"Maksud lo apaan anjing?!"
Jeno menepuk-nepuk lengan Donghyuck dengan panik. "Hyuck, udah, gak papa. Kita balik aja, yuk," selanya sembari berusaha menarik pemuda itu agar menjauh dari sekumpulan pemuda di hadapannya. Tapi Donghyuck tidak bergerak sedikitpun.
"Otak selangkangan kayak lo itu gak cocok di sini. Minimal dipake otaknya. Jangan mentang-mentang lo berduit terus bisa seenaknya!"
Pemuda yang berdiri paling depan seketika tertawa terbahak-bahak. "Gak usah sok jadi pahlawan deh lo. Emangnya kenapa kalo gue berduit? Daripada lo, orang miskin. Ngapain pula sekolah tinggi kalo ending-nya tetep jadi gembel, 'kan?"
Gelak tawa penuh pengejekan itu membuat Donghyuck mengepalkan tangan. Jeno yang menyadari itu lekas menarik Donghyuck pergi menjauh dari sana. Ia tak ingin Donghyuck terkena masalah dengan pemuda-pemuda yang merupakan kating mereka itu.
Kalau Donghyuck terus meladeni, yang ada mereka bakal menjadikan Donghyuck target perundungan, walaupun Jeno sendiri yakin Donghyuck bukan tipe orang yang bakal membiarkan orang-orang menindasnya sesuka hati.
"Hyuck, aku gak papa. Makasih ya karena udah dateng tepat waktu." Jeno memeluk Donghyuck dari samping sembari mengusap-usap lembut pundak Donghyuck.
Masih terasa sedikit emosi menyelimuti Donghyuck. Jeno cuma bisa mengeratkan pelukannya harap-harap amarah sahabatnya itu reda. Kemarahan Donghyuck sendiri memuncak saat melihat Jeno dikelilingi oleh pemuda-pemuda tadi. Mereka melemparkan kalimat-kalimat tak pantas kepada Jeno yang memberontak lantaran kedua tangannya ditahan oleh dua pemuda lain, sedangkan pemuda yang diduga ketua geng sialan itu, hendak melepas kancing kemeja milik Jeno. Untunglah Donghyuck datang di waktu yang benar-benar cukup tepat. Mungkin jika ia datang terlambat, sudah dipastikan Jeno akan ... ah lupakan saja.
Donghyuck menghela napas panjang. Jemarinya lekas menyentuh tangan halus si manis yang masih mengusap pundaknya. Digenggamlah dengan erat seolah tak mengizinkan Jeno pergi ke mana-mana. Terdapat sorot khawatir yang bisa Jeno lihat dari gurat lelah itu.
"Gue takut, Je. Mau bagaimanapun ini juga salah gue. Gak seharusnya gue nyuruh lo duluan."
Jeno menggeleng tak setuju. "Nope, ini bukan salah kamu. Udah, ah, gak usah dibahas. Yuk, kita masuk, udah mepet banget nih sama kelasnya Mr. Dono."
"Tapi lo beneran gak papa, 'kan?"
"Serius, deh, aku baik-baik aja, Hyuck. Dahlah, yuk." Jeno lekas menarik lengan kemeja Donghyuck, menyeretnya paksa untuk mengikutinya. Kalau terus meladeni rasa bersalah Donghyuck, bisa-bisa mereka tidak jadi masuk kelas.
...
Jeno berjalan lesu menuju halte bus. Rambut yang semula tertata rapi itu, kini telah hilang kerapiannya. Kemeja putih yang dipadukan dengan vest rajut cokelat gelap tampak kusut dan berantakan. Risiko menjadi mahasiswa semester akhir, gebrakannya bukan main. Pengen nyerah juga sudah melangkah sejauh ini, percuma kalau Jeno tumbang padahal sebentar lagi dirinya selesai.
Hari ini entah kesalahan apa yang Jeno perbuat sehingga banyak sekali kesialan-kesialan yang tak ada habisnya menghantui. Puncaknya baru saja tadi terjadi. Ia berniat bimbingan, justru dosbingnya sedang bepergian ke luar negeri, padahal Jeno sendiri tahu kalau dosennya itu sedang kulineran dengan latar masih di sekitar kampus untuk pembuatan konten.
"Minimal kalo mau alesan tuh ya yang jelas dikit. Dia sendiri yang nyuruh aku subscribe Youtube-nya, jelas bakal langsung kelihatan notif dia pas lagi live streaming. Emang dasarnya tua bangka bau tanah!" gerutunya meledak-ledak. Jeno cuma butuh waktu, paling banyak ya dua jam untuk konsultasi progres skripsinya. Tapi ada aja huru-hara gak jelas dari dosen yang kebelet jadi konten kreator itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rhapsodic
FanficBagaimana mungkin seorang selingkuhan malah jatuh cinta pada istri pria yang menjadi selingkuhannya? Tampak tidak masuk akal, tapi seperti inilah kenyataannya. Na Jaemin, pria cantik yang berselingkuh dengan pengusaha batu bara yang telah menikah, J...
