Vika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
Satu hal yang membuat gadis bergaun merah jambu itu bingung adalah keberadaan dirinya di kantor Niko. Ia sama sekali tidak ada kepentingan di sini. Sejujurnya ia ingin bertanya sejak tadi, tapi ia tidak berani. Ia hampir tidak pernah melihat kebahagiaan dari wajah pria itu. Selalu saja menyeramkan, seperti ingin menyantapnya.
"Apa Kakak masih ada pekerjaan?" tanya Vika memandangi tubuh tinggi dan tenggap milik Niko yang berada sedikit di depannya.
"Tidak," jawab Niko singkat.
Hingga mereka sampai di sebuah pintu. Saat pintu tersebut dibuka, ia dapat melihat jelas helikopter benar-benar di hadapannya. Ia terdiam sejenak. Pikirannya seketika kalut. Bahkan tubuhnya hanya diam di pintu tersebut.
Jika dirinya pergi menggunakan helikopter, ini benar-benar membuatnya semakin merasa tidak aman. Ia melupakan, bahwa Niko adalah orang yang sangat berada. Di bayangannya, mereka akan pergi menggunakan pesawat umum dengan first class.
Di tengah kebingungan itu semua, sebuah pesan masuk membuat gadis tersebut sadar. Ia segera mengecek pesan itu. Kening Vika semakin berkerut, tanda kebingungan semakin bertambah saat membaca pesan itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cukup lama ia berdiri menatap ponselnya sembari berpikir keras. Hingga tanpa sadar seorang pria berdiri di hadapannya, lantas merampas ponsel milik Vika. Ia berlalu begitu saja kembali berjalan menuju helikopter tak memedulikan gadis itu.
"Kak! Kembalikan! Itu ponselku! Kembalikan ponselku!" Vika terus mengejar dan berusaha merebut ponsel miliknya yang masih digenggam erat oleh Niko.
"Diam dan masuk sekarang!" tegas Niko berteriak di tengah suasana yang panas dan suara berisik dari helikopter di dekat mereka.
"Tidak! Aku tidak mau! Kembalikan ponselku! Kakak tidak berhak atas ponselku! Kembalikan sekarang! Apa Kakak membohongiku? Kakak berbohong! Di mana Ama? Mengapa hanya ada kita?" Rambut yang tergerai dan berkelahi dengan angin terus ke sana dan kemari saat gadis itu melompat-lompat mengambil ponselnya di tangan Niko.
Sementara pria tersebut tampak menggeram, tangannya semakin menggenggam erat ponsel milik kekasihnya, bahkan menampakkan jelas urat di tangannya. Tak sampai di situ, Niko dengan penuh kesal melempar ponsel itu tepat ke arah baling-baling helikopter, membuat ponsel itu terlempar jauh dan pecah tak berbentuk lagi.
Kejadiannya begitu cepat, membuat Vika kembali mematung dengan keadaan itu. Beberapa pekerja di sana juga terdiam dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Perasaan hancur, takut, bingung, dan terancam semua menjadi satu. Ia sungguh merasa janggal sedari awal, tetapi ia tak punya banyak keberanian.
Mana mungkin Vika berani kabur setelah kejadian penghancuran ponselnya yang begitu hebat. Ia menunduk di dalam rasa ketakutannya, tak berani melakukan pergerakan lainnya.
Niko mendekati gadisnya, mengelus lembut rambut itu, kemudian berbisik sembari tersenyum. "Apa kamu lebih menyukai masuk ke helikopter itu dengan cara kuseret?"