan Ama terus memaksa, karena Neta memiliki bisnisnya sendiri, sementara Natha masih terlalu muda. Aku memberikan satu syarat pada mereka. Dan kamu tahu?"

Pria itu menyilangkan kakinya. "Mereka menurutinya. Kamu. Ini bukan perjodohan, aku yang sedari awal menginginkanmu."

"Aku tidak peduli."

"Ya, sementara mereka menutupi semua kebusukan mereka dengan senyum, berkata manis, seolah peduli pada semua tentangmu," ujar pria itu datar menghadap depan.

"Masih banyak yang belum kamu tahu. Semuanya akan terungkap," ucap Niko, "tapi sebelum itu, mari kita menikmatinya lebih dulu!" Ia mendekat ke arah Vika tanpa aba-aba, menghampiri bibir ranum itu yang terlihat melezatkan.

Vika refleks mengelak sebisa mungkin. Ia menangkis dengan dua tangan lemah itu. "Kurang ajar! Awas!" Satu tamparan mendarat sangat tepat di pipi kiri Niko.

Pria itu menerima dengan senyum, matanya memandang Vika tanpa beralih.

"Pergi cari jalangmu sendiri!" maki Vika seraya berteriak.

"Kamu ini sangat lucu. Kamu, Vika."

Keduanya sudah gila. Seorang pria yang sudah tak mampu menahan keinginannya dan seorang gadis yang tak lagi kuat untuk menapaki hidupnya sendiri.

-oOo-
Pintu kondominium dibuka,  tak begitu jelas terlihat ruangan yang gelap di sana. Pria dengan kemeja biru tua itu melangkah masuk, melepas sepatu, kemudian menyalakan penerangan. Masih hening memandangi sekeliling.

Perlahan menghampiri piano di sudut ruangan, menghadap pemandangan kota. Ia juga menyiapkan kursi panjang yang muat untuk dua orang di sana. Mengusap alat musik itu yang sudah berdebu.

Zavi mencoba duduk di sana, menekan satu nada rendah. Lantas mengusap tempat yang masih tersisa di sebelahnya. Memandangi sekeliling, hingga tanpa sadar ia tertawa perih.

Kondominium yang ia siapkan bertahun-tahun lalu. Sengaja, jika saja ia berkencan dengan sahabatnya. Setiap barang disiapkan dan ditata untuknya dan Vika. Hingga satu barang wajib, piano, menjadi bagian yang tak akan tertinggal dari keduanya.

Ia lantas kembali menatap pada piano, menarik napas sangat dalam. Mencoba tanang, meski nyatanya sangat sulit. Ia tak kuasa, jika benar sahabatnya akan menikah sebentar lagi. Hanya hitungan hari.

Di tengah kesedihan, dering ponselnya berbunyi. Dengan malas ia mengangkat.

"Saya mendapatkan informasi baru, Tuan," ujar seorang pria dari seberang.

"Langsung saja."

"Sekitar pukul sepuluh pagi, Bunda dari Nyonya Vika pergi ke Bogor menggunakan helikopter yang sama seperti helikopter saat Nyonya Vika dan Pak Niko pergi. Kemudian mereka menghampiri salah satu kantor polisi, alamatnya akan segera saya kirimkan, Tuan," ungkap asisten Zavi.

Zavi terlonjak kaget, matanya tampak serius. "Sudah kamu pastikan?"

"Sudah, Tuan. Saya yakin, saya mendapat informasi ini langsung dari orang suruhan Pak Niko untuk mengantar Bunda dari Nyonya Vika. Kami sedang menyelidiki lebih lanjut, Tuan."

TBC

Big luv buat yang udah setia
So sorry, lagi-lagi berbulan-bulan gak up, karena udah aktif perkuliahan.
Sehat² buat kita semua yaw.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 10, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

TekanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang