Dengan rambut yang ditarik paksa, ia masih terpikir akan kata-kata Bundanya pada bagian, "kembali pada kalian". Banyak hal yang berputar di pikirannya. Vika terlihat tetap diam dan hanya meringis kesakitan. Tak menanggapi satu pun ucapan kejam dari Niko.
"Jangan anggap sedikit kebaikanku bisa membuatmu lebih leluasa untuk melawan!" Niko lantas menghempas kepala Vika cukup kuat.
Setelahnya, suasana menjadi hening dan menegangkan. Para asisten di sana menunduk, begitu juga gadis malang yang kini ditatap tajam oleh Niko. Kini pria itu berdiri di dekat kursinya. Memandang sekeliling, lalu menunduk beberapa detik.
"Makanlah, aku akan berendam." Pria itu melangkah ke tangga menuju lantai dua.
Sekarang tersisa Vika si gadis menyedihkan, air matanya bahkan menetes di hadapan makanan. Ia tak sanggup untuk melanjutkan, tak kuasa saat ia harus makan diiringi tangisan pedih.
Kini hal yang ia tahu, dirinya bukanlah anak kandung dari Ayah dan Bunda yang kini sudah membesarkannya. Perjuangannya bekerja untuk melunasi utang serta tangisan mengingat Ayahnya yang telah pergi, apakah itu semua berarti?
-oOo-
Setelah berlama-lama di meja makan, Vika kembali ke atas. Sengaja karena ingin menenangkan dirinya, karena itu tidak akan bisa jika dilakukan di hadapan Niko. Ia menarik napas dalam dan mengembuskan sebelum masuk ke kamarnya.
Tidak terlihat keberadaan pria tersebut di sana. Bahkan rantai di tempat tidur sudah tidak ada. Vika refleks melihat ke sekeliling. Benar-benar sunyi, sepertinya Niko belum selesai berendam di kamar mandi.
Seketika matanya menatap pada pintu balkon, kainnya terbuka lebar menunjukkan hari yang sudah gelap. Kakinya melangkah ragu menuju tempat itu, perlahan membuka pintunya.
Ia memantau suasana di bawah, menatap ke sekitar. Vika mendengar obrolan singkat dari asisten tertua di rumah ini yang memberi arahan untuk mulai makan malam saat ia berjalan menuju tangga ke lantai dua.
"Sepertinya hanya ada beberapa penjaga saat ini," ujarnya masih melihat sekitar.
Ia melihat pagar yang terletak di sebelah rumah, tampak tidak begitu tinggi. Tak berpikir panjang, Vika segera mengambil beberapa baju di lemari. Ia dengan cepat mengikat membentuk tali untuk turun dari balkon.
Setelahnya ia mengikat baju-baju itu pada pagar balkon. Tepat saat penjaga masuk guna pergantian penjaga untuk makan malam, ia dengan cepat melangkahi pagar balkon kemudian turun perlahan.
Namun, baju-baju yang membentuk tali itu tak begitu panjang, sehingga ia harus melepasnya untuk mencapai tanah. Untungnya tak begitu tinggi, meski sayang pendaratannya kurang tepat, hingga membuat kaki putih mungil itu tak dapat berjalan normal.
Masih dengan piama merah mudanya, ia berlari kecil menuju pagar samping yang sudah menjadi targetnya. Sesampainya di sana, ia melihat sekeliling. Benar-benar bingung, bagaimana caranya memanjat pagar polos yang bahkan tidak memiliki celah sedikit pun.
Vika mencoba beberapa kali lompat untuk menggapai bagian atas pagar. Namun, pagar tersebut sedikit lebih tinggi dari tubuhnya, sehingga cukup sulit untuk menggapainya.
Setelah percobaan keempat ia berhasil. Ia mempertahankan dan berusaha mengangkat tubuh mungilnya dengan bertumpu pada kedua tangan. Bahkan tangan itu sempat bergetar tak mampu.
Saat sudah mengangkat tubuhnya cukup tinggi, kakinya mulai naik untuk mencapai atas pagar. Ini hal yang jauh lebih sulit baginya, sebab tubuhnya tipe torso yang panjang dibanding dengan kaki.
"Aku harus pergi, berapa pun kekuatanku yang tersisa, aku harus bisa. Ini kesempatan yang mungkin tidak akan terulang, hanya aku yang bisa menyelamatkan diriku," batin Vika menguatkan dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tekan
RomansaVika dipertemukan dengan Niko yang selalu mengekangnya, tanpa ia tahu ternyata pria itu dengan sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan mereka berdua. Gadis berusia 23 tahun itu hanya tahu bahwa mereka adalah korban perjodohan antara orang tua...
