"Bi, Jeno belum pulang?"
Satu pertanyaan dilontarkan Jaemin kepada bi Darmi yang sedang menata makanan di meja. Pria itu baru saja menyelesaikan urusan pekerjaannya, baru tiba di rumah usai hari berganti malam.
"Belum, Tuan. Nak Jeno pergi sejak tadi pagi. Pamitnya mau kerja kelompok bareng temennya."
Sontak Jaemin mengerutkan dahi. "Siapa temannya, Bi?" tanyanya lagi. Pasalnya, sejauh Jaemin mengenal Jeno, si manis itu tampak tertutup kalau soal pertemanan, kecuali pemuda berkulit eksotis yang pernah ia temui pada saat menjemput Jeno.
"Namanya Donghyuck, Tuan. Nak Donghyuck itu sahabat dekatnya Nak Jeno. Tuan Jaemin tidak perlu khawatir, mungkin Nak Jeno masih bersama Nak Donghyuck."
Jaemin berdehem singkat menanggapi penjelasan bi Darmi. Namun, saat ini pikirannya berkelana ke mana-mana memikirkan Jeno sedang bersama Donghyuck. Berdua. Jaemin cukup tahu dari gerak gerik Donghyuck, terlalu mudah dibaca. Orang peka pun tahu kalau pemuda itu menyukai Jeno.
"Tuan ingin makan sekarang atau mau mandi terlebih dahulu?"
Lamunan Jaemin buyar. Pria itu melirik sang asisten rumah tangga lalu menjawab, "Saya mau mandi dulu. Tolong buatin kopi, ya, Bi. Terima kasih." Dia berlalu meninggalkan ruang makan menuju kamar, berniat bebersih diri sekalian menunggu kepulangan si manis yang entah sedang apa saat ini.
....
"Ahh ... akhirnya bisa rebahan." Jeno menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dia baru saja sampai rumah sewanya sehabis diajak jalan-jalan Donghyuck menjajal berbagai jajanan di taman kota.
Tadi Donghyuck tidak jadi pergi nongkrong bersama teman-temannya. Donghyuck mengajak Jeno jalan-jalan menikmati kota sebelum akhirnya berhenti di taman karena ada bazar.
Perut sudah kenyang, jadi tinggal mandi setelah itu tidur. Sungguh kenikmatan yang hakiki.
Namun, niat hati ingin berleha-leha sebentar, justru sekarang ketenangannya diusik. Dering ponselnya berbunyi. Dengan perasaan malas, ia merogoh saku celananya, melihat gerangan yang meneleponnya malam-malam begini.
Sebuah nomor tak dikenal.
Jeno menekan ikon hijau yang menandakan ia menerima panggilan tersebut.
"Halo?"
Hening. Hanya suara embusan napas yang terdengar samar dari si penelepon.
Jeno mengernyit, melihat ke arah layarnya untuk memastikan jika sambungan telepon tidak terputus atau sedang gangguan koneksi.
"Halo? Ini siapa?"
Tapi untuk kedua kalinya hening. Si penelepon tak merespons Jeno.
"Kalo gitu saya matiin. Selamat mala—"
"Jeno."
Jeno terdiam membatu ketika si penelepon akhirnya bersuara. Suara bariton yang cukup berat, dan Jeno tau siapa gerangan ini.
"Lo ... gimana bisa dapet nomor telepon gue?"
Kalau Jeno sudah berbicara lo-gue itu berarti orang yang meneleponnya sudah dapat dipastikan adalah Jaemin, karena memang Jaemin yang menghubunginya. Namun, suara Jaemin terdengar berbeda saat ini. Jeno masih berusaha tetap bersikap seperti biasa dia berhadapan dengan Jaemin.
"Halo, selamat malam. Maaf menganggu waktu Anda, Tuan. Pemilik ponsel ini tampaknya telah mabuk, dia tidak sadarkan diri saat ini. Mohon datanglah kemari, Tuan."
"Saya nggak kenal, kenapa juga saya yang musti jemput?" ujarnya sewot. Nggak sudi banget ia merepotkan dirinya menjemput pelakor. Dia yang mabuk sendiri kok dia yang harus jemput.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rhapsodic
FanfictionBagaimana mungkin seorang selingkuhan malah jatuh cinta pada istri pria yang menjadi selingkuhannya? Tampak tidak masuk akal, tapi seperti inilah kenyataannya. Na Jaemin, pria cantik yang berselingkuh dengan pengusaha batu bara yang telah menikah, J...
